Pujaan Rahasia

PUJAAN RAHASIA

Binar senyumnya begitu memesona. Tersungging dari tubuh seratus delapan puluh senti dan tujuh puluh lima kilogramnya. Astaga, aku terlalu dalam mengaguminya, sampai hafal ukuran fisik, bahkan ukuran pakaiannya!

Yah, sebagai asisten perawat sekolah di waktu istirahat, menemukan data ini tak sulit bagiku. Terkadang, malah membawaku kepada kesempatan menarik. Seperti pemeriksaan fisik klub olahraga sekolah. Salah satunya, klub basket, dimana ia menjadi bintangnya.
Continue reading

Kamu Malam Itu

kamu malam itu (1)

Suara wajan yang mendesis, mengiringi lamunanku. Sementara kedua bola mata ini memandangi sesosok tubuh gemulai yang berdiri di samping lampu taman.

Sekilas, rautnya mengingatkanku pada Prisia Nasution. Eksotis, manis, menyimpan daya magis. Rok pensil selutut dan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Berpadu dengan sepatu tertutup berhak sedang. Siapa yang tak tergoda melihat si jelita dengan rambut ikal sepunggungnya.
Continue reading

Magenta dan Kelabu

Get on our list (1)

Nyaris dua dekade berlalu, melihatnya seakan tak berubah ditelan waktu. Rambutnya masih pendek dengan potongan bob klasik. Tubuh seratus tujuh puluh sentinya tetap semampai. Sorot matanya yang dingin dan senyum tipis tersaput mengikutinya. Bahkan, warna pakaian yang digunakannya selalu setia. Kelabu, seolah mendung menggelayuti hidupnya.

Padahal, dari berita yang kerap kuikuti, hidupnya tidak semerana itu. Puisi-puisi ciptaannya menggema ke penjuru dunia. Sederet buku best seller, belum lagi beberapa karyanya disematkan pada beberapa film romantis yang meraup jutaan penonton setiap penayangannya. Mungkin, tema galau, kesepian, dan cinta tak sampai memang selalu sukses merebut hati pembaca. Tak jarang aku berandai, benarkah wanita secantik dirinya gagal di area percintaan?
Continue reading

Look a Like

lookalike (1)

“Bagaimana rambutku?” tanyanya dengan mata cokelat bulat yang berbinar.

“Cantik. Sangat cantik,” pujiku, membelai rambut ikal sebahu yang dicat semburat ungu tua dengan harum stroberi. Sang penata rambut langgananku mengedipkan mata. Kuselipkan dua lembar uang seratus ribu ke sela-sela jemarinya. Jemari yang telah berhasil menyulap dua belas wanita semenjana menjadi bidadari khayangan.
Continue reading

Sparks

Sparks (1)

 

Percikan sinar keluar dari tongkat ajaib itu. Mama memperkenalkannya padaku 15 tahun lalu, kala aku baru saja bisa melafalkan huruf R tanpa cadel.

Kembang api.

Kuperhatikan, sepertinya nama itu muncul dari bentuk percikan cahayanya. Disulut oleh api, menghasilkan bentuk serupa bunga.
Continue reading

Red Lipstick Revenge

Red Lipstick Revenge

Seperempat abad aku hidup, masih jawaban yang sama terlontar setiap pertanyaan ini dilontarkan.

What is your biggest fear
?

Dengan yakin, aku akan menuliskan satu kata. Lipstik.

Dijamin, hampir seluruh kaum Hawa dewasa yang kukenal di dunia akan berteriak. Kenapa, Bella?!!

Namaku memang berarti cantik dan buat mayoritas wanita di dunia, rias wajah adalah wajib untuk wanita cantik. Meskipun kata inner beauty ramai didengungkan, seraut wajah polos tanpa make-up sepertinya sama hina dina-nya dengan tidak memakai baju yang menutupi aurat.
Continue reading

C-love-R

iris murdoch (1)

Sigh. Sigh. Sigh.

Helaan napasku semakin banyak dalam lima belas menit terakhir. Nampaknya, tekanan makin menguasaiku. Pikiran itu kembali menguasai benakku. Aku salah jurusan. Rutukan tak berujung di dalam hati.

Kulalui lorong-lorong suram, sesekali bersandar melepas penat di pilar berbatu. Mengapa pintu gerbang terasa semakin jauh? Pikirku putus asa.

Ujian Tengah Semester masih tersisa dua mata kuliah lagi. Namun, aku sudah terlanjur pesimis. IPK-ku masih sulit untuk membaik. Melihat bagaimana aku tak bisa menjawab dengan mantap dan yakin semua pertanyaan di setiap hari ujian.

Setiap aku gundah gulana karena kuliah, hanya ada satu tempat yang ingin kutuju. Lapangan rumput di sebelah barat pintu gerbang. Vitamin hijau untuk menyegarkan otak mampet dan hati hancur seperti saat ini.
Continue reading