#30dayswritingchallenge Day 3 – Black and White

Onigiri Untukmu (1)

Kupandangi rice cooker di hadapanku. Melirik ke arah jam dinding di sudut kiri dapur. Sepuluh menit lagi. Kubiarkan dulu nasi ini sedikit tanak sebelum membentuknya. Terbayang wajah yang akan menikmatinya. Aku tersenyum.

I will put my feelings into this onigiri.

Bermula dari Vino, teman sebangkuku di kelas. Cowok dengan tampilan dingin. Pangeran Es SMA Andromeda. Entah mengapa, meskipun banyak cewek begitu takut dengannya, akulah sang anomali.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 2 – Where I Live

Maafkan aku, Kopo (1)

“Mah, Gia mau kos saja di dekat kampus,” ujarku suatu sore. Mamah yang duduk di sofa bersamaku terkejut sesaat, lalu raut wajahnya kembali melembut. “Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba mau kos?” tanyanya sambil membelai rambutku.

Aku tergugu. Lidahku kelu. Apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya? Sejurus kemudian, aku memutuskan untuk melakukan sebaliknya.

“Semester depan kuliah padat, Mah. Banyak kelas sore. Belum lagi beberapa dosen killer bakal mengajar. Alamat sering begadang buat selesaikan tugas,” jelasku. Mataku menghindar dari tatapan Mamah. Sembari dengan gelisah memilin ujung kaus oblong biru tua kesayanganku.
Continue reading

#30dayswritingchallenge Day 1 – Self Portrait

girls (1)

Aku tersenyum.
Ia selalu muncul di jam yang sama. 60 menit sebelum tengah hari. Tidak kurang, tidak lebih.

Suara notifikasi berdenting. Menandakan aku dan dia telah memasuki chat room pribadi.

It’s time to show some love, baby!

*** Continue reading

Writing Challenge, Let’s Get It On!

challenge1

pic from pinterest

Menantang diri sendiri adalah sesuatu yang akan membuat kita tumbuh dan berusaha menjadi yang lebih baik. Berpuas diri tentu ssaja adalah awal dari stagnansi. Terjebak dalam kotak bernama gitu gitu aja.

Sebagai penulis, selain writer’s block, gagal berkembang menjadi momok yang ditakuti. Umur bertambah, ilmu kian berisi, namun kalau ide masih berputar di daun kelor, pembaca bisa lari. Pikiran buntu pun akan semakin sering menghampiri.

Jujur, gue mulai gentar menghadapi kemungkinan ini. Tanda-tandanya? Percikan semangat dan gairah menulis mulai redup perlahan. Inilah alarm gue, penyegaran wajib hukumnya disegerakan.
Continue reading

Artikel dan Post di Media Lain dalam ODOP 2017 Week 19

Minggu lalu, karena gue dan Nara sakit, gue belum sempat menuliskan artikel dan post gue di media luar blog yang diikutsertakan dalam ODOP 2017 minggu ke-19.

Di keluarga.com, ada artikel-artikel berikut yang tertulis atas nama gue :

#post47 : Tetap modis saat hamil? Yuk, intip gaya 8 selebriti ‘bumil’ ini

#post49 : Lucunya Putri Charlotte dalam hasil jepretan sang ibunda, Kate Middleton

#post50 : Putranya mendapatkan nilai buruk, dan sang ayah memiliki respons yang luar biasa

#post51 : Ini 6 pilihan destinasi wisata ‘Instagrammable’ di Indonesia incaran para traveller

#post52 : Mengaktifkan koneksi wi-fi 24 jam. Aman atau berbahaya?

Khusus #post48  gue membuatnya sebagai status di Facebook dengan judul yang diinput “Stay and Make a Difference”

Minggu ke-19 ini memiliki beberapa highlights, dimana gue menuliskan dua artikel fashion perdana di keluarga.com. Selain itu, gue masih terus mendapatkan topik artikel dengan teknik penulisan story telling, untuk kisah-kisah inspiratif. Cukup memberi warna baru dan variasi penulisan gue yang selama ini berkutat di listicle.

Soal status di Facebook? Hmmm, katakan saja ini tumpahan kegemasan gue terhadap “perang tak berujung” di dunia nyata dan maya. Gue pun memilh untuk menyimpan kembali sisa kegemasan, karena jujur saja, agak malas berhadapan dengan kaum-kaum perusak mood serta kedamaian. #PissAh

#ODOP2017 #week20 

Selamat Datang Babak Kedua ODOP 2017

Welcoming99 days ODOP 2017part 2 (1)

Nggak terasa, gue berhasil melewati 99 hari pertama di One Day One Post (ODOP) 2017. Hingga di minggu ke-17, gue berhasil menyetorkan 45 post, dimana 30 di antaranya tayang di blog ini.

Sejujurnya, post yang bisa gue setorkan di 99 hari pertama ODOP 2017 seharusnya lebih dari 45. Mengapa? Gue terlambat menyadari, kalau artikel-artikel gue yang tayang di keluarga.com, bisa dihitung sebagai setoran penulisan. Begitu pula dengan posting di media sosial lain seperti Facebook dan Instagram. Well, anggaplah belum rezeki, ya. Kembali lagi, fokus kepada konsistensi menulis dan menghasilkan karya, apapun itu bentuk tulisannya.

Berbeda dengan ODOP 2016, dimana gue menyetor tulisan di blog nyaris setiap hari tanpa henti selama 99 hari, kali ini gue bertahan di rerata 2 posts per minggu. Kesibukan yang semakin banyak, termasuk jatah penulisan artikel yang, alhamdulillah, ditambah kuotanya menjadi 20 artikel per bulan, membuat gue memilih untuk mengurangi kuantitas post, namun meningkatkan kualitasnya pula.
Continue reading

Stop Jadi Emak Labil : Percaya Diri dengan Pilihan Gaya Pengasuhanmu

#WorldLanguageSociety (1)

Tahun ini gue akan merayakan 5 tahun resmi menjadi seorang mama. Berarti, hampir 5 tahun sudah sejak pertama kali gue menyandang status newbie mom. Hari demi hari berlalu, banyak hal yang gue pelajari untuk mengasuh anak. Mulai dari informasi di media, cerita pengalaman orang lain, maupun hal-hal yang gue alami sendiri dan gue petik hikmah atau pelajarannya.

Salah satu keputusan terbaik dalam kehidupan gue sebagai mama adalah bergabung dengan birth club sebagai support group. Di sini, gue menemukan teman-teman senasib seperjuangan, teman bertukar cerita, berbagi informasi, sampai berakrab ria, like my own girl gank. Bergabung dengan support group membuat gue bisa belajar, salah satunya untuk mengelola ekspektasi dan menjauhkan diri dari status ‘emak labil’.
Continue reading