Di Balik Cerita Cinta Bobodoran Itu

JBD-24

Yihaaaa!
Kelar juga serial cinta bobodoran Jenaka Bukan Dosa. Semoga aja abis ini nggak dapet gelar penulis sok romantis binti garing kriuk hahahaha.

Kali ini…kata ganti orang pertama, diganti jadi GUE! Iya, mau rada songong nyebut diri sendiri 😀
Continue reading

Jenaka bukan Dosa: 23-Finally

JBD-23

Pandangan gue mengabur, ada titik-titik air mata mampir di sana. Gue buka pintu dan melesat menuju teras sambil menggenggam surat rahasia tadi. Nggak cuma sepiring siomay yang gue temuin di sana. Si bumbu kacang pun duduk termenung, senyum favorit gue bener-bener nggak nampak di wajahnya.

“Ian?” suara gue keluar susah payah beserta gerak-gerik yang begitu kikuk. Gue coba menatap dia lekat-lekat, membuang semua rasa malu dan harga diri.

Continue reading

Jenaka bukan Dosa: 22-Love is a Rollercoaster

JBD-22

The only feeling of real loss is when you love someone more than you love yourself.

I catch that phrase from Good Will Hunting. Will surely had a good hunting trip. Sementara hasil hunting gue akan cinta sejati, berakhir tragis. Ibarat mau nembak rusa, malah pelurunya kena kulit badak dan berbalik arah ngelukain gue. What a bummer.

Continue reading

Jenaka bukan Dosa: 21-Friend Zone No More


JBD-21

Perlahan sebuah pasir hisap muncul di bawah kaki gue. Menelan segala logika dan kesadaran gue. Mengantar gue pada zona kekalutan berbahaya dan menggores seseuatu di dalam rongga dada gue. It hurts.

Sebuah raut cool susah payah gue pasang di muka gue. Nada suara sekuat tenaga gue setting di mode super calm. Menahan semua emosi yang sebenernya berdentum keras, memaksa keluar dari segala penjuru indera tubuh gue. I am the next Hannibal Lecter. Sugesti nyeleneh gue tanemin demi tatapan dingin dan senyum palsu.

Continue reading

Jenaka bukan Dosa: 19-Wedding Crusher is Crushed

image

Detik demi detik kemudian berlalu dengan meluncurnya cerita dari mulut Erika. Gue coba menangkap maksudnya secara berurutan, walaupun masih dalam mode kebingungan yang luar biasa.

Ian mulai tertawa lagi. Ian kembali ke sikapnya semula. Hati Ian yang mulai sembuh perlahan. Ian yang begitu bersemangat menceritakan gue kepada keluarganya.

Wait, keluarga Ian tahu tentang gue? Jeez! Ini pertanda lampu sorot bakal nyala sepanjang hari di atas kepala gue di pesta itu nanti.

Di akhir cerita, Erika mengeluarkan pernyataan yang membuat gue ditimpa bom atom, “Ian menyebut lo sebagai cewek yang membuat dia merasa paling beruntung sedunia.”

Great. Keluarganya bisa menganggap gue seperti lotre, togel atau SDSB.

Jadi, di balik semua kejahilan, sikap cool, kejutan-kejutan yang membuat isi hati dan perut gue meletup-letup, ada sisi seorang Euforiano Semesta yang mendambakan kisah romantis di ujung jalan hidupnya. I’m really speechless right now.

Ketukan di pintu kamar dan suara Ian yang terdengar dari depan pintu, menyudahi pertemuan gue dengan Erika hari itu.

My job is done for today. So, I leave you lovebirds to have your quality time now,” ucap Erika sambil cipika cipiki sama gue sebelum masuk ke city carmiliknya. Mobil merah itu pun melaju diiringi lambaian tangan Erika kepada kami berdua. Gue merasa pipi gue panas seperti semangkok bakso yang baru diangkat dari panci di atas kompor. Dammitlove makes me like a fool.

Seakan tak sadar, gue pun ikut begitu saja ketika tangan Ian menggenggam tangan gue dan menggandeng pergi bersamanya. Next thing I know, we were sitting in our favorite couch at Perky Perk.

Gue mencoba mengurangi semua kegugupan dengan menyeruput cepat iced mint tea sambil berdoa dalam hati semoga Ian tidak mengangkat topic pembicaraan yang paling gue takutin. Yup, the next level topic will scare me like hell than those pocong and kuntilanak stories.

Ian mengaduk-ngaduk caramel macchiato menunggu saat yang tepat untuk memulai “pembicaraan maha penting”. Matanya tak lepas melihat gue yang gelisah tingkat tinggi bagai bencong Taman Lawang diinterogasi di Polsek terdekat.

Senyum khas Ian pun mendadak muncul di wajahnya. Oh no, I sense danger. Alarm siaga satu mulai menyala di kepala gue. Biasanya, kalo Ian udah tersenyum seperti itu, sebaris kalimat bakal keluar setelahnya, meluluhlantakkan hati dan pikiran gue.

Have you ever dreamed of us, getting married someday, Ri?”

POW!!

Sukseslah kalimat barusan meninju gue begitu kencangnya. Ian baru saja melangkah sepuluh langkah lebih jauh. And I’m so bloody screwed right now.

Gue membisu, entah apa yang harus terucap untuk menjawab pertanyaan itu. The wedding crasher is just crushed by her crush.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day60

Gambar dari sini

Jenaka bukan Dosa: 18-Getting Dressed Up

image

Attending a wedding is never my cup of tea. Until now.

Seumur hidup gue, definisi pesta pernikahan adalah festival makanan all-you-can-eat dengan dressing up sebagai kode masuknya. Kebanyakan anak cewek mungkin aja punya mimpi-mimpi indah tentang gimana wedding mereka kelak. Baju pengantin yang indah, make-up cantik, pangeran tampan bersanding sebagai pasangan, dan bunga-bunga bertebaran di mana-mana. But not me.

Partisipasi seorang Ria Jenaka di pesta pernikahan sebisa mungkin nggak lebih dari penikmat kuliner hari bahagia.

Continue reading