Aku bukan Kamu

Shadows (1)

“Dira! Astaga, kamu kesambet apa jadi begitu potong rambutnya?!!”

Mama berteriak begitu kencang. Dari ekspresi wajahnya, mirip keselek semur jengkol. Cuma melihat potongan rambut pixie begini, lebay amat sih, batinku kesal.

“Gerah, Ma! Lagian, potongan begini bikin Dira nggak gampang dijambak pas pertandingan. Minggu lalu, Dira nonton pertandingan anak Bogor, ada yang sampai jambak-jambakan rambut panjang begitu. Malesin, kan!” cerocosku panjang lebar.

Mama menghela napas super panjang. Kalau nggak lihat badannya yang masih singset di usianya menjelang 50-an, pasti orang menyangka Mama mengidap asma dan masalah pernapasan, saking seringnya menghela napas begitu.

“Kamu yang aneh. Bukannya ikut unit kesenian tari, eh malah ikutan klub basket kampus. Anaknya juara tari nasional kok malah loncat-loncatan brutal di lapangan!” dengusnya kesal.

Here we go again.

Dua puluh tahun aku kenyang dikuliahi ini oleh Mama. Dira harus feminin. Dira harus berambut panjang. Dira harus pakai baju paling modis. Dira wajib punya pacar ganteng, pintar, dan kaya. Dira harus jago nari dan jadi primadona di panggung. Intinya, Dira harus jadi seperti Mama. Kalau bisa, lebih dari Mama.

Same old crap.

Mama lupa. Aku bukan dia. Aku mengidolakan Mas Yudha dan Mas Dion, dua kakak laki-lakiku tersayang. Mereka yang mengajariku serunya bermain basket. Mengajakku bermain bebas di alam. Memintaku untuk menjadi cewek kuat, tegar, dan mandiri. Supaya aku tidak menangis bombay, bila saatnya mereka tidak ada di sampingku, seperti saat ini. Mas Yudha menikah tahun lalu dan bekerja di Surabaya. Mas Dion akan kuliah S2 dan S3 di Inggris, setidaknya sampai 5 tahun mendatang.

Selama ini ada mereka yang membelaku. Sekarang, aku harus menghadapi ini sendirian. Mamaku sendiri yang sepertinya berat untuk membiarkanku tumbuh apa adanya. Bukan merana dan tertekan di balik bayang-bayangnya.

Aku bosan diatur sedemikian rupa. 3 tahun mengantungi KTP, masih juga aku disetir segalanya.

Di satu sisi, aku mengakui kehebatan Mama. Wanita yang tegar dan gigih. Sepeninggal wafatnya Papa 8 tahun lalu, Mama tak berminat menikah lagi. Ia membanting tulang, bekerja giat. Posisinya sebagai Finance Manager dengan level sejajar Vice President di sebuah perusahaan FMCG multinasional bukanlah hasil membangun seribu candi dalam semalam. Iron Lady, kudengar itulah julukan Mama di kantor. Namun, di balik sikapnya yang tangguh, Mama menyimpan kelembutan. Kepedulian sosialnya yang tinggi, membuatnya dicintai banyak orang, terutama mereka dari kalangan bawah.

Mama memang terlalu sempurna.

“Oh ya, Tante Yulia bilang, Sabtu depan Tiana akan berulang tahun ke-21. Ada pesta di rumahnya. Kamu jangan lupa datang. Mama sudah pesankan dress di butik. Lusa, kamu ambil ya di butik Tante Rita,” Mama memberi perintah kembali.

Haduh! Super duper males les les!

Tiana, si queen bee campur titisan ular sawah. Heran, kenapa Mama semangat banget menyuruh aku sahabatan sama dia. Jelas-jelas dunia kita jauh berbeda. Hanya karena Tante Yulia dan Mama bersahabat akrab di kantor, bukan berarti aku dan Tiana juga harus melakukan hal yang sama.

Tiana, si muka dua itu sama menyebalkannya. Berbaik-baik kalau ada Mama. Di kampus, dia malah semena-mena. Kalau saja aku nggak dilindungi oleh cowok-cowok klub, pasti dia udah makin menggila menindasku. Bergaul sama dia, lebih mematikan jiwa daripada nenggak racun tikus, bleh!

