Magenta dan Kelabu

Get on our list (1)

Nyaris dua dekade berlalu, melihatnya seakan tak berubah ditelan waktu. Rambutnya masih pendek dengan potongan bob klasik. Tubuh seratus tujuh puluh sentinya tetap semampai. Sorot matanya yang dingin dan senyum tipis tersaput mengikutinya. Bahkan, warna pakaian yang digunakannya selalu setia. Kelabu, seolah mendung menggelayuti hidupnya.

Padahal, dari berita yang kerap kuikuti, hidupnya tidak semerana itu. Puisi-puisi ciptaannya menggema ke penjuru dunia. Sederet buku best seller, belum lagi beberapa karyanya disematkan pada beberapa film romantis yang meraup jutaan penonton setiap penayangannya. Mungkin, tema galau, kesepian, dan cinta tak sampai memang selalu sukses merebut hati pembaca. Tak jarang aku berandai, benarkah wanita secantik dirinya gagal di area percintaan?

Ah, apalah kapasitasku menilai dirinya. Nasib kita berdua sama. Melajang di usia tiga puluh lima. Pertanyaan “kapan kawin” seperti sudah membuat mati rasa. Hingga aku pun tadi tersentak. Di pesta reuni SMA ini, bekas ketua kelas kami iseng berceloteh. “Hey, Magenta dan Kelabu, hanya kalian yang belum merasakan indahnya menjadi pengantin!”

Julukan itu sontak memutar kembali memori. Dari warna yang kami puja, di situlah kami mudah dikenali. Aku, si pria penyuka merah ungu. Sudah kenyang diolok sebagai “pria pecinta janda”, hanya karena warna yang dikaitkan dengan wanita yang tak bersuami lagi. Sementara, ia dipanggil Kelabu. Warna suram yang melingkupi seluruh barang yang digunakannya. Sampai pernah satu hari aku tak sengaja mengadu pandang dengannya. Matanya pun berwarna kelabu. Entah asli atau rekaan lensa belaka.

Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk, menanyakan hal yang bertubi-tubi mengejarku sejak kemarin. “Hei, siapa pasanganmu untuk gala dinner acara Marketer’s Award besok malam? Manajer hebat, juara 5 tahun berturut-turut, masa selalu datang sendiri?” Ah, Jonas, asisten manajerku yang satu itu, selalu saja mencemaskan citra publikku. Apakah tak cukup perjalanan tim kami ke Eropa? Setelah menembus penjualan perawatan rambut tertinggi se-Asia Tenggara?

Hmmm, haruskan kali ini aku jadi lebih bernyali? Mengajaknya pergi bersama seperti masa pesta dansa kelulusan dulu? Meskipun akhirnya aku hanya tergugu di sudut ruangan. Kelabu tak datang memenuhi undangan. Kabarnya, orang tuanya terkena musibah. Pesawat mereka jatuh di lautan, kala hendak kembali ke Tanah Air untuk kelulusan putri mereka.

Kulangkahkan kaki mendekati meja minuman. Mengambil dua gelas sari jeruk, lalu menghampiri sosok yang selalu membuatku penasaran.

“Nona penulis, mau minum bersama penggemar beratmu?” godaku, gemas melihat wajahnya yang dingin dan rapuh secara bersamaan. Kelabu melihatku lekat. Entah rambut semu keunguanku atau dasi merah anggurku yang menyilaukan matanya.

“Hei, Magenta. Kamu…masih memesona seperti dulu,” ujarnya tanpa tedeng aling-aling.

“Ada acara besok malam? Aku mau menebus malam dansa yang terlewat dulu,” ajakku spontan.

Kelabu terdiam. Mata kelabunya menatapku, mencari kepastian dan ketulusan. Aku tersenyum kikuk. “Boleh saja, telepon saja aku ke nomor ini,” jawabnya sambil memberikan sebuah kartu nama.

Kelabu tiba-tiba memelukku. “Terima kasih, kamu tidak tahu betapa berartinya ini bagiku,” ucapnya lirih. Diam-diam, ia menggulung lengan blusnya, menunjukkan lengannya yang penuh bekas luka sayatan. “Tadinya, aku ingin mati, lelah akan sepi ini. Kamu, menyelamatkan hidupku.”

Ah, Kelabu, aku bukan penyelamatmu. Andai kau tahu, aku hanya ingin menuntaskan obsesiku. Bercinta satu malam denganmu.

 

 

#30dayswritingchallenge #day17 #colors
#ODOP2017 #week32

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s