Gelembung

gelembung (2)

Di dalam air, bisa kudengar detak jantungku. Berdebar, kuat kemudian melemah. Kurasakan desir darahku. Mengalir tanpa suara, memompa oksigen lebih banyak supaya aku tetap terjaga. Kutahan napasku, berusaha supaya tak ada gelembung menyeruak ke permukaan.

Keheningan inikah yang sejatinya menjadi awal mula kehidupan? Berenang di dalam cairan amniotik rahim Ibunda? Kini, aku ingin mencari tahu, apakah suasana yang sama bisa membawaku ke alam baka.

Ratusan memori melintas sekejap. Semua meneriakkan hal yang sama, duka. Kepedihan yang kupanggul sejak belia. Cacian, tamparan, pukulan, hinaan. Segala bentuk perilaku jauh dari perikemanusiaan. Menginjak harga diriku, mengoyak jiwa suciku.

Kelebat kenangan lain mengikuti. Bagaimana aku mencoba lari dari rasa takut tak bertepi. Merajam tubuhku dengan jarum bertinta. Menghisap bubuk durjana untuk membawaku ke nirwana. Mereguk kenikmatan dalam botol beling berwarna. Semua, hanyalah utopia. Fatamorgana yang menyihirku hingga tak mampu bedakan maya dan nyata.

Kau coba ambil diri terbaikku. Enyahlah!
Aku hanya ingin diam dalam ruang sunyi. Di dalam benak kosong ini.

Hidungku mulai kehilangan pertahanannya. Molekul-molekul dua hidrogen satu oksigen itu berlarian menuju paru-paruku. Di antara sesak yang timbul, tubuhku meringan. Otakku terus berputar. Apakah artiku di dunia ini? Seperti apa kepergianku akan mengubah hari mereka.

Berapa banyak yang akan meneteskan air mata untukku? Berapa banyak yang akan mengucap namaku di dalam doanya? Berapa banyak yang akan mengenang diriku dalam lamunan mereka?

Setitik noda yang memudar, itulah diriku. Mencoba bersinar dengan warna berbeda, meski hitam kelam menjadi rona sejatiku. Kata bijakku, hanyalah kamuflase dari luka yang terus menganga. Seberapa banyak pun kasih sayang yang kuterima, apalah artinya jika aku tak mencintai diriku sendiri.

Waktuku semakin dekat. Kuraih benda yang kuletakkan sedari tadi di meja pinggir bak mandi ini. Bilah yang akan menuntaskan segalanya. Keperihan menamatkan kepedihan. Satu gerakan cepat, mengundang lautan merah. Aku melayang, terbang di atas raga yang mengambang.

Dunia pun kehilangan seorang penghuninya detik ini.

Sebuah gelembung pecah di permukaan. Mengungkap sebuah kisah tragedi, seorang lelaki yang menyerah pada keadaan.

 

Terinspirasi sebuah berita duka dari band rock favorit. RIP Chester Bennington. Mungkin isi kepala dan hatimu tetap menjadi misteri. Semoga jalanmu tak terlampau terjal di alam sana.

Playing : A Place for My Head – Linkin Park

 

#30dayswritingchallenge #day14 #water
#ODOP2017 #week29

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s