No Prom for Today

Dance (1).png

“Mau datang ke prom bersamaku?”

Mata hijau itu bersinar penuh harap. Senyum hangat ikut menghiasi wajahnya. Sekilas kulihat ada kedutan di sudut bibirnya. Hmmm, ia cemas menanti jawabanku rupanya.

Ada jeda di antara kami. Kediaman yang membuat suasana menjadi canggung. Wajar saja, kami cuma partner dalam kelompok di kelas Kimia. 6 bulan bersama dalam frekuensi 2 kali seminggu, tanpa interaksi lebih di luar waktu tersebut.

Sekarang, dengan mudahnya ia mengajakku datang ke pesta konyol akhir tahun. Seolah tanpa beban. Seakan aku pasti takluk pada mata teduh itu.

Sorry, Dean. Aku tidak akan datang ke prom.”

Jawabanku membuatnya tertegun. Sepertinya ia belum pernah ditolak cewek seumur hidupnya. Wajar saja, menjadi anak populer hampir sepanjang usiamu, mana pernah ia tahu rasanya dikucilkan, disepelekan, dipandang sebelah mata.

Entah apa yang merasukinya hari ini. Memilihku menjadi pendampingnya ke prom yang menjadi habitat abadi para anak populer sepertinya.

“Kenapa, Drey? Kamu benar-benar nggak akan datang ke prom? Ini acara terakhir kita, lho sebelum lulus dari sekolah ini.”

Rupanya kata “tidak” bukan bagian dari kamus kehidupannya.

Aku menghela napas. Merapikan buku catatan dan buku teks. Bersiap untuk meninggalkan perpustakaan. Aku perlu segelas milkshake cokelat. Pertanyaan semacam ini merusak moodku dengan begitu hebatnya.

“Aku tidak suka prom. Dari dulu, sekarang, sampai kapanpun.”

Kuucapkan kalimat pamungkas lalu berdiri mencangklong ransel dan mengepit buku-bukuku. Beranjak pergi meninggalkan cowok yang dielu-elukan sebagai “Pangeran Forest Hill High” ini dengan tangan hampa.

Aku tidak akan tertipu. Aku masih punya logika dan harga diri. Melewatkan satu pesta hura-hura tidak menjadikan masa SMA-ku suram seperti kuburan di pinggir kota.

Lagipula, tidak sampai sebulan lagi aku akan meninggalkan kota menyedihkan ini.

Langkah-langkah lebar dari kaki jenjangku membawaku cepat meninggalkan perpustakaan menuju tempat parkir sepeda. Sepertinya menyepi di Taman Biru akan meredakan rasa tidak karuan di hatiku ini.

Kukayuh sepedaku, mampir membeli milkshake di kedai dekat taman. Baru saja kusandarkan sepedaku di parkiran kedai, mataku terbelalak.

Dean sudah ada di sana. Di depan pintu kedai. Menungguku.

“Sampai kapan kamu mau menghindar dariku, Drey?” tanyanya sambil memegang bahuku. Sebuah sengatan listrik menjalar dan menggelitik perutku. Ugh, kenapa pipiku memanas?

“Sudah seminggu kutanyakan padamu. Di kelas, di telepon, dalam pesan WA, sampai surat yang kutaruh di lockermu. Sebenci itukah kamu padaku?” mata teduh itu kembali mengorek jawaban dariku.

Kutatap cowok di hadapanku. Tinggi kami hanya berbeda sekitar 10 sentimeter. Namun, tubuh atletis dan kulit cokelatnya begitu kontras dengan tubuh ceking dan kulit pucatku. Ia senang berolahraga, aku memilih tenggelam dalam novel-novel misteri dan khayalan tingkat tinggi. Semua orang di sekolah memujanya.

Aku? Hanya Sherlock Holmes yang mengerti bagaimana rasanya menjadi seseorang yang eksentrik dan disegani karena sarkasme halus penuh deduksi.

Apa yang ia cari dari cewek sepertiku? Rasa iba karena aku hampir selalu sendiri? Sesekali hanya ditemani Watson-ku, Gary. Satu-satunya temanku sejak kelas 2 SD, yang kini terpaksa menjaga jarak karena pacarnya tidak nyaman dengan keberadaanku.

“Beri aku satu penjelasan, Drey. Setelah itu, aku akan lakukan apapun maumu,” pintanya sungguh-sungguh.

