Menyusulmu

Setiap aku menutup mata. Terbayang kenangan akan keluargaku. Memori pilu, menusuk bak sembilu.

Genangan darah, jerit menyayat. Erangan minta ampun, raga yang kian melemah.

Continue reading

Advertisements

Transformasi

Kedua mata sipit itu seolah mendelik balik kepadaku. Alis tipis di atasnya menaik. Seiring tertariknya bibir tebal. Membentuk senyum yang dipaksakan. Rambut tebal membingkai wajah bulat. Kini lurus terurai berkat alat catok terbaru. Setidaknya, rupa titisan gorila betina bisa meluntur sejenak saat kamera menjepret wajahnya.
Continue reading

Menguntit Senyummu

Ratu es. Itulah julukan yang disematkan kepadamu. Entah mengapa, meski begitu, hanya kamu yang bisa membuat hatiku hangat. Menatapmu, mengisi kekosongan bernama rindu. Menyelinapkan sebuah rasa, berbonus getar asmara.

Continue reading

Tenung

TENUNG

“Sudah kau masukkan mata kadalnya?”
“Bulu tikus cokelat siap?”
“Sepertinya kita kekurangan darah lembu!”

Riuh rendah suasana di dalam gua. Aroma amis bercampur dengan bau lembap tanah dan bebatuan. Di luar, hujan baru saja berhenti. Bulan enggan menampakkan diri. Kelam, gelap. Segelap niat empat orang wanita yang berkumpul di depan panci yang bergolak.
Continue reading

Kala Hujan di Gunung

hujan di gunung (1)

Rintik hujan masih betah menyirami bumi. Aroma petrikor menyeruak. Menghadirkan bayangan kita bergandengan, berpayung berdua.

Lengketnya tanah basah membuat langkahku semakin berat. Untunglah, sepatu gunung nomor 43 ini sudah terbukti ketangguhannya. Menemaniku mendaki puluhan gunung setiap tahunnya. Sembari kuabadikan setiap pemandangan indah, demi segenggam rupiah. Pundi yang kukumpulkan untuk melamarmu kelak.
Continue reading

Mimikri

mimikri (1)

Jenny mematut dirinya di depan cermin. Paras serupa Selena Gomez balas menatapnya. Gaun hitam berbelahan dada rendah. Lipstik merah anggur. Bulu mata palsu nan lentik. Rambut ikal tergelung, menyisakan beberapa helai rambut di sisi telinga. Kalung berlian mungil melingkari leher jenjangnya. Akulah diva sosialita, gumamnya bangga.

Suara stiletto hitam bertali mengetuk lantai dengan tekanan pasti. Empunya melangkah percaya diri. Memasuki ruangan pesta, Jenny mulai beraksi. Berkeliling ruangan, berputar ke kanan dan ke kiri.
Continue reading