Menguntit Senyummu

Ratu es. Itulah julukan yang disematkan kepadamu. Entah mengapa, meski begitu, hanya kamu yang bisa membuat hatiku hangat. Menatapmu, mengisi kekosongan bernama rindu. Menyelinapkan sebuah rasa, berbonus getar asmara.

Continue reading

Advertisements

Tenung

TENUNG

“Sudah kau masukkan mata kadalnya?”
“Bulu tikus cokelat siap?”
“Sepertinya kita kekurangan darah lembu!”

Riuh rendah suasana di dalam gua. Aroma amis bercampur dengan bau lembap tanah dan bebatuan. Di luar, hujan baru saja berhenti. Bulan enggan menampakkan diri. Kelam, gelap. Segelap niat empat orang wanita yang berkumpul di depan panci yang bergolak.
Continue reading

Kala Hujan di Gunung

hujan di gunung (1)

Rintik hujan masih betah menyirami bumi. Aroma petrikor menyeruak. Menghadirkan bayangan kita bergandengan, berpayung berdua.

Lengketnya tanah basah membuat langkahku semakin berat. Untunglah, sepatu gunung nomor 43 ini sudah terbukti ketangguhannya. Menemaniku mendaki puluhan gunung setiap tahunnya. Sembari kuabadikan setiap pemandangan indah, demi segenggam rupiah. Pundi yang kukumpulkan untuk melamarmu kelak.
Continue reading

Titip Salam

“Titip salam buat Nisa, ya! Jangan lupa, kasih tahu dari gue. Si keren Angga!”

Sekali lagi, aku mengawali pagi dengan pesanmu. Ucapan yang seharusnya kamu sampaikan sendiri kepada pujaanmu itu. Teman sebangkuku. Cewek tercantik di kelas. Mungkin juga bunga terindah di antara murid kelas sebelas lainnya.

Continue reading

Memberi Nyeri

memberi nyeri

Kepalan tanganku terasa panas. Di hadapanku, seorang wanita menahan napas. Aku tahu, emosinya sudah sangat memuncak saat ini. Wajahnya memerah, demi kata-kata pedas tak meluncur dari bibirnya yang berlapis lipstik cokelat.

“Doni, ini sudah ketujuh kalinya dalam semester ini, kamu menyakiti Lina. Apa masalahmu dengannya?” tanya Bu Yuli, wali kelasku. Lina tersedu-sedu memeluk Bu Yuli.

Continue reading

Pujaan Rahasia

PUJAAN RAHASIA

Binar senyumnya begitu memesona. Tersungging dari tubuh seratus delapan puluh senti dan tujuh puluh lima kilogramnya. Astaga, aku terlalu dalam mengaguminya, sampai hafal ukuran fisik, bahkan ukuran pakaiannya!

Yah, sebagai asisten perawat sekolah di waktu istirahat, menemukan data ini tak sulit bagiku. Terkadang, malah membawaku kepada kesempatan menarik. Seperti pemeriksaan fisik klub olahraga sekolah. Salah satunya, klub basket, dimana ia menjadi bintangnya.
Continue reading

Kamu Malam Itu

kamu malam itu (1)

Suara wajan yang mendesis, mengiringi lamunanku. Sementara kedua bola mata ini memandangi sesosok tubuh gemulai yang berdiri di samping lampu taman.

Sekilas, rautnya mengingatkanku pada Prisia Nasution. Eksotis, manis, menyimpan daya magis. Rok pensil selutut dan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Berpadu dengan sepatu tertutup berhak sedang. Siapa yang tak tergoda melihat si jelita dengan rambut ikal sepunggungnya.
Continue reading