Cewek-cewek di kampus, susah banget cari yang satu frekuensi. Kalau bukan tipe social climbers, queen bee wannabe, sisanya tinggal kutu buku gila nilai.

Satu-satunya sahabat cewekku, cuma Runa. Si cewek yang juga dicap “aneh” oleh Mama. Hanya karena ia tak punya keluarga sempurna. Ibunya bercerai setelah mengalami KDRT dan hingga kini tenggelam dalam trauma. Untung saja, Runa mendapatkan kasih sayang dari kakek dan neneknya dengan luar biasa. Aku tahu, di balik keceriaan dan kekonyolannya, tersimpan duka dan lara yang begitu mendera. Runa tak melanjutkan kuliah di universitas selepas SMA. Ia memilih masuk sekolah mode sambil magang dan mengejar mimpinya menjadi fashion stylist.

Makanya, aku lebih memilih gabung sama jomblo ngenes yang setia kawan macam Tito, Pandu, Willy, dan Hardi di kampus. Setidaknya, mereka tulus berteman denganku dan lebih punya prinsip serta tata krama ketimbang geng Tiana yang sebelas dua belas dengan kolonialis VOC.

Suara notifikasi berbunyi dari ponselku. Sepertinya Jones Boys mulai menanyakan keberadaanku.

“Ya udah, Ma. Dira nanti datang ke pestanya Tiana. Tapi, Dira mau pilih baju sendiri. Nanti biar Runa yang pilihin. Selera dia nggak pernah salah,” tukasku cepat. “Dira mau mandi dulu ya, Ma. Anak-anak mau jemput Dira latihan nanti jam empat,” lanjutku mengambil langkah seribu ke kamarku di lantai dua.

Aku tak peduli wajah seperti apa yang ditunjukkan Mama. Akan kuturuti kemauannya, namun tetap dengan caraku. Menurutku, itu adalah win-win solution yang setidaknya membuat bebanku sedikit lebih ringan.

***

“Gimana, oke kan pilihan Runa?” tanyaku pada empat jones di hadapanku yang sedang bertampang (sok) serius menilai bak juri kompetisi top model. Runa terkikik geli di belakangku, melihat muka Tito, Pandu, Willy, dan Hardi yang bertekuk-tekuk.

Jumpsuit warna merah marun dengan celana berkerut di mata kaki, berpadu dengan bolero hitam. Sepatu datar hitam klasik yang ternyata nyaman sekali di kakiku. “Badan kamu udah proposional, Dir. Nggak perlu juga pake high heels. Lagian mau dateng pool party, yang ada nanti kamu terpleset dan kecebur, basah kaya kecebong,” celetuk Runa sambil tertawa renyah.

“Kalau aku sih, yes. Ndak tahu Mas Anang,” ujar Pandu dengan logat medok khas Yogyakarta-nya.

Kontan saja, komentar Pandu disambut jitakan dari rekan-rekan jonesnya. Ehem, Pandu pun tersipu, apalagi melihat Runa yang tak berhenti tertawa. Ya elah, ada yang witing tresno jalaran soko kulino rupanya.

Runa memang sering ikut bergabung bersama kami. Apalagi, kantor magangnya terletak tak jauh dari hall yang biasa kami gunakan untuk latihan basket. Dengan Runa yang manis dan menyenangkan, aku nggak heran kalau salah satu jones itu jatuh hati padanya.

Kembali ke pesta Tiana, perayaan meriah yang tidak main-main memang ia gelar kali ini. Menyewa sport club di kompleks perumahan mewah miliknya, Tiana betul-betul ingin menegaskan eksistensinya sebagai Rau Laut Kidul, eh, maksudnya Ratu Fakultas Ekonomi kampus kami.

Aku melirik ke arah sudut kanan, ada sebuah ruangan, di dalamnya tampak Tante Yulia bersama rekan-rekan kantornya. Salah satunya Mama, yang sedang berbincang dengan Om Bram, salah satu General Manager di kantornya.

