#30dayswritingchallenge Day 7 – Beauty

Red Lipstick Revenge

Seperempat abad aku hidup, masih jawaban yang sama terlontar setiap pertanyaan ini dilontarkan.

What is your biggest fear
?

Dengan yakin, aku akan menuliskan satu kata. Lipstik.

Dijamin, hampir seluruh kaum Hawa dewasa yang kukenal di dunia akan berteriak. Kenapa, Bella?!!

Namaku memang berarti cantik dan buat mayoritas wanita di dunia, rias wajah adalah wajib untuk wanita cantik. Meskipun kata inner beauty ramai didengungkan, seraut wajah polos tanpa make-up sepertinya sama hina dina-nya dengan tidak memakai baju yang menutupi aurat.

Apalagi, untuk wanita seperti aku, yang bekerja di sebuah media bertarget wanita dewasa masa kini. Sudah kenyang sekali aku diceramahi, ditarik sana sini dengan embel-embel make over. Demi menempelkan produk-produk rias wajah di kulit perawanku. Yang sehari-hari hanya dibubuhi bedak padat bayi.

Lambat laun, aku mulai luluh. Wajahku bisa menerima dilukis sedikit. Blush on, eye shadow, eye liner mulai kupakai, setidaknya saat pergi ke kantor. Namun, setiap seulas lipstik mulai menempel di bibir, reaksiku masih sama. Bulu kuduk merinding, bibir sulit mengatup. Bella si ikan mujaer. Lebih cocok disematkan jika melihat wajahku yang menggelikan, takut berlebihan pada polesan gincu.

Sebenarnya, ada cerita di balik keanehan ini. Kenangan pahit yang coba kukubur dalam-dalam selama dua dekade. Perlahan, beberapa detail mulai mengabur. Namun, adakalanya mereka mampir dalam mimpi. Membuatku terbangun di tengah malam, bermandi peluh dan napas terengah-engah.

Semua terjadi, pada suatu hari, saat aku akan tampil dan naik pentas di Taman Mini. TK-ku akan menampilkan tarian petani. Setiap anak perempuan dipasangkan dengan anak laki-laki. Ada delapan pasang yang mewakili. Samar-samar aku mengingat. Kebaya merah terang, berpadu dengan rok lilit berbahan batik. Pertama kalinya pula aku mengenal benda itu. Lipstik, berwarna merah senada dengan kebaya. Dipoleskan begitu saja di bibir mungilku.

Aku tak suka rasanya. Lengket. Pun baunya menusuk, semacam aroma tak menyenangkan yang kuendus setiap memasuki apotek. Aku merengut, menahan rasa kecewa dan marah. Kulampiaskan bentuk protesku dengan membiarkan bibir menganga. Sontak aku menjadi bahan tertawaan teman-temanku. Lalu, insiden itu pun terjadi.

Si anak lelaki yang seharusnya menjadi pasanganku, mendadak mogok untuk naik panggung. Ia tak mau dipasangkan dengan ikan mujaer berbedak tebal, serunya. Aku tak percaya, beraninya ia berkata begitu. Padahal, ia murid baru. Yang hanya akan bersama kami selama beberapa bulan saja sebelum pindah kembali ke luar kota. Aku marah, menerjang si anak lelaki dan meninju lengannya. Ia tampak terkejut dan memilih diam seribu bahasa sesudahnya.

Anehnya, hingga kini, aku tak dapat mengingat namanya. Seperti ada awan tebal menutupi kenangan itu. Yang tersisa hanyalah seorang anak gempal, berpipi tembam, dan bersuara lantang. Sedikit mengingatkanku pada Giant, teman Nobita di serial Doraemon.

Hari itu, akhirnya kami bertukar pasangan. Si anak lelaki, dipasangkan dengan Kayra, sahabatku. Sementara, aku mendapat pasangan Kayra, Teddy. Semua berlalu tanpa tambahan drama. Kami menari dengan baik. Berkat pembawaan Teddy yang riang, rasa kesalku sirna begitu saja.

Sayang, kata ikan mujaer itu terlanjur melekat di benakku. Lipstik seakan menjadi musuh baru. Terlebih lipstik merah, bisa membuatku hilang akal seketika. Lebih baik aku menghindar, sebelum trauma yang membekas, akibat emosi yang lepas kendali.

