#30dayswritingchallenge Day 10 – Artificial Light

Sparks (1)

 

Percikan sinar keluar dari tongkat ajaib itu. Mama memperkenalkannya padaku 15 tahun lalu, kala aku baru saja bisa melafalkan huruf R tanpa cadel.

Kembang api.

Kuperhatikan, sepertinya nama itu muncul dari bentuk percikan cahayanya. Disulut oleh api, menghasilkan bentuk serupa bunga.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 9 – Shadows

Shadows (1)

“Dira! Astaga, kamu kesambet apa jadi begitu potong rambutnya?!!”

Mama berteriak begitu kencang. Dari ekspresi wajahnya, mirip keselek semur jengkol. Cuma melihat potongan rambut pixie begini, lebay amat sih, batinku kesal.

“Gerah, Ma! Lagian, potongan begini bikin Dira nggak gampang dijambak pas pertandingan. Minggu lalu, Dira nonton pertandingan anak Bogor, ada yang sampai jambak-jambakan rambut panjang begitu. Malesin, kan!” cerocosku panjang lebar.

Mama menghela napas super panjang. Kalau nggak lihat badannya yang masih singset di usianya menjelang 50-an, pasti orang menyangka Mama mengidap asma dan masalah pernapasan, saking seringnya menghela napas begitu.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 8 – Dance

Dance (1).png

“Mau datang ke prom bersamaku?”

Mata hijau itu bersinar penuh harap. Senyum hangat ikut menghiasi wajahnya. Sekilas kulihat ada kedutan di sudut bibirnya. Hmmm, ia cemas menanti jawabanku rupanya.

Ada jeda di antara kami. Kediaman yang membuat suasana menjadi canggung. Wajar saja, kami cuma partner dalam kelompok di kelas Kimia. 6 bulan bersama dalam frekuensi 2 kali seminggu, tanpa interaksi lebih di luar waktu tersebut.

Sekarang, dengan mudahnya ia mengajakku datang ke pesta konyol akhir tahun. Seolah tanpa beban. Seakan aku pasti takluk pada mata teduh itu.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 7 – Beauty

Red Lipstick Revenge

Seperempat abad aku hidup, masih jawaban yang sama terlontar setiap pertanyaan ini dilontarkan.

What is your biggest fear
?

Dengan yakin, aku akan menuliskan satu kata. Lipstik.

Dijamin, hampir seluruh kaum Hawa dewasa yang kukenal di dunia akan berteriak. Kenapa, Bella?!!

Namaku memang berarti cantik dan buat mayoritas wanita di dunia, rias wajah adalah wajib untuk wanita cantik. Meskipun kata inner beauty ramai didengungkan, seraut wajah polos tanpa make-up sepertinya sama hina dina-nya dengan tidak memakai baju yang menutupi aurat.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 6 – Human Meets Nature

iris murdoch (1)

Sigh. Sigh. Sigh.

Helaan napasku semakin banyak dalam lima belas menit terakhir. Nampaknya, tekanan makin menguasaiku. Pikiran itu kembali menguasai benakku. Aku salah jurusan. Rutukan tak berujung di dalam hati.

Kulalui lorong-lorong suram, sesekali bersandar melepas penat di pilar berbatu. Mengapa pintu gerbang terasa semakin jauh? Pikirku putus asa.

Ujian Tengah Semester masih tersisa dua mata kuliah lagi. Namun, aku sudah terlanjur pesimis. IPK-ku masih sulit untuk membaik. Melihat bagaimana aku tak bisa menjawab dengan mantap dan yakin semua pertanyaan di setiap hari ujian.

Setiap aku gundah gulana karena kuliah, hanya ada satu tempat yang ingin kutuju. Lapangan rumput di sebelah barat pintu gerbang. Vitamin hijau untuk menyegarkan otak mampet dan hati hancur seperti saat ini.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 5 – A Friend

The purpose of art is washing the dust of (1)

Tangan lentik itu menarik lenganku dengan begitu keras.

“Berhenti, Sa! Dengarkan penjelasanku dulu!” serunya histeris.

“Sudah cukup jelas, Vi. Aku nggak perlu tanya apapun lagi,” ucapku getir.
Continue reading