#30dayswritingchallenge Day 10 – Artificial Light

Sparks (1)

 

Percikan sinar keluar dari tongkat ajaib itu. Mama memperkenalkannya padaku 15 tahun lalu, kala aku baru saja bisa melafalkan huruf R tanpa cadel.

Kembang api.

Kuperhatikan, sepertinya nama itu muncul dari bentuk percikan cahayanya. Disulut oleh api, menghasilkan bentuk serupa bunga.

Setiap Sabtu malam, Mama akan mengajak kami ke halaman. Menyalakan sekotak kembang api bersamaku dan Kak Vito. Tertawa bersama, memperhatikan kedua anaknya riang bermain.

Sekali waktu, tak sengaja aku memegang tongkat yang masih panas. Mama tetap tenang. Tanpa panik atau menangis, aku bisa menahan nyeri pada tanganku. Sementara Mama mengoleskan jeli ajaib di tanganku. Jeli yang bisa menyembuhkan berbagai luka dan lebam.

Tradisi bermain kembang api ini terus berlanjut. Aku selalu menampik ajakan teman-temanku untuk nongkrong di malam Minggu. Pun ada beberapa lelaki yang ingin beromantis ria denganku, mendapatkan jawaban yang sama.

Saat ini, memiliki kekasih bukan tujuan hidupku. Ada orang lain yang butuh kasih sayang penuhku. Mengejar waktu yang seperti nyala lilin, kian meredup seiring menit berlalu.

Mama, ia sedang berjuang. Mempertahankan napas dan keberadaan jiwanya di dunia. Meski sel-sel hitam menggerogoti tubuhnya. Walaupun vonis maut telah jatuh untuknya.

Pesta kembang api kami terus berjalan. Suasana yang membuat Mama terus tersenyum. “Selama kembang api terus menyala, harapan masih ada, Vira,” jawabnya ketika aku bertanya, sampai kapan tradisi ini berlanjut. Aku tak sampai hati, melihatnya memaksakan diri. Menerjang hembusan angin malam. Di balik selimut dan baju hangat wolnya.

Kini, aku begitu cemas. Sudah 4 hari Mama jatuh ke dalam koma. Nyawanya seperti ada dan tiada. Kak Vito tak kuasa menahan tangisnya tadi sore.

“Bagaimana kalau ini garis finisnya, Vir? Bagaimana kalau ini hari terakhir kita bersama Mama?”

Kak Vito yang selama ini begitu tegar. Berusaha sekuat tenaga menjadi sosok pengganti almarhum Papa. Melindungi keluarga dengan segenap daya upaya.

Sayang, ajal dan malaikat maut, keduanya akan menembus tebalnya pertahanan kami. Sudah tertulis dalam suratan takdir. Mama dapat dijemput kapanpun Sang Kuasa berkehendak.

Malam ini, kembang api harus tetap menyala seperti biasa.

Kuajak Kak Vito ke pelataran parkir rumah sakit. Menyulut tangkai-tangkai yang begitu familier di genggaman tangan.

Kali ini, pesta kembang api kami tak dihiasi tawa canda. Hanya ratapan tanpa suara dan gumaman doa mengiringi pijaran cahaya.

Mama, pergilah, kami sudah rela. Kau sudah cukup tegar untuk bertahan. Walaupun nyala ini lenyap dari tongkat ajaib, kehangatannya akan terpelihara di dalam hati. Teruntai kenangan indah, bayanganmu nan rupawan, dan kata-kata lembut yang selalu terngiang.

Aku dan Kak Vito saling berpandangan. Ketika pesta telah usai dan selimut putih menyelubungi sekujur tubuh bidadari pujaan kami.

Rest in peace, Mama.
Your love will be the eternal sparks that light our path.
Here, there, and everywhere.

 

 

#30dayswritingchallenge #day10 #artificiallight
#ODOP2017 #week24

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s