***

“Kay, aku bosan begini terus,” keluhku pada Kayra, suatu sore saat berjumpa di sebuah kafe. Sahabatku sejak kecil ini memandangku lekat-lekat. Mestilah ia membatin, melihat penampilanku yang bak langit dan bumi dengannya. Kayra yang selalu modis dan rapi. Berpakaian dengan gaya kekinian, meskipun tak berlebihan. Profesinya sebagai dokter gigi yang berjibaku dengan isi mulut nan menjijikkan, nampak kontras dengan aura tampilan luarnya yang memikat.

“Kamu perlu belajar memaafkan, Bel,” sahutnya lembut. Tangannya menggenggam tanganku erat. “Melepaskan dendam itu bakal menyembuhkan traumamu,” lanjutnya pasti.

“Aku seperti bermusuhan dengan hantu, Kay. Seseorang yang di ingatanku saja buram. Tak jelas rupanya. Hanya suara lantangnya itu yang terus menggema!” tukasku geram.

Kayra menghela napas, ia nampak kebingungan. “Begini, Bel. Aku sebenarnya mau minta tolong sama kamu. Tapi, melihat kondisi kamu begini, aku jadi nggak yakin,” ucapnya hati-hati.

Mendadak, aku merasa menjadi sahabat terburuk sedunia. Menganggap aku yang termalang sejagad raya, tanpa melihat betapa orang terdekatku sendiri sedang menanti uluran tangan.

“Tentang acara pernikahanmu, Kay?” tanyaku pelan. Aku lupa, sahabatku akan melepas masa lajang dua bulan lagi. Tentulah ia sedang dipusingkan oleh segala persiapan. Mengapa aku tidak peka dan malah mengundangnya bertemu, untuk menjadi “tempat sampah” atas segala uneg-unegku?

Tadinya, aku ingin bercerita panjang lebar. Tentang permintaan Mbak Tita, editor-in-chief tempatku bekerja. Ia memintaku secara istimewa untuk mewawancarai seorang wirausahawan muda. Kabarnya, pria ini berhasil meraih penghargaan wirausaha di Inggris sana. Kini, ia kembali ke Tanah Air untuk membangun sebuah bisnis start-up transportasi daring terpadu. Sesuatu yang belum ada di Indonesia saat ini. Mbak Tita ingin aku mengadakan in-depth interview dengannya untuk diolah menjadi beberapa artikel berbeda.

Namun, sebuah syarat dari Mbak Tita membuatku ragu. Aku harus tampil lebih rapi dari biasanya. Dengan kata lain, berpakaian modis dan memakai rias wajah.

Kalau saja aku tidak ingat, betapa kesempatan ini akan bagus untuk portofolioku, ingin rasanya aku menolak tugas ini. Namun, aku sadar, belum genap 2 tahun bekerja di sini. Mendapatkan kesempatan seperti ini adalah sebuah kehormatan. Atau mungkin juga tantangan, untuk melihat keseriusan dan kemampuanku. Bella Nandita tidak takut akan tantangan!

Sayang, Bella Nandita ternyata masih takut akan perona bibir. Itu yang membuatku begitu berat membayangkan hari Senin mendatang. Saat aku akan melakukan wawancara maha penting itu.

“Jadi, apa yang bisa kubantu, Kay?” ucapku, mengurungkan niat untuk curhat tentang kegelisahanku sendiri.

Kay memintaku untuk datang ke rumahnya besok pagi. Akan ada rapat keluarga, membahas persiapan pernikahan. Kay ingin aku tampil pada sebuah sesi khusus, tentang nostalgia kehidupan Kay. Nanti, akan ada sesi yang sama membahas kehidupan Putra, calon suami Kay, disampaikan oleh sahabat Putra.

“Kamu nanti bakal didandanin, Bel. Aku nggak bisa atur bagaimana penata riasnya bakal dandanin kamu. Jadi, siap-siap aja ya. Anggap ini permintaan tolong terbesarku buat kamu,” mohon Kay. Air mata mengambang di pelupuk mataku. Selama ini aku telah banyak merepotkan Kay. Mendampingi masa-masa terpurukku ketika stres skripsi. Mendengarkan keluh kesahku akan hidup yang begitu-begitu saja di fase quarter-life-crisis. Sekarang, sudah saatnya aku ganti membalas kebaikan hati dan kesabarannya.

