#30dayswritingchallenge Day 7 – Beauty

Red Lipstick Revenge

Seperempat abad aku hidup, masih jawaban yang sama terlontar setiap pertanyaan ini dilontarkan.

What is your biggest fear
?

Dengan yakin, aku akan menuliskan satu kata. Lipstik.

Dijamin, hampir seluruh kaum Hawa dewasa yang kukenal di dunia akan berteriak. Kenapa, Bella?!!

Namaku memang berarti cantik dan buat mayoritas wanita di dunia, rias wajah adalah wajib untuk wanita cantik. Meskipun kata inner beauty ramai didengungkan, seraut wajah polos tanpa make-up sepertinya sama hina dina-nya dengan tidak memakai baju yang menutupi aurat.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 6 – Human Meets Nature

iris murdoch (1)

Sigh. Sigh. Sigh.

Helaan napasku semakin banyak dalam lima belas menit terakhir. Nampaknya, tekanan makin menguasaiku. Pikiran itu kembali menguasai benakku. Aku salah jurusan. Rutukan tak berujung di dalam hati.

Kulalui lorong-lorong suram, sesekali bersandar melepas penat di pilar berbatu. Mengapa pintu gerbang terasa semakin jauh? Pikirku putus asa.

Ujian Tengah Semester masih tersisa dua mata kuliah lagi. Namun, aku sudah terlanjur pesimis. IPK-ku masih sulit untuk membaik. Melihat bagaimana aku tak bisa menjawab dengan mantap dan yakin semua pertanyaan di setiap hari ujian.

Setiap aku gundah gulana karena kuliah, hanya ada satu tempat yang ingin kutuju. Lapangan rumput di sebelah barat pintu gerbang. Vitamin hijau untuk menyegarkan otak mampet dan hati hancur seperti saat ini.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 5 – A Friend

The purpose of art is washing the dust of (1)

Tangan lentik itu menarik lenganku dengan begitu keras.

“Berhenti, Sa! Dengarkan penjelasanku dulu!” serunya histeris.

“Sudah cukup jelas, Vi. Aku nggak perlu tanya apapun lagi,” ucapku getir.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 3 – Black and White

Onigiri Untukmu (1)

Kupandangi rice cooker di hadapanku. Melirik ke arah jam dinding di sudut kiri dapur. Sepuluh menit lagi. Kubiarkan dulu nasi ini sedikit tanak sebelum membentuknya. Terbayang wajah yang akan menikmatinya. Aku tersenyum.

I will put my feelings into this onigiri.

Bermula dari Vino, teman sebangkuku di kelas. Cowok dengan tampilan dingin. Pangeran Es SMA Andromeda. Entah mengapa, meskipun banyak cewek begitu takut dengannya, akulah sang anomali.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 2 – Where I Live

Maafkan aku, Kopo (1)

“Mah, Gia mau kos saja di dekat kampus,” ujarku suatu sore. Mamah yang duduk di sofa bersamaku terkejut sesaat, lalu raut wajahnya kembali melembut. “Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba mau kos?” tanyanya sambil membelai rambutku.

Aku tergugu. Lidahku kelu. Apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya? Sejurus kemudian, aku memutuskan untuk melakukan sebaliknya.

“Semester depan kuliah padat, Mah. Banyak kelas sore. Belum lagi beberapa dosen killer bakal mengajar. Alamat sering begadang buat selesaikan tugas,” jelasku. Mataku menghindar dari tatapan Mamah. Sembari dengan gelisah memilin ujung kaus oblong biru tua kesayanganku.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 1 – Self Portrait

girls (1)

Aku tersenyum.
Ia selalu muncul di jam yang sama. 60 menit sebelum tengah hari. Tidak kurang, tidak lebih.

Suara notifikasi berdenting. Menandakan aku dan dia telah memasuki chat room pribadi.

It’s time to show some love, baby!

*** Continue reading

Don’t Come Near Me

dont come near me pic

Jaket tudung abu-abu lusuh itu kembali menarik perhatianku. Tepatnya, gadis yang memakainya. Lagi-lagi, ia bermain sendirian. Mengais-ngais tanah dengan jemari lentiknya. Celana jins yang dipakainya terlihat semakin belel, bercampur dengan debu yang menghinggapinya.

Rasa penasaran kian menyergapku. Aku ingin memangsanya.
Continue reading