#30dayswritingchallenge Day 12 – A Face

lookalike (1)

“Bagaimana rambutku?” tanyanya dengan mata cokelat bulat yang berbinar.

“Cantik. Sangat cantik,” pujiku, membelai rambut ikal sebahu yang dicat semburat ungu tua dengan harum stroberi. Sang penata rambut langgananku mengedipkan mata. Kuselipkan dua lembar uang seratus ribu ke sela-sela jemarinya. Jemari yang telah berhasil menyulap dua belas wanita semenjana menjadi bidadari khayangan.

“Habis ini, kamu dandan sedikit. Baru ganti baju pakai ini, ya. Pasti baju kamu kotor kena potonganrambut,” kusodorkan tas belanja bertuliskan sebuah butik ternama yang letaknya bersebelahan dengan salon kelas atas ini.

Sejurus kemudian, makeup artist andalan salon terkemuka ini mulai memainkan keahliannya. Tak sampai satu jam, riasan lembut menghiasi wajah mungilnya. Menjadikan paras yang tadinya mirip anak yang baru lulus SMA kemarin sore, menjadi wanita muda menawan yang siap mendampingiku.

“Darren, this is too much,” gumamnya sambil mematut diri di depan cermin. “Ayo, lekas ganti bajumu. Jam 7 nanti, aku ada janji makan malam dengan seorang wanita super cantik,” kedipku jahil. Wajahnya bersemu merah. Lima belas menit kemudian, gaun selutut warna dusty pink dan pumps hitam klasik membuatnya semakin berkilau.

“Wow, Allie,” mulutku menganga. “Kau… Sempurna,” kataku sambil menggandeng tangannya.

“Wah, bisa mirip banget ya wajah kalian berdua,” ujar kasir salon saat aku membayar biaya make over Allie sore ini. “Ehm, katanya, kalau mukanya mirip, tandanya jodoh, lho!” celetuk Peter, sang penata rambut yang kebetulan lewat.

Allie kembali tersipu. Aku mengerti, baru saja tiga hari berkenalan denganku di sebuah acara kencan buta, tiba-tiba membicarakan takdir untuk hidup semati? Pangeran berkuda putih yang menjadikan dirinya Cinderella?

“Karen? Is that you?” sebuah suara alto menyeruak. Seraut wajah pucat pasi memandang tak percaya. “Kamu..hidup lagi?” pertanyaan yang membuat semua orang terperangah.

Ah, rupanya dia. Patty, sosok yang sangat dekat dengan kakak perempuanku. Sahabatnya sejak kecil, hingga maut memisahkan mereka.

Mata Patty sekarang beralih kepadaku. “Darren? Kamu…”

“Itu cuma perasaanmu, Pat. Karen sudah tenang di atas sana. Lagipula, aku sudah merelakannya,” ujarku tenang, menyembunyikan kegelisahan yang tiba-tiba mengusik. Patty pun beranjak pergi. Mukanya masih menyimpan keraguan. Namun, ia tahu tak ada gunanya terus mendesakku yang berkata mantap penuh keyakinan.

Di sepanjang jalan, Allie semakin membuka dirinya. Bercerita ini-itu tentang kehidupannya. Aku mencoba membagi perhatianku sembari menepiskan pikiran yang berkecamuk.

Apakah ini pertanda? Bahwa perasaanku kepada Karen belum usai? Apakah aku terlalu merindukannya? Sampai aku selalu mengubah penampilan gadis-gadis incaranku supaya sama dengannya?

Sepertinya, aku bukan mencari jodoh. Aku ingin terus menghidupkan fantasiku. Menjalin asmara, bercinta, atau mungkin menikah dengan kakak kembarku tersayang. Meski kami berbeda dunia. Walaupun bertabir gadis berwajah serupa.
#30dayswritingchallenge #day12 #aface
#ODOP2017 #week28

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s