Aku mengangguk dan memeluk Kay. Sudah saatnya aku membuka hati dan menerima dengan dewasa. Sebuah celetukan bocah di masa kanak-kanak, tak sepatutnya melukai hatiku begitu dalam.

 

***

Sungguh skenario Tuhan yang tak pernah kuduga.

Aku bertemu lagi dengan bocah gempal yang mengusik hidupku 20 tahun terakhir itu. Barulah kuingat siapa namanya, Bono. Si bocah yang kini sudah bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat menarik. Seorang lulusan S2 sekolah bisnis di Inggris, kini menjadi konsultan manajemen di firma terkemuka. Dan, kuketahui belakangan, ia masih berhubungan saudara dengan Kayra! Tepatnya, ibu Bono dan ayah Kayra adalah saudara kandung. Mengapa Kayra tidak pernah menyinggung ini padaku?

Bono pula yang menjadi sang sahabat Putra. Bersama-sama denganku menampilkan sesi nostalgia mempelai. Astaga, mimpi buruk apa lagi ini?

Aku menahan rasa campur aduk yang makin menyesakkan dada. Merasa ditipu, dipermainkan, berhadapan dengan hantu masa lalu. Kalau saja aku tidak menghormati Kay dan keluarganya yang telah kukenal lama, ingin rasanya aku kembali meninju Bono dan pergi ke ujung dunia.

“Mmmm, Bella,” panggil Bono dengan kikuk. “Kamu masih marah denganku?” tanyanya hati-hati. Aku hanya mendengus, menatapnya tajam dari ujung rambut sampai ujung kaki.

“Aku minta maaf, Bel. Sungguh dulu aku nggak bermaksud bikin kamu semurka itu. Aku cuma… “ kalimatnya menggantung. “Seneng ya, bisa nge-bully anak cewek culun seperti aku?” desisku geram. “Terus, sekarang, apalagi yang mau kamu lakukan? Bikin aku menderita sekali lagi?” tuduhku dengan wajah dingin.

Bono menggaruk-garuk kepalanya. Bingung. Sekali lagi ia menjadi sasaran amukanku. Sungguh pelik berhadapan dengan seseorang yang berpuluh tahun masih menyimpan dendam yang sama.

“Aku menyerah. Sepertinya, kamu harus tahu yang sebenarnya dari orang yang tepat. Dan, orang itu bukan aku,” ucapnya lemah. Bono melangkah gontai meninggalkanku. Sebuah tanda tanya besar menggantung di benakku.

 

***

Entah kesialan apa yang mengikutiku. Hari ini, di hari wawancara maha penting, aku kembali bertemu Bono. Dengan santai, ia menunggu di lobby gedung kantorku. Menghampiriku yang tengah berjalan menyambangi coffee shop untuk asupan kafein dan kudapan pagiku.

“Bella! Tunggu! Aku ingin menyelesaikan masalah ini!” serunya mengejarku yang berjalan cepat di depannya.

Aku berhenti. Memandangi lelaki berkemeja biru tua dengan jins berwarna senada. Tengah menghapus titik-titik peluh yang mendadak muncul karena mengejarku baru saja.

“Aku minta waktu kamu 15 menit saja. Setelah itu, aku akan pergi sesuai apa yang kamu mau. Tentang sesi nostalgia, nanti biar aku buat saja sendiri. Kita tinggal bertemu di hari H nanti,” tawarnya sambil sedikit terengah.

Belum sempat menjawab, Bono menarik tanganku. Memasuki coffee shop dan mendudukkanku di sebuah meja. Di sana, ada seorang pria yang wajahnya seakan tak asing bagiku.

Dua puluh tahun berlalu, senyum riang itu masih lama. Namun, kali ini, ia melepaskannya dengan aura terkejut dan kikuk. Sekilas mengingatkanku dengan Joseph Gordon-Levitt di film 500 Days of Summer.

