C-love-R

iris murdoch (1)

Sigh. Sigh. Sigh.

Helaan napasku semakin banyak dalam lima belas menit terakhir. Nampaknya, tekanan makin menguasaiku. Pikiran itu kembali menguasai benakku. Aku salah jurusan. Rutukan tak berujung di dalam hati.

Kulalui lorong-lorong suram, sesekali bersandar melepas penat di pilar berbatu. Mengapa pintu gerbang terasa semakin jauh? Pikirku putus asa.

Ujian Tengah Semester masih tersisa dua mata kuliah lagi. Namun, aku sudah terlanjur pesimis. IPK-ku masih sulit untuk membaik. Melihat bagaimana aku tak bisa menjawab dengan mantap dan yakin semua pertanyaan di setiap hari ujian.

Setiap aku gundah gulana karena kuliah, hanya ada satu tempat yang ingin kutuju. Lapangan rumput di sebelah barat pintu gerbang. Vitamin hijau untuk menyegarkan otak mampet dan hati hancur seperti saat ini.

Aku telah tiba. Kubentangkan jas putih laboratorium di atas hamparan rumput. Kuletakkan ranselku dan merebahkan tubuh. Terasa rumput-rumput memeluk tubuhku yang penat. Sudah seminggu ini aku kurang tidur. Belajar dan belajar. Tak dapat memejamkan mata dan terlelap tanpa bayangan soal-soal ujian menghantui pikiran.

Saat ini, aku hanya ingin menikmati hembusan angin sore. Membelai pipiku yang dingin. Membawa pergi sebagian kesedihanku. Kupejamkan mata. Ah, nikmat sekali. Kembali ke alam selalu jawaban tepat untuk membuang kedongkolan atas tak adilnya dunia manusia.

Tanpa kusadari, aku terlena. Terlelap tanpa sengaja.

“WADUH!” aku terlonjak kaget. Pukul berapa sekarang?

Menoleh ke samping kananku. Rasa terkejutku semakin bertambah. Ada seorang lelaki berkemeja flanel kotak-kotak dan celana jins hitam duduk bersila di sana. Memandangku sambil tersenyum penuh arti.

“Abis UTS, ya?” tanyanya sambil meluruskan kakinya yang panjang. Lelaki yang menarik secara fisik. Wajahnya bersih tanpa bulu-bulu tak perlu. Hidungnya mancung. Senyumnya manis. Rambutnya potongan gaul masa kini, undercut dengan warna hitam pekat. Tercium samar parfum pria beraroma kayu yang berpadu serasi dengan tempat kami saat ini berada. Aku ragu untuk berkata-kata. Cuma sebuah anggukan lemah yang bisa kuberikan.

Ia meletakkan ranselnya melintang, kemudian merngubah posisinya menjadi berbaring di sampingku.

“Pasti sekarang kamu lagi mikir salah jurusan,” ucapnya pelan, sambil menerawang ke langit.

DEG!
Cenayangkah dia? Pembaca pikiran? Aku hanya mampu menjerit dalam hati.

“Bener, ya?” mata hitam jernihnya kini memandang dalam ke mataku. Bibirnya tertarik, menampilkan sebuah senyum tipis.

Aku jadi salah tingkah.

Don’t be too hard on yourself,” ucapnya memecah kesunyian. “Kamu udah masuk ke salah satu universitas terbaik di Indonesia. Berarti kamu bukan orang sembarangan. Kamu pasti bisa,” selorohnya sambil mengedipkan mata.

“Badai pasti berlalu,” tiba-tiba ia menggenggam tangan kananku dengan ringannya. Entah kenapa, tangan yang besar dan hangat itu membuat semua gundah menguap begitu saja. Pipiku yang dingin, memanas tanpa diminta.

Lelaki itu bangun dari tidurnya. “Sebentar ya,” ucapnya sambil beringsut ke arah kanan, menjauh dariku. Ia nampak menyusuri hamparan rumput, mencari sesuatu. Apalagi yang mau ia lakukan, batinku. Semoga masih ada sisa detak jantungk, sebelum ia membuatnya meloncat lagi seperti tadi.

Kulihat jam tangan, sudah lewat lima menit dari pukul lima sore. Waktunya kembali ke kos, gumamku. Sambil berpikir, kemana aku akan mampir membeli makan malam dan amunisi camilan untuk teman belajar nanti malam. Tahu-tahu, tangan besar itu lagi yang memegang tanganku. Aku tersentak. Kali ini, ia memberikan beberapa benda hijau di telapak tanganku. Semanggi berdaun empat.

“Biar sisa UTS kamu lancar,” ujarnya sambil nyengir.

“Te..terima kasih,” aku tergagap, tak percaya akan kemurahan hatinya.

“Aku juga ambil dua, biar sidangku minggu depan lancar dan cepat wisuda, hehehe,” tukasnya memperlihatkan daun-daun yang sama.

Hatiku mencelos. Sidang? Wisuda? Berarti, tak lama lagi ia akan meninggalkan kampus?

Sepertinya, ia membaca air mukaku yang berubah. Masih dengan senyuman manis yang sama, ia berkata lembut, “Your time will come, my dear.”

Aku mengangguk pelan dan memberikan senyum yang sungguh berat sekali kubentuk dari bibir mungil ini.

“Besok ke sini lagi?” tanyanya. “Aku mau dengar ceritamu, apa daun semanggi ini beneran manjur bikin kamu nggak galau lagi,” kata-kata darinya membuat semangatku tiba-tiba bangkit.

“Jam empat, tidak kurang tidak lebih,” sahutku mantap. “Aku akan bawa kabar gembira,” lanjutku penuh keyakinan.

I bet you will,” rasa percaya dirinya menularkan sesuatu yang positif dalam diriku.

Kami berpisah tanpa tahu nama masing-masing. Namun, entah kenapa, aku punya firasat. 24 jam dari sekarang, kami akan memanggil akrab satu sama lain. Pria daun semanggi, sementara itu yang kutuliskan dalam hati.

#30dayswritingchallenge #day6 #humanmeetsnature
#ODOP2017 #week22

Advertisements

2 thoughts on “C-love-R

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s