Frenemy

The purpose of art is washing the dust of (1)

Tangan lentik itu menarik lenganku dengan begitu keras.

“Berhenti, Sa! Dengarkan penjelasanku dulu!” serunya histeris.

“Sudah cukup jelas, Vi. Aku nggak perlu tanya apapun lagi,” ucapku getir.

Kupandang gadis di depanku. Sahabatku 2 tahun terakhir. Kulit putih mulus, tinggi semampai, langsing bak artis FTV. Namun, ia telah mengecewakanku. Devi Meiriska, kupergoki berciuman mesra dengan tunanganku. Tanpa ampun, kutampar mereka berdua di tempat.

“Rio memintaku untuk membantu memilihkan hadiah ulang tahunmu, Sa. Kami khilaf, nggak ada maksud untuk aku menghancurkan hubunganmu,” bibir penuh berpoles lipstik ungu tua itu masih terus memohonkan ampunanku.

“Kenapa kalian nggak bertemu aja di tempat umum? Ajak orang lain, bukan cuma berduaan? Keliatan banget udah settingan selingkuh!” tandasku keras.

Devi terdiam. Sepasang kontak lensa hijau lumut menatapku dalam-dalam.

“Dengar ya, Vi,” desisku menahan amarah. “You’re gonna be my maid of honor. Cuma orang gila, saiko, iri dengki, yang tega melakukan ini kepada sahabatnya yang sudah menyebarkan undangan untuk pernikahan bulan depan!” kuluapkan semua murkaku ke hadapannya.

Mataku memicing. Tertuju kepada benda yang melingkari pergelangan tangannya. Aku ganti menarik tangannya tinggi-tinggi.

“Apa ini? Kenapa gelang mutiara biru ini ada sama kamu?” cecarku.

Inilah benda yang kucari-cari tahun lalu. Lenyap begitu saja saat aku, Rio, Devi, dan Ervan, kekasih Devi waktu itu menghabiskan akhir pekan di Lombok. Rio membelikan gelang ini di pusat belanja mutiara. Aku ingat betul, telah melepaskannya sebelum berenang di pantai. Namun, seusai berenang, gelang itu hilang begitu saja. Matahari sudah hendak tenggelam, jadi kurelakan gelang itu pergi bersama kenangan tidak mengenakkan di Lombok.

Devi pucat pasi. “Aku… aku… dibelikan.. juga…” ucapnya tergagap. “Oh, ya? Dibelikan Ervan? Atau… Rio lagi yang memanjakan kamu?” selidikku menahan rasa kesal.

Devi menunduk, mukanya memerah malu. Sambil memilin ujung dress hitam selututnya, memainkan kaki berbalut stiletto. Aku hafal betul, ini gelagatnya sedang menyembunyikan kejujuran.

“Sebenarnya, gelang ini punyamu, Sa. Aku yang ambil, waktu kamu berenang sama Rio,” aku Devi sambil mengigit bibirnya.

Aku mendengus. Hari ini, terbuka semua topengnya. Serigala berbulu domba. Teman makan teman. Backstabbing b*tch.

HUEKKK!!

Tiba-tiba Devi menahan sesuatu yang nyaris keluar dari mulutnya.

Mungkinkah?

“Jangan bilang kamu hamil, Vi!” aku mulai bicara tak terkendali.

Devi hanya mengangguk lesu.

“Trisa, batalkan pernikahanmu dengan Rio. Kumohon. Biarkan bayi ini bersatu dengan papanya,” kalimat Devi kontan menjadi palu godam yang memukul telak akal sehatku hari itu.

Aku bosan menjadi orang baik. Aku muak menjadi korban. Aku tak ingin menahan rasa malu ini sendiri.

Spontan, kujejalkan pouch berisi beberapa perhiasan yang baru kubeli tadi siang ke dalam tas Devi. Sebelum Devi menebak maksud dari tindakanku, aku berteriak sekuat tenaga, “Tolonggggg! Copet, copet, copet!!!”

Sekejap saja, orang-orang berdatangan dari berbagai penjuru. Aku menangis, berakting ketakutan, mengatakan sambil terisak, Devi telah mencuri perhiasanku.

Massa menjadi tak terkendali. Beberapa orang sibuk mengambil foto. Mungkin akan ada sebentar lagi di beberapa akun gosip Instagram. Copet menor tertangkap di jalan raya pusat perkantoran Ibukota. Devi terus berteriak, “Ampun, ampun, ampun! Trisaaaa!”

Perlahan-lahan aku mundur teratur. Lalu, melarikan diri diam-diam di tengah kekisruhan. Kubiarkan wanita durjana itu tenggelam diamuk dan dihakimi massa.

Di dalam taksi yang kucegat tak jauh dari lokasi, kuambil ponsel dan menghubungi sebuah nomor.

“Pa, tolong cancel pernikahan Trisa. Trisa mau pindah ke Kanada saja. Mau sekolah sama Kak Bianca,” pintaku memelas. Papa pasti mengabulkan, apapun permintaan putri bungsunya ini.

Hidup baru, itu yang aku perlu. Tidak ada lagi ruang untuk sahabat wanita. Mereka cuma ular berbisa, di balik tebalnya maskara.

#30dayswritingchallenge #day5 #afriend
#ODOP2017 #week21

Advertisements

4 thoughts on “Frenemy

  1. Aku tau sebagai manusia harus memaafkan.. Tp baca ini, aku ikut kebawa emosi, sampe seneng bgt ama endingnya hahahahah :p .. Pelakor memang hrs dikasih pelajaran.. Ya ampun, aku jahat bgt bulan puasa yak 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s