Sebelum aku mampu membuka mulut, tangan besar Dean menggenggam tanganku yang berkeringat. Menarikku perlahan, menuju Taman Biru. Tak tahu apa yang menahanku untuk tidak meronta dan memakinya. Mungkin, aku yang jatuh iba. Ingin memberinya satu kesempatan terakhir.
***

“Mamaku…hamil karena prom yang kelewat batas,” dengan berat hati, kubuka kelamnya masa lalu keluargaku.

Cerita mengalir dari bibirku. Sesuai apa yang Tante Kat ceritakan padaku 3 tahun lalu. Ketika aku ingin tahu mengapa Tante Kat selalu melarangku datang ke setiap undangan pesta yang kuterima. Mewanti-wantiku untuk tidak berpacaran hingga lulus kuliah.

Mama adalah cewek tercantik di SMA-nya. Ratu prom yang terpilih secara mutlak. Keanggunan sekaligus kepolosannya memikat hati banyak cowok. Namun, di sisi lain, ada juga yang ingin memanfaatkan keluguannya.

Meminum terlalu banyak punch yang dicampur alkohol diam-diam, Mama pingsan pada after party yang digelar seusai prom. Dalam keadaan tak sadarkan diri, pasangan prom Mama mengambil keuntungan, merenggut kesucian Mama yang tadinya ia pertahankan hanya untuk suaminya kelak.

Tiga bulan sesudahnya, ketika sang cowok sudah pergi ke sekolah militer, Mama tersadar, ia terlambat datang bulan. Namun, si pelaku enggan bertanggung jawab. Kalau saja Kakek tidak bertindak sangat tegas, aku akan lahir tanpa Papa.

Sayang, rumah tangga Mama tidak bertahan lama. Papa bercerai dari Mama, dua tahun setelah aku lahir. Meninggalkan Mama yang merana, kemudian sakit-sakitan menahan derita. Seminggu sebelum ulang tahunku yang kelima, Mama wafat. Papa yang sedang bertugas di daerah konflik kawasan Timur Tengah, tak lama menyusulnya. Tante Kat dan Om Rob merawatku hingga saat ini.

Kisah masa lalu Mama begitu menamparku. Betapa laki-laki dapat menghancurkan masa depanmu dalam sekejap mata. Atas nama nafsu yang disamarkan oleh kata cinta.

Dean mendengarkan semua ceritaku. Sekeras apapun ia berusaha tetap tenang, aku bisa menangkap raut kecemasan dalam wajahnya.

“Aku nggak depresi kok. Aku cuma nggak mau mengalami nasib sama seperti Mama. Aku tahu bagaimana orang-orang menggila saat berpesta, seperti yang biasa mereka gelar di rumah anak-anak yang populer seperti kamu,” ujarku tegas.

“Melewatkan satu pesta dansa nggak bikin aku jadi manusia paling menyedihkan sedunia,” lanjutku dingin.

Tiba-tiba, Dean memelukku. Begitu erat, sampai rasanya aku sesak napas. Gary bereaksi sama ketika aku mengungkapkan kisah ini padanya. Tetapi, mengapa pelukan Gary dan Dean begitu berbeda?

Dean tidak bicara apa-apa. Ia hanya memelukku dan mengusap punggungku. Lalu kurasakan ada tetesan hangat pada kausku.

Dean menangis?

“Dean, aku harus pulang. Sudah sore, aku dapat giliran memasak makan malam hari ini,” kucoba melepaskan diri dari pelukan Dean.

Dean mengusap matanya. Tersenyum kikuk lalu berdiri. Ia mengantarku kembali ke parkiran kedai. Tak bicara sepatah kata pun sepanjang jalan.

Lidahku kelu. Rasa terima kasih sulit keluar dari mulutku. Dean kembali tersenyum, menepuk kembali bahuku, lalu berujar sebelum pergi. “Aku tak akan bertanya lagi, Drey.”

Punggung kokoh itu menjauh dari pandanganku. Ada desir aneh menyelinap di dalam hatiku. Mungkin, aku yang jatuh iba padanya kini.

***

Aku bersyukur dibesarkan oleh pasangan yang begitu mencintaiku tanpa syarat. Tante Kat, Om Rob, dan Joe, kakak sepupuku. Begitu perhatiannya mereka, menghadirkan sebuah makan malam khusus untukku di malam prom.

Sedari siang, Tante Kat melakukan home spa bersamaku. Merawat tubuh sambil bercanda bersama. Aku tahu, mereka ingin menikmati kebersamaan ini, sebelum aku berangkat ke London, dua bulan mendatang.

“Pakailah ini di makan malam nanti,” Tante Kat menyodorkan sebuah gaun biru tua berpotongan klasik. Aku terkejut. Ini mirip sekali dengan gaun Kate Middleton yang kami bahas bulan lalu ketika melihat berita di televisi.

