Menyusulmu

Setiap aku menutup mata. Terbayang kenangan akan keluargaku. Memori pilu, menusuk bak sembilu.

Genangan darah, jerit menyayat. Erangan minta ampun, raga yang kian melemah.

Continue reading

Advertisements

Kala Hujan di Gunung

hujan di gunung (1)

Rintik hujan masih betah menyirami bumi. Aroma petrikor menyeruak. Menghadirkan bayangan kita bergandengan, berpayung berdua.

Lengketnya tanah basah membuat langkahku semakin berat. Untunglah, sepatu gunung nomor 43 ini sudah terbukti ketangguhannya. Menemaniku mendaki puluhan gunung setiap tahunnya. Sembari kuabadikan setiap pemandangan indah, demi segenggam rupiah. Pundi yang kukumpulkan untuk melamarmu kelak.
Continue reading

Memberi Nyeri

memberi nyeri

Kepalan tanganku terasa panas. Di hadapanku, seorang wanita menahan napas. Aku tahu, emosinya sudah sangat memuncak saat ini. Wajahnya memerah, demi kata-kata pedas tak meluncur dari bibirnya yang berlapis lipstik cokelat.

“Doni, ini sudah ketujuh kalinya dalam semester ini, kamu menyakiti Lina. Apa masalahmu dengannya?” tanya Bu Yuli, wali kelasku. Lina tersedu-sedu memeluk Bu Yuli.

Continue reading

Kisah di Langit

Follow your dreams (1)

Perutku berbunyi nyaring. Sepertinya segerumbul cacing gemuk yang tadi pagi kusantap tak cukup memberikan energi untuk perjalananku hari ini. Musim yang berganti, menjadi isyarat bahwa aku harus segera pergi. Mencari tempat yang lebih hangat. Membangun sarang yang baru. Bertelur dan menetaskan keturunan baru.
Continue reading

Gelembung

gelembung (2)

Di dalam air, bisa kudengar detak jantungku. Berdebar, kuat kemudian melemah. Kurasakan desir darahku. Mengalir tanpa suara, memompa oksigen lebih banyak supaya aku tetap terjaga. Kutahan napasku, berusaha supaya tak ada gelembung menyeruak ke permukaan.

Keheningan inikah yang sejatinya menjadi awal mula kehidupan? Berenang di dalam cairan amniotik rahim Ibunda? Kini, aku ingin mencari tahu, apakah suasana yang sama bisa membawaku ke alam baka.
Continue reading

Sparks

Sparks (1)

 

Percikan sinar keluar dari tongkat ajaib itu. Mama memperkenalkannya padaku 15 tahun lalu, kala aku baru saja bisa melafalkan huruf R tanpa cadel.

Kembang api.

Kuperhatikan, sepertinya nama itu muncul dari bentuk percikan cahayanya. Disulut oleh api, menghasilkan bentuk serupa bunga.
Continue reading