Miris memang. Menghamburkan uang begitu rupa, hanya untuk pamer dan menjilat. Aku selalu menolak setiap Mama menawarkan apakah aku ingin menggelar pesta. Biasanya, aku meminta uang tunai dana yang dialokasikan Mama. Kutabung sebagian dan sisanya kupakai traveling ala backpackers bersama Runa dan Jones Boys. Aku menyisihkan uang sedikit-sedikit, untuk suatu hari nanti menengok Mas Dion di Inggris. Sepertinya, aku tertarik untuk melanjutkan pendidikan di sana suatu saat nanti.

Kemana si ratu ular sawah? Kenapa tidak kelihatan batang hidungnya?

Tiba-tiba, muncul keinginanku untuk pergi ke kamar kecil. Sepertinya tadi aku terlalu banyak minum di mobil Willy yang AC-nya dinyalakan sangat dingin.

“Na, temenin aku ke toilet, yuk!” ajakanku membuat muka Pandu yang sedang mengobrol dengan Runa menjadi sedikit mendung. “Bojomu tak pinjem sik, yo Mas!” (istrimu kupinjam dulu ya, Mas! – terj.) seruku usil, membuat Pandu salah tingkah.

Di toilet, aku masuk lebih dulu dan Runa menunggu di luar. Rupanya, ada telepon dari editornya di kantor. Saat aku mencoba memakai kembali jumpsuit, terdengar suara-suara yang sangat kukenal. Tiana dan dayang-dayangnya memasuki toilet.

Ih, lo liat nggak si kampungan itu? Dateng sama pasukan menyedihkannya. Bikin pesta gue ternoda aja!” suara Tiana yang cempreng dan centil membahana di ruangan.

“Tapi tumben, dia dandan malam ini, jadi kelihatan beda. Kaya cewek beneran,” ujar Nisya, salah satu dayang Tiana, yang memang kunilai paling kalem di antara trio macan ompong kaki tangan Tiana.

“Yah, biar suka keliatan kumel, nyokapnya kan punya jabatan. Dia bukan itik buruk rupa banget. Masih punya modal,” celetuk Eva, si cewek matre, tangan kanan Tiana.

“Dira sama lo, tajiran mana, Ti?” tanya Flora, si gadis tulalit, yang suka mengajukan pertanyaan aneh.

“Ah, harusnya, nyokap gue itu jadi atasan nyokapnya si kampungan. Kalo kata nyokap, yah, namanya bos cowok, lebih doyan janda, daripada wanita yang punya suami, hahahaha!” tawa Mak Lampir menggema di dalam toilet. Sementara aku di dalam bilik, menahan napas dan amarah yang membuncah.

Hingga akhirnya, aku memutuskan untuk melakukan hal yang kuanggap paling tepat. Kurekam pembicaraan Tiana dan dayang-dayangnya menggunakan ponselku.

“Eh, tahu nggak? Nyokap gue cerita, nyokapnya Dira, janda sok suci itu, bakalan out sebentar lagi. Pokoknya akan ada gerakan buat menjatuhkan dia. Lagian, jadi orang terlalu tegas banget. Manajer apa Jenderal sih, terlalu disiplin macam di sekolah militer aja!” Tiana terus mengeluarkan kata-kata berbisa dari mulutnya.

Kalau saja aku tak ingat, rasanya ingin kubombardir segala jenis sumpah serapah. Sabar, Dira. Your time will come, bujuk hati kecilku.

“Pokoknya, nanti kalo proyek rahasia nyokap jebol, si kampungan bakal jadi gembel beneran dan kita semua bisa jalan-jalan ke Eropa gratis! Asyik kan!” Tiana dan trio macan ompong tertawa jahat bersama. Aku rasa, kuntilanak pun ogah bergabung dengan mereka karena punya hati nurani.

Ponsel salah satu dari mereka berbunyi. Ternyata, punya Tiana.

“Ya, Edo sayang. Oke, aku ke sana sekarang. Kamu udah selesai nge-DJ ya? Nanti temenin aku tiup lilin. First cake aku kan buat kamu,” suara genit sok manja Tiana membuat isi perutku ingin keluar seketika.

“Udah, yuk. Saatnya gue tampil nih. Do I look gorgeous?” suara ratu ular meminta persetujuan.

“Keren banget, Tuan Putri!” ucap trio dayang serentak.

Sementara, gue menunggu langkah kaki mereka menjauh dan pintu tertutup.

Game on, Queen Bee!

