Terjebak

terjebak (1)

Lengan kekar berbulu halus itu terulur kepadaku. Kutengadahkan kepalaku, memandang seraut wajah yang tersenyum tak biasa.

“Kamu nggak apa-apa?” tanyanya dengan suara yang begitu lembut. “Jadi anak cewek, mainnya yang kalem, dong,” candanya sambil membantuku berdiri.

Tangannya kini menepuk-nepuk bagian belakang rok biru sekolahku. “Ya ampun, sampai berdebu begini. Mandi dulu aja gimana? Kotor semua begitu badan kamu,” lanjutnya sambil serta merta menggandeng tanganku.

Sontak aku loncat dan mundur. “Kakak siapa? Aku nggak kenal! Mama bilang, aku nggak boleh pergi sama orang yang belum dikenal!” Suaraku meninggi. Kuberanikan diri menatap wajahnya, meskipun tinggiku yang 150 cm ini hanya sebatas dagunya.

“Ya udah, kenalan dulu biar enak. Panggil saja aku Kak Rico. Rumahku ada di ujung Jalan Merak itu,” jelasnya sambil menjabat tanganku.

Tak kusangka, ia kemudian berani mengalihkan jabatan tangan itu menjadi sebuah gandengan erat. Sebuah adegan yang biasanya kulihat di taman, antara sepasang laki-laki dan wanita yang dinamakan pacaran.

Sepuluh menit berlalu. Kulepaskan sandal jepit unguku di teras rumahnya. Masuk ke dalam ruangan dengan penerangan tak seberapa. Udara pengap, berpadu dengan bau yang mengingatkanku pada koran-koran bekas yang kehujanan.

Kak Rico kembali dengan dua gelas air minum. Tiba-tiba, ada rasa perih menusuk di bagian lututku. “Kak, punya obat merah? Lututku sakit sekali,” keluhku.

Ia beranjak menuju sudut ruangan. Dibukanya sebuah laci dan menemukan apa yang kuperlukan. “Kak, tolong obati lukaku, ya,” pintaku manja.

Kak Rico menghampiriku dengan napas menderu. Kusingkapkan rokku sedikit lebih tinggi. Tangan kokohnya menyentuh lututku, membubuhkan obat merah di lukaku.

Bibir penuhnya kini meniup-niup lututku. Sejurus kemudian, tiupan itu beralih menjadi kecupan yang perlahan naik, naik, naik. Semakin ganas tak terkendali.

Aku bergidik. Rupanya ini saatnya.

Kuhujamkan benda kecil yang sedari tadi kusembunyikan. Sebuah pisau lipat nan tajam. Tepat sasaran memotong nadi lehernya. Wajah mesum itu kini menggelepar. Meregang nyawa.

Pria asing itu kini terkulai. Aku segera pergi ke teras depan. Bersiul memberi isyarat.

Tiga orang pria datang menghampiri. Ayah, kakak, dan pamanku. Kami berhasil mendapat sumber organ untuk pesanan terbaru.

Selamat datang, lima puluh juta. Aku bisa membeli ponsel terbaru yang lama kudamba.

#30dayswritingchallenge #day16 #astranger
#ODOP2017 #week31

Advertisements

2 thoughts on “Terjebak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s