De Emaks Cadas Ep. 11

“Ri, I’m homeeeee!” suara teriakan Ian menggema di kuping gue.

Sebenernya, Ian udah bilang kalimat itu berkali-kali. Dia pun coba pake beberapa versi bahasa, Inggris, Jepang, Jawa, Sunda, logat Batak, logat Papua, sampe bahasa gugu-gaga “Guguege pugulagaaaang!”. Gue terlalu khusyuk mantengin forum The Hip Mama. Nebar postingan di beberapa thread. Oke, koreksi, hampir di semua thread. Nyampah kelas Bantar Gebang.
Continue reading

De Emaks Cadas Ep. 10

Gue pikir Perang Dunia bakal melibatkan senjata biologis dan nuklir kelas berat. Mirip film-film spionase box office. Ternyata…

Bukan lagi serdadu yang angkat senjata. Tapi emak-emak ambisius dan ekspektasi tinggi. Oya, plus menghakimi lebih kejam dari Judge Bao.
Continue reading

De Emaks Cadas Ep. 9

“Lo tuh butuh support group, Ri,” ujar Melanie suatu siang. Siang yang cukup terik, dihabiskan di teras belakang rumahnya. Syukurlah, mual muntah gue udah berkurang banyak sejak dua hari lalu. Mulut dan perut gue mulai sayang-sayangan lagi sama makanan-makanan enak. Seperti siang ini, nikmat banget bisa menyesap iced lemon tea dan menyerbu rujak mangga. Hidup asem!
Continue reading

De Emaks Cadas Ep.7

Pria itu berusia sekitar 50 tahun. Rambutnya memutih, namun wajahnya awet muda. Senyum dan tawa seperti melekat pada dirinya.

“Wah, Ibu bersemangat sekali ya, sampai borong testpack begini,” ujarnya sambil tersenyum simpul.

“Untung diskon, Dok. Jadi nggak nyesek amat lah,” celetuk gue sambil nyengir dan garuk-garuk kepala.

Continue reading

De Emaks Cadas Ep.5

Satu, dua, tiga…
Jemari gue mulai berhitung.

Seharusnya, gue nggak telat selama ini. Mata gue mengerjap nggak percaya. Menghitung hari-hari yang berlalu dari lingkaran merah terakhir di bulan September.

Seharusnya, gue udah dapet lima hari lalu. Biasanya siklus gue pun kurang dari sebulan, jadi wajar maju sampe 2-3 hari. Tapi, gue hampir nggak pernah telat.

Continue reading