***

Aku bergegas menuju ruangan executive club. Sejurus kemudian, kutemukan Mama dalam balutan gaun hitam klasik, sedang mengambil orange juice di meja bar.

“Dira?” suara Mama tak percaya. “Kamu… Cakep lho dandan begini,” pujinya tiba-tiba. Heh? Tumben Mama lagi bener otaknya.

“Ayo sini, Mama kenalin sama Om Bram. Anaknya lagi magang di kantor Mama. Ganteng dan pintar, pasti kalian co…” kutarik tangan Mama sebelum ia menyeretku ke neraka kedua. Perkenalan “calon mertua”, bikin aku ingin segera melambaikan tangan ke kamera. HOROR!

“Ma, kita perlu ngomong. Ada hal penting banget yang harus Mama tahu. Darurat,” ujarku serius.

Kubawa Mama masuk ke sebuah ruangan, seperti ruang rapat ukuran kecil.

“Mama harus dengar ini. Mama selama ini sudah dikelilingi ular-ular berbisa yang siap mematuk Mama dari belakang,” aku mulai memainkan rekaman suara yang tadi kudapatkan di toilet.

Menit demi menit berlalu. Muka Mama mengeras. Ia sadar, sahabatnya telah berkhianat.

“Ma, Dira minta tolong satu kali ini saja. Biarkan Dira memilih sendiri. Dengan siapa Dira akan bergaul. Kegiatan apa yang Dira mau lakukan. Dira sedang belajar mandiri dan bertanggung jawab. Kalaupun ada karakter Mama yang ingin Dira tiru, itu adalah etos kerja dan disiplin Mama yang buat Mama berhasil. Mama hebat yang buat keluarga ini tetap kokoh, walaupun Papa udah nggak ada,” pintaku dengan suara bergetar. Untuk pertama kalinya, aku menangis di depan Mama mengenai hal ini.

Mama masih terlihat syok. Ia tak mampu berkata-kata. Meskipun cerewet dan perfeksionis, aku tahu Mama punya hati yang hangat. Ia berjalan lurus, tak suka berprasangka, apalagi menyalahgunakan kekuasaannya. Aku mengerti mengapa Mama mendapatkan kepercayaan dari para petinggi perusahaan. Mereka tahu, Mama adalah orang yang tepat memikul amanah itu.

Mama memelukku. Ia terisak, menyadari kesalahannya. “Maafkan Mama, Dira. Mama lupa, kamu bukan Mama. Kamu adalah buah cinta Mama dan Papa. You are special, the one and only, my precious Dira,” sahut Mama terbata-bata.

Kupeluk Mama erat, kurasa cukup lama waktu berlalu. Aku berdiri. Ada sebuah rencana terbersit, untuk mengakhiri ini semua. Mama berhak mendapatkan happy ending-nya.

***

Kehebohan terjadi di pinggir kolam renang. Ada teriakan demi teriakan mengisi udara. Tiana megap-megap dari dalam kolam renang. Tante Yulia menjerit histeris, seiring ringkusan petugas keamanan yang diperintahkan oleh Om Bram.

Semua tamu bingung, mengapa pesta megah ini berakhir penuh kekacauan.

Tadi, menjelang acara tiup lilin, kuputarkan isi rekaman memakai peralatan milik Edo. Diam-diam, sahabat-sahabatku membantu terlaksananya misi pemberantasan rencana jahat Tiana dan Tante Yulia.

Tiana sontak menggila. Ia menghampiriku, namun bingung karena tak bisa menjambak rambutku. Ia mengambil sebuah pot tanaman dan hendak ditimpuknya ke arahku. Aku mengelak. Kudorong Tiana sekuat tenaga, hingga tercebur di kolam. Edo hanya terpaku melihat pacarnya basah kuyub. Luntur semua riasan Tiana, memperlihatkan wajah aslinya yang jauh berbeda.

Mama merangkulku. Lalu berbisik, “I’m glad you take that strong side from Papa. I won’t ask you to be my shadows anymore.”

Kata-kata terindah yang kutunggu sekian lama. Hari ini, aku tahu hidupku takkan pernah sama. Aku bebas menjadi diriku sendiri.

 

 

#30dayswritingchallenge #day9 #shadows
#ODOP2017 #week23


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s