“Hai, Bella. Masih ingat gue?” seru pria misterius.

“Teddy?” jawabku tak yakin. “Teddy Wirasaputra? TK Mentari?” lanjutku mengkonfirmasi.

“Ayo, Ted. Lo tanggung jawab. Ceritain yang sebenarnya ke Bella. Gile, gue dimusuhin sampe ganti abad begini,” cerocos Bono tiba-tiba.

Dahiku mengerut. Ada apa ini?

Kalimat-kalimat yang selanjutnya meluncur dari mulut Teddy begitu membelalakkan mataku.

Ternyata, Teddy yang merancang semuanya. Ia ingin berpasangan denganku. Namun, Bu Yuli, wali kelasku, malah memasangkanku dengan Bono. Teddy tahu hubungan Bono dan Kayra setelah Bono berhasil akrab dengannya dan bercerita banyak hal. Jadilah ia membujuk Bono untuk membuatku marah. Teddy dapat menduga, Bu Yuli akan memasangkan Bono dan Kayra jika Bono dan aku bermasalah. Ia pun mendapatkan apa yang diinginkannya.

“Maafin gue, Bel. Gue nggak tahu kalau lo sampai trauma begini. Beneran, kalau tahu begini, gue udah ngaku dari kapan tahu, deh,” sesal Teddy.

“Yah, lo kan terus langsung pindah ke luar negeri setelah lulus TK, Ted. Gimana juga lo mau kontak Bella, kalau orang tua lo juga pindah-pindah negara terus,” ujar Bono menepuk pundak Teddy.

“Jadi, udah clear ya, Bel. Semoga lo nggak dendam lagi sama gue,” sahut Bono sambil mengulurkan tangannya. Memohon maaf sekali lagi.

Aku tergugu. Diam tak tahu harus bereaksi seperti apa. Kenangan masa lalu dan apa yang kulihat masa kini seakan berputar, memusingkan kepala. Semua ini terlalu tiba-tiba dan putaran rasa membuatku semakin membisu.

Sebuah senyum tipis, akhirnya kuputuskan untuk kuberikan. Dengan anggukan lemah, menandakan aku berusaha menuntaskan kemarahan tiada ujung ini.

Rendi, teman sekantorku yang akan meminjamkan kameranya mendadak datang di hadapanku. “Bel, ini kameranya udah siap. Lo jadi pakai buat wawancara kan?” tanyanya.

Sekejap aku teringat janji wawancara hari ini. Aku terkesiap dan memohon diri pada kedua lelaki teman kecilku ini. Dengan langkah tergesa-gesa, aku berjalan menuju lift untuk bersiap-siap.

Sebuah lengan dengan mantap menahan langkahku. Lelaki itu tersenyum penuh arti. Lalu memberikan sebuah kotak berwarna hitam kepadaku. “Buka nanti saja ya,” pesannya sambil tersenyum begitu manis.

Setibanya di kubikel, kubuka kotak hitam itu. Kuambil isinya. Sebuah benda yang kini kugenggam dan secarik kertas.

Kupandangi tube kecil di genggaman tanganku. The Balm Meet Matt(e) Hughes. Kubuka dan mengoleskan aplikator di bibirku. Merah klasik. Something that I would not wear on a daily basis. EVER.

Kubuka kertas yang terlipat dua. Mataku melebar membaca rangkaian kata yang mengisinya.

Kamu nggak pernah kelihatan seperti ikan mujaer. Karena Bella akan selalu terdengar dan terlihat secantik namanya. Besok temenin aku makan malam ya. Sambil catching up apa yang telah kita lewatin 20 tahun ini. Kujemput jam 7 malam di kantormu.

 Teddy

Tapi, kali ini, sepertinya aku mengalah. Membuat pengecualian. Lipstik ini adalah sebuah permintaan maaf. Mungkin, inilah jawaban dari kegundahanku. Penghapus kenangan buruk yang mengganggu. Menggantinya dengan sebentuk perasaan, menggelitik perut bak kupu-kupu.

 

 

#30dayswritingchallenge #day7 #beauty
#ODOP2017 #week22

 

Advertisements

One thought on “#30dayswritingchallenge Day 7 – Beauty

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s