“Baju spesial, momen spesial, untuk cewek terkeren di Forest Hill High,” seloroh Tante Kat sambil mengedipkan mata.

Tante Kat membantuku berdandan. Riasan natural pada wajah dan ia menata rambutku menjadi sebuah cepol sederhana nan anggun. Oke, aku menjadi The Duchess malam ini, pikirku geli.

Hari mulai gelap dan Joe datang menjemputku ke kamar. Mengajakku makan malam di halaman belakang bersama Tante Kat dan Om Rob.

Ternyata ….

Tak hanya meja penuh hidangan dan cahaya lilin yang memukauku. Ada sosok yang tak kuduga akan hadir.

Gary berpakaian rapi malam ini. Jaket belel yang biasa digunakannya berganti menjadi sebuah blazer casual, kemeja hitam, dan dasi merah marun.

Rambutnya disisir klimis, mengingatkanku pada John Lennon di masa muda. Sungguh berbeda dengan tampilan kesehariannya yang dingin dan serampangan ala bad boy.

Belum cukup kekagetanku, Gary memelukku. “Kamu, beda banget hari ini. So gorgeous,” bisiknya. Untuk pertama kalinya, aku merasa begitu lega. Lega kalau permintaanku di lubuk hati terdalam, bukanlah sebuah mimpi kesiangan.

Yeah, I know. Kamu juga cakep banget” jawabku sambil terkikik kecil.

Gary melepaskan pelukannya. Mata cokelatnya menatapku dalam. “Sorry, Drey. Aku…aku harus cerita ini ke kamu sekarang.”

Gary menarik napas dalam-dalam dan terjawab sudah kegelisahan yang menggangguku dua minggu terakhir ini.

Dean datang padanya, menitipkan aku pada Gary. Ia berkata, kehadirannya tak cukup mengobati lubang yang terlanjur menganga di hatiku. Ia tahu, kehadirannya yang berbeda dunia akan membuat aku semakin merana.

Dean merelakan perasaannya. Menyadari bahwa aku butuh laki-laki yang setia bersamaku sejak awal mula. Ia hanya akan jadi sepenggal bab dalam kisah hidupku, tidak lebih.

“Kamu lebih berhak bersamanya, Gary. Kalian adalah soul mate. Temani Drey. Beberapa kali kulihat ia menatapmu dari kejauhan di kelas Kimia. Aku tahu tatapan itu. Rasa cinta yang tak tergapai. Seperti yang aku rasakan padanya,” ungkap Dean pada sahabatku itu.

Aku tercekat. Tak menyangka situasinya menjadi serumit ini.

“Aku, sudah putus dari Casey sejak bulan lalu. Aku capek dicurigai. Aku tidak terima ia terus-menerus berburuk sangka terhadapmu, Drey. Butuh waktu lama dan berbagai peristiwa untuk meyakinkanku. Bahwa, aku ingin selalu ada di sampingmu dan melewati hari bersama. Kurasa, ini keputusan terbaik yang pernah kubuat dalam hidup,” sahut Gary.

Raut mukanya tersipu, seperti bocah yang menginginkan es krim favoritnya, tetapi tidak berani meminta dibelikan oleh orang tuanya.

“Gary tidak akan menjadi seperti Papamu, Drey. Setidaknya, ia datang secara jantan kepada kami. Perayaan malam ini adalah idenya,” Tante Kat memecah kebisuan yang menggantung di antara aku dan Gary.

Aku tersenyum penuh arti kepada Gary. Aku tidak tahu bagaimana cerita kami akan mengalir dan bermuara. Namun, aku yakin bisa menitipkan hatiku padanya.

Petikan gitar Joe mengalunkan nada-nada sebuah lagu dari band favoritku, The Cure.

Whenever I’m alone with you
You make me feel like I am home again
Whenever I’m alone with you
You make me feel like I am whole again

However far away
I will always love you
However long I stay
I will always love you
Whatever words I say
I will always love you
I will always love you

So, Drey, shall we dance?”

Kusambut uluran tangan Gary tanpa ragu. Melewatkan prom ternyata mengubah sejarah hidupku dan isi hatiku.

Dansa pertamaku, di halaman belakang rumah. Bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku dengan tulus. Prom terbaik di dunia pun tidak akan mampu menyainginya.

#30dayswritingchallenge #day8 #dance
#ODOP2017 #week23 

 

Advertisements

2 thoughts on “No Prom for Today

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s