Menguntit Senyummu

Ratu es. Itulah julukan yang disematkan kepadamu. Entah mengapa, meski begitu, hanya kamu yang bisa membuat hatiku hangat. Menatapmu, mengisi kekosongan bernama rindu. Menyelinapkan sebuah rasa, berbonus getar asmara.

Continue reading

Advertisements

Kala Hujan di Gunung

hujan di gunung (1)

Rintik hujan masih betah menyirami bumi. Aroma petrikor menyeruak. Menghadirkan bayangan kita bergandengan, berpayung berdua.

Lengketnya tanah basah membuat langkahku semakin berat. Untunglah, sepatu gunung nomor 43 ini sudah terbukti ketangguhannya. Menemaniku mendaki puluhan gunung setiap tahunnya. Sembari kuabadikan setiap pemandangan indah, demi segenggam rupiah. Pundi yang kukumpulkan untuk melamarmu kelak.
Continue reading

Titip Salam

“Titip salam buat Nisa, ya! Jangan lupa, kasih tahu dari gue. Si keren Angga!”

Sekali lagi, aku mengawali pagi dengan pesanmu. Ucapan yang seharusnya kamu sampaikan sendiri kepada pujaanmu itu. Teman sebangkuku. Cewek tercantik di kelas. Mungkin juga bunga terindah di antara murid kelas sebelas lainnya.

Continue reading

Pujaan Rahasia

PUJAAN RAHASIA

Binar senyumnya begitu memesona. Tersungging dari tubuh seratus delapan puluh senti dan tujuh puluh lima kilogramnya. Astaga, aku terlalu dalam mengaguminya, sampai hafal ukuran fisik, bahkan ukuran pakaiannya!

Yah, sebagai asisten perawat sekolah di waktu istirahat, menemukan data ini tak sulit bagiku. Terkadang, malah membawaku kepada kesempatan menarik. Seperti pemeriksaan fisik klub olahraga sekolah. Salah satunya, klub basket, dimana ia menjadi bintangnya.
Continue reading

Kamu Malam Itu

kamu malam itu (1)

Suara wajan yang mendesis, mengiringi lamunanku. Sementara kedua bola mata ini memandangi sesosok tubuh gemulai yang berdiri di samping lampu taman.

Sekilas, rautnya mengingatkanku pada Prisia Nasution. Eksotis, manis, menyimpan daya magis. Rok pensil selutut dan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Berpadu dengan sepatu tertutup berhak sedang. Siapa yang tak tergoda melihat si jelita dengan rambut ikal sepunggungnya.
Continue reading

Magenta dan Kelabu

Get on our list (1)

Nyaris dua dekade berlalu, melihatnya seakan tak berubah ditelan waktu. Rambutnya masih pendek dengan potongan bob klasik. Tubuh seratus tujuh puluh sentinya tetap semampai. Sorot matanya yang dingin dan senyum tipis tersaput mengikutinya. Bahkan, warna pakaian yang digunakannya selalu setia. Kelabu, seolah mendung menggelayuti hidupnya.

Padahal, dari berita yang kerap kuikuti, hidupnya tidak semerana itu. Puisi-puisi ciptaannya menggema ke penjuru dunia. Sederet buku best seller, belum lagi beberapa karyanya disematkan pada beberapa film romantis yang meraup jutaan penonton setiap penayangannya. Mungkin, tema galau, kesepian, dan cinta tak sampai memang selalu sukses merebut hati pembaca. Tak jarang aku berandai, benarkah wanita secantik dirinya gagal di area percintaan?
Continue reading

Look a Like

lookalike (1)

“Bagaimana rambutku?” tanyanya dengan mata cokelat bulat yang berbinar.

“Cantik. Sangat cantik,” pujiku, membelai rambut ikal sebahu yang dicat semburat ungu tua dengan harum stroberi. Sang penata rambut langgananku mengedipkan mata. Kuselipkan dua lembar uang seratus ribu ke sela-sela jemarinya. Jemari yang telah berhasil menyulap dua belas wanita semenjana menjadi bidadari khayangan.
Continue reading