Kamu Malam Itu

kamu malam itu (1)

Suara wajan yang mendesis, mengiringi lamunanku. Sementara kedua bola mata ini memandangi sesosok tubuh gemulai yang berdiri di samping lampu taman.

Sekilas, rautnya mengingatkanku pada Prisia Nasution. Eksotis, manis, menyimpan daya magis. Rok pensil selutut dan kemeja yang lengannya digulung hingga siku. Berpadu dengan sepatu tertutup berhak sedang. Siapa yang tak tergoda melihat si jelita dengan rambut ikal sepunggungnya.

“Naksir Mbak yang itu, Mas?” Pak Tarjo, penjual nasi goreng yang mangkal tak jauh dari lampu taman, menegurku iseng. Apakah begitu kentara, hampir setiap hari, jam tujuh hingga delapan malam, aku duduk dan makan malam di gerobak ini. Demi bisa melihat sosoknya, menunggu si jelita hingga sebuah sedan hitam mampir menjemputnya.

“Ah, palingan sudah punya pacar, Pak. Itu tiap hari selalu ada yang jemput pakai mobil,” ucapku getir. Rasa acar timun yang kukunyah seakan begitu asam, hingga memercik ke dalam jiwaku.

Pak Tarjo hanya tertawa kecil. Ia mungkin heran. Lelaki tampan dan gagah, bermobil harga nyaris semilyar, malah teronggok di gerobaknya. Terobsesi, namun kecil hati. Tak punya nyali untuk menghampiri pujaan hati.

“Yah, paling nggak kenalan aja, Mas. Daripada mati penasaran,” celetuknya.

Benar juga. Ajal bisa kapan saja menjemput. Namun, si jelita pastinya baru akan dijemput setengah jam lagi, jika melihat pola dalam satu bulan ini.

Mengais segenap nyali yang ada, derap langkahku membawaku semakin dekat padanya. Remangnya sinar lampu membawa suasana romansa yang menggelitik.

Semerbak aroma parfum vanila memancar. Membuat sesuatu mendesir dalam diriku. Si jelita memunggungiku. Jemarinya mengetik di layar sentuh ponselnya. Suara basku memecah keheningan.

“Hai, sendirian saja? Mau ditemani?” pertanyaan meluncur cepat dari mulutku begitu saja. Si jelita tak bergeming. Andai saja aku menyadari, ada headphone yang menutupi telinganya. Kuulangi pertanyaanku dengan tiga nada berbeda. Ia tetap diam saja.

Seumur hidup, belum pernah ada wanita yang tak mengacuhkanku. Entah kenapa, didiamkan begitu rupa, membuat emosiku menaik. Kucengkram keras bahunya, berteriak, “Mbak, dengarkan saya, dong!”

Si jelita tersentak. Tindakan berikutnya ganti membuatku terperanjat. Entah kekuatan dari mana menghampirinya. Gadis cantik ini menyikutku keras. Aku mengaduh. Ia berbalik badan, lalu menaruh kedua tangannya di pundakku. Oh tidak, begitu pikirku. Seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Hantaman keras lututnya mendarat di tengah selangkanganku.

Tubuh seratus delapan puluh lima sentimeterku tersungkur. Sebuah bonus menyambutku. Semprotan pedas di kedua mataku.

Gadis jelita berlalu pergi. Sambil bergumam sepenuh hati, “Dasar mesum gila!”

Teringat celetukan Pak Tarjo tadi. Ah, mati penasaran? Rasanya itu lebih baik daripada malu tak tertahankan.

 

#30dayswritingchallenge #day18 #night
#ODOP2017 #week33

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s