Sesal

sesal (1)

Perempuan itu terlihat cantik. Terbaring, terpejam, wajahnya memancarkan kelembutan. Sesuatu yang sebelumnya hilang ketika ia terjaga dan masih berdiri. Silih berganti mereka datang dan pergi. Mengungkapkan suara yang serupa. Penyesalan.

***

 

Maafkan aku, Sayang.
Aku tak bisa menjadi pendamping dan pemimpinmu.
Tak hiraukan teriakan minta tolongmu.
Kuanggap angin lalu, luapan emosi seorang ibu baru.
Aku lalai tak menemanimu.
Dengan alasan, nafkah yang kukejar dengan tulang terbanting.
Mengutamakan panggilan atasan daripada permohonan bantuanmu.

Maafkan aku, sayang.
Meletakkan semua tanggung jawab di bahumu.
Lebih percaya omongan orang lain dari belahan jiwa janji setia.
Meremehkan kemampuanmu.
Menuntutmu untuk menjadi wanita sempurna.
Padahal, kau sama sepertiku, hanya manusia biasa.

Maafkan aku, Sayang.
Aku sangat menyesal.

***

 

Maafkan Ibu, Nduk.
Ibu menekanmu sedemikian rupa.
Mencekokimu dengan saran penuh paksaan.
Memandang cara pengasuhanmu sebelah mata.
Ego Ibu yang tak rela
Ingin menjadi panutanmu, bukan buku-buku itu.

Maafkan Ibu, Nduk.
Selalu mempertanyakan pilihanmu.
Menghakimimu tanpa berpikir jernih.
Beda generasi, tentulah beda pemikiran.
Padahal, kita sama-sama tujuan.
Ingin sang jabang bayi tumbuh sehat dan bahagia.

Maafkan Ibu, Nduk.
Ibu sangat menyesal.

***

 

Maafkan aku, sahabatku.
Sibuk tak tentu, melupakan dirimu.
Berpuluh, beratus pesan dan panggilan.
Kupikir kau butuh waktu sendiri.
Hidup lajangku jadi alasan.
Tak nyaman karena tak dapat cukup perhatian.

Maafkan aku, sahabatku.
Kulupa bahwa kau butuh teman berbagi.
Seseorang yang bisa bicara tengah malam sampai pagi.
Sahabat yang menerimamu apa adanya.
Membuatmu dapat bicara lepas dan tertawa bersama.
Sekarang, semua ikatan seakan sirna.

Maafkan aku, sahabatku.
Aku sangat menyesal.

***

Maafkan Dito, Ma.
Dito nggak bantu Mama.
Dito nggak nurut sama Mama.
Dito nakal sama adik bayi.
Dito marah-marah terus sama Mama.

Maafkan Dito, Ma.
Dito mau jadi anak baik.
Dito mau ikutin kata Mama.
Dito mau tolong Mama jagain adik,
Dito lakuin apa saja, Ma.

Maafkan Dito, Ma.
Dito menyesal.
Dito mau Mama bangun.

***

 

Satu persatu orang-orang tersayangku duduk di samping ranjang. Kudengarkan lirih ucapan mereka. Tetesan air mata membasahi tanganku. Sembari mereka bicara dan menggenggamnya erat. Luka sayatan di pergelangan tanganku tak terasa nyeri lagi. Tubuhku terasa ringan. Lidahku malah yang masih berat untuk bergerak. Ingin berucap, “Aku memaafkanmu.”

Suara-suara memekakkan di dalam kepalaku telah pergi. Tak ada lagi yang menyuruhku melakukan perbuatan nista itu. Hingga akhir, aku bisa menahan diri untuk tak mengambil nyawa bayi mungilku. Meskipun pengorbanan besar yang kubuat untuk mengusir mereka, enyah dari hidupku selamanya.

Kupandang terakhir kali wajahku. Senyum tipis nyaris tak kentara, berhasil kuperintahkan otot-ototku untuk membentuknya. Senyum penjawab segala sesal mereka.

Perlahan aku kembali ke dalam raga. Meninggalkan udara yang semula menyelimuti diriku yang melayang.

Ah, rupanya ia telah tiba. Sang penjemput yang sudah dituliskan takdirnya bagiku.

***

“Keadaan pasien sudah lebih baik. Masa kritisnya sudah lewat. Sekarang, pasien bisa dipindahkan ke kamar perawatan normal. Mohon dijaga baik-baik, ya. Kondisi depresi pasca melahirkan ini bukan keanehan atau kegilaan. Mereka butuh didengar, didampingi, dan diperhatikan.”

Kata-kata menyejukkan yang kudengar dari mulut dokter yang menyelamatkan jiwaku. Entah mengapa, aku yakin hidupku takkan pernah sama. Sesal-sesal mereka memecutku untuk kembali percaya. Bahwa Tuhan ingin aku hidup lebih lama dan lebih baik, tentunya.

#30dayswritingchallenge #day11 #outsidein
#ODOP2017 #week27

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s