Perdebatan Tujuh Suara

Perdebatan Tujuh Suara (1)

Meja kayu bundar, diisi delapan kursi melingkar. Pria wanita sibuk bertengkar. Aku hanya terpaku, menatap nanar.
Continue reading

Advertisements

Transformasi

Kedua mata sipit itu seolah mendelik balik kepadaku. Alis tipis di atasnya menaik. Seiring tertariknya bibir tebal. Membentuk senyum yang dipaksakan. Rambut tebal membingkai wajah bulat. Kini lurus terurai berkat alat catok terbaru. Setidaknya, rupa titisan gorila betina bisa meluntur sejenak saat kamera menjepret wajahnya.
Continue reading

Menguntit Senyummu

Ratu es. Itulah julukan yang disematkan kepadamu. Entah mengapa, meski begitu, hanya kamu yang bisa membuat hatiku hangat. Menatapmu, mengisi kekosongan bernama rindu. Menyelinapkan sebuah rasa, berbonus getar asmara.

Continue reading

Kapsul Waktu Wendy

kapsul waktu (1)

Pohon akasia itu masih menjulang angkuh. Meskipun satu dekade telah berlalu tanpanya. Hari ini, kami kembali menjumpainya. Menunaikan sebuah janji yang pernah terucap dahulu kala.

“Kamu yakin di sini tempatnya?” tanya dara berkacamata dengan rambut lurus sebahu kepadaku. Shila, wanita yang baru kulamar minggu lalu. Sahabat karib yang naik pangkat menjadi calon istri.

“Har, coba gali di sini,” sahutku kepada Harry, sahabatku yang lain. Pria yang selalu menjadi primadona semenjak bangku SMP dulu. Kapten klub basket, ketua OSIS, pelajar teladan, berwajah tampan bak model majalah ternama. Aneh rasanya jika tak ada kaum hawa yang rela antre menjadi kekasihnya.
Continue reading

Tenung

TENUNG

“Sudah kau masukkan mata kadalnya?”
“Bulu tikus cokelat siap?”
“Sepertinya kita kekurangan darah lembu!”

Riuh rendah suasana di dalam gua. Aroma amis bercampur dengan bau lembap tanah dan bebatuan. Di luar, hujan baru saja berhenti. Bulan enggan menampakkan diri. Kelam, gelap. Segelap niat empat orang wanita yang berkumpul di depan panci yang bergolak.
Continue reading

Mimikri

mimikri (1)

Jenny mematut dirinya di depan cermin. Paras serupa Selena Gomez balas menatapnya. Gaun hitam berbelahan dada rendah. Lipstik merah anggur. Bulu mata palsu nan lentik. Rambut ikal tergelung, menyisakan beberapa helai rambut di sisi telinga. Kalung berlian mungil melingkari leher jenjangnya. Akulah diva sosialita, gumamnya bangga.

Suara stiletto hitam bertali mengetuk lantai dengan tekanan pasti. Empunya melangkah percaya diri. Memasuki ruangan pesta, Jenny mulai beraksi. Berkeliling ruangan, berputar ke kanan dan ke kiri.
Continue reading