#30dayswritingchallenge Day 9 – Shadows

Shadows (1)

“Dira! Astaga, kamu kesambet apa jadi begitu potong rambutnya?!!”

Mama berteriak begitu kencang. Dari ekspresi wajahnya, mirip keselek semur jengkol. Cuma melihat potongan rambut pixie begini, lebay amat sih, batinku kesal.

“Gerah, Ma! Lagian, potongan begini bikin Dira nggak gampang dijambak pas pertandingan. Minggu lalu, Dira nonton pertandingan anak Bogor, ada yang sampai jambak-jambakan rambut panjang begitu. Malesin, kan!” cerocosku panjang lebar.

Mama menghela napas super panjang. Kalau nggak lihat badannya yang masih singset di usianya menjelang 50-an, pasti orang menyangka Mama mengidap asma dan masalah pernapasan, saking seringnya menghela napas begitu.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 8 – Dance

Dance (1).png

“Mau datang ke prom bersamaku?”

Mata hijau itu bersinar penuh harap. Senyum hangat ikut menghiasi wajahnya. Sekilas kulihat ada kedutan di sudut bibirnya. Hmmm, ia cemas menanti jawabanku rupanya.

Ada jeda di antara kami. Kediaman yang membuat suasana menjadi canggung. Wajar saja, kami cuma partner dalam kelompok di kelas Kimia. 6 bulan bersama dalam frekuensi 2 kali seminggu, tanpa interaksi lebih di luar waktu tersebut.

Sekarang, dengan mudahnya ia mengajakku datang ke pesta konyol akhir tahun. Seolah tanpa beban. Seakan aku pasti takluk pada mata teduh itu.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 7 – Beauty

Red Lipstick Revenge

Seperempat abad aku hidup, masih jawaban yang sama terlontar setiap pertanyaan ini dilontarkan.

What is your biggest fear
?

Dengan yakin, aku akan menuliskan satu kata. Lipstik.

Dijamin, hampir seluruh kaum Hawa dewasa yang kukenal di dunia akan berteriak. Kenapa, Bella?!!

Namaku memang berarti cantik dan buat mayoritas wanita di dunia, rias wajah adalah wajib untuk wanita cantik. Meskipun kata inner beauty ramai didengungkan, seraut wajah polos tanpa make-up sepertinya sama hina dina-nya dengan tidak memakai baju yang menutupi aurat.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 5 – A Friend

The purpose of art is washing the dust of (1)

Tangan lentik itu menarik lenganku dengan begitu keras.

“Berhenti, Sa! Dengarkan penjelasanku dulu!” serunya histeris.

“Sudah cukup jelas, Vi. Aku nggak perlu tanya apapun lagi,” ucapku getir.
Continue reading

Senyum yang Telah Kembali

tumblr_msxdepNKkn1qdkk86o1_500.jpg

pic from rebloggy

“Kalo gue jadi lo sih, gue putusin dia secepetnya. Di hari Valentine sekalian, biar dia kapok nggak asal mainin cowok yang beneran sayang sama dia!”

Wajahnya menyorotkan api-api semangat. Energi besar yang berbanding terbalik dengan tubuh kurusnya. Lima bulan aku mengenalnya sebagai teman sekelas, masih saja ia mengejutkanku setiap hari dengan kata-kata tajamnya. Kata-kata tajam yang alih-alih melukaiku, tetapi malah memberikanku banyak makna. Pisau yang merobek kegelapan dan menunjukkan pencerahan.

Dani masih terus bicara panjang lebar. Aku mengamati mata cokelatnya yang bersinar penuh percaya diri. Ia adalah gadis yang tak ragu mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Namun, ia bisa menyampaikan sesuatu yang pedas sambil menyelipkan senyum manisnya. Sesuatu yang baru aku sadari seminggu belakangan.
Continue reading

Aku Tak Ingin Berlari

Menggandeng angin, mengejar target di depan sana. Aku dan berlari adalah sahabat tak terpisahkan.

Kaki-kaki ini selalu penuh semangat. Mengalirkan adrenalin ke setiap laju darahku. Maju, maju, maju, teriaknya.

Hingga aku bertemu kau. Tembok tebal penuh keangkuhan. Terdiam di sudut, bersembunyi di balik bayang.

Continue reading