Onigiri Untukmu

Onigiri Untukmu (1)

Kupandangi rice cooker di hadapanku. Melirik ke arah jam dinding di sudut kiri dapur. Sepuluh menit lagi. Kubiarkan dulu nasi ini sedikit tanak sebelum membentuknya. Terbayang wajah yang akan menikmatinya. Aku tersenyum.

I will put my feelings into this onigiri.

Bermula dari Vino, teman sebangkuku di kelas. Cowok dengan tampilan dingin. Pangeran Es SMA Andromeda. Entah mengapa, meskipun banyak cewek begitu takut dengannya, akulah sang anomali.

Vino mau mengobrol denganku. Lebih dari 5 kalimat sehari. Ia menjawab pertanyaanku dengan kalimat cukup lengkap, bukan ‘ya’ dan ‘tidak’ saja. Lambat laun, ia membuka diri. Bercerita sedikit tentang hidupnya. Menunjukkan ekspresi tersenyum, sesekali tertawa.

Ibaratnya, akulah pemanasan global yang melelehkan bongkahan es di Kutub sana.

Mungkin seperti Cesar Milan, aku punya bakat menjadi seorang ‘whisperer‘. Bukan untuk anjing apalagi harimau galak. Cowok sangar adalah spesialisasiku.

Sebut saja preman depan sekolah, cowok yang nongkrong di pos samping portal kompleks, pengamen bergaya punk, semua bisa tunduk dan manis di hadapanku.

Ayahku bukan jawara. Bunda juga bukan putri seorang gangster. Garis takdir menganugerahkanku kemampuan unik ini. Aku hanya belajar mendengar lebih banyak. Lalu bersikap ramah, tanpa mengancam privasi. Sesederhana itu.

Kini, aku terjerembab. Jatuh cinta kepada cowok yang berhasil “kujinakkan”.

Aku merasakan pesona luar biasa di balik jubah tak kasat mata. Something more than just a cold, skeptical, cynical young man.

Mulailah aku berguru kepada sumber yang kupercaya menyimpan jawaban terbaik : shoujo manga khas negeri Sakura.

Coba saja, banyak judul bertebaran dengan sang protagonis pria berkarakter mirip dengan Vino. Ganteng, dingin terhadap wanita, cenderung sinis, dan tak bersahabat.

Dari komik serial cantik inilah, muncul ide untuk memberinya bekal onigiri.

Tentu saja, aku membuatnya sedikit berbeda. Aku tahu menu makan Vino tak jauh dari nasi padang. Jadi, akan kubuatkan dia nasi kepal isi suwiran daging rendang. Dengan lalap daun singkong sebagai pelengkap.

Kumulai membuat nasi kepal. Beras khusus ini memang mempunyai tekstur yang mudah dibentuk. Alat-alat bento juga mempermudah kerjaku, berbekal video tutorial dari Youtube.

Setengah jam berlalu, aku sudah selesai membuat 4 kepal onigiri untuk Vino. Kubuat bentuk wajah tersenyum dengan lembaran rumput laut kering.

Ah, jantungku berdegup kencang. Selama ini aku selalu menunjukkan sisi tegarku. Mengapa rasa ini membuatku seakan rapuh?

Kutepis segala angan dan ekspektasi. Anggap saja kamu ingin memberinya sedikit perbaikan gizi, Tria. Begitu akal sehatku terus berucap.

Aku datang lebih pagi dari biasanya. Kutunggu Vino di dekat gerbang sekolah. Perkiraanku tak meleset. Tak sampai lima menit berlalu, sosok yang kunanti datang juga.

***

onigiri luv

pic taken from pinterest

“Hai!” sapaku sambil tersenyum sesantai mungkin. Vino balas melambaikan tangannya. “Tumben, lo dateng lebih cepet, Ya,” sahutnya keheranan.

“Iya, No. Gue bangun kepagian. Ya udah, mending berangkat lebih duluan. Enak, nggak macet jalanan,” ujarku.

“Oh, ya. Tadi gue bikin sarapan sendiri. Lumayan, ngirit. Gue bikinin lo sekalian, nih!” kusodorkan kotak bekal warna kuning ke tangannya.

Vino terlihat agak terkejut. Ada apa gerangan aku memberinya sarapan spesial.

“Lo kan tiap hari suka skip sarapan. Atau cuma nyeduh Popmie di kantin belakang. Sekali-kali makan yang beda, ya,” tawarku.

Vino masih terlihat ragu. Menggaruk-garuk bagian kepalanya yang botak. Aku mencoba mencairkan suasana.

“Nggak gue tambahin apa-apa kok. Langkahin dulu aja kalo ngeri gue pelet,” celetukku sambil nyengir.

Akhirnya, Vino menerima kotak bekal itu. Diintipnya sedikit, lalu ia buka seluruh tutupnya.

“Onigiri, ya?” senyumnya merekah. “Makasih ya, Ya. Gue pasti abisin,” janjinya.

Belum sempat aku mengucapkan ‘sama-sama’, tiba-tiba Vino berlari kencang. Ke luar gerbang sekolah. Meninggalkanku terpaku tak percaya. Mukaku pucat pasi. Apakah ini salah langkah? Mengapa akhirnya jadi begini?

Malu. Kecewa. Aku bergegas pergi. Menahan aliran air mata. Dadaku sesak. Cinta membuatku bodoh dan berharap terlalu tinggi. Demikian kutukku dalam hati.

Aku tak sanggup melihat wajah Vino nanti. Lebih baik aku istirahat di ruang UKS, sebelum nanti memohon izin pulang. Langkah terburu-buruku terhenti. Seseorang menarik tanganku. Menahanku untuk tidak segera pergi. Vino berdiri di belakangku.

“Sori, tadi gue ke depan sebentar,” ucapnya pelan. Sebuah bungkusan kertas cokelat berpindah tangan kepadaku.

“Lo temenin gue makan, ya. Udah dua mingguan, gue lihat lo nggak pernah jajan ini lagi,” katanya sambil tersenyum.

Kejutan apa ini, batinku sambil melihat isi bungkusan itu. Sebuah bakpau hangat yang begitu menggoda. “Kacang hitam manis, kesukaan lo, kan?” tanya Vino.

Pandanganku bertanya, bagaimana ia tahu?

“Lo hebat, bisa tahu apa makanan kesukaan gue waktu kecil. Padahal, gue nggak pernah cerita,” pujinya. Aku melayang. “Gue juga nggak pernah cerita, kalo gue suka bakpau ini,” balasku.

“Iya. Tapi, gue selalu lihat lo jajan bakpau ini hampir setiap pagi. Jadi, tebakan gue bener, kan?” telak sekali jawaban Vino ke dalam dadaku.

Kami berpandangan. Tersenyum. Tersipu. Hari ini, hatiku ikut meleleh. Mengalirkan rasa yang semakin deras.

Pangeran Es, bisakah kau bekukan waktu? Supaya onigiri, bakpau, dan dirimu di sampingku bisa mengisi perut dan waktuku tanpa batas.

 

 

#30dayswritingchallenge #day3 #blackandwhite
#ODOP2017 #week20 

Advertisements

7 thoughts on “Onigiri Untukmu

  1. Kereeeen amat mba Windaa 🙂 kebayang bisa jadi naskah FTV gt, dikembangin bs lho mba klo mau jd novel. Lucu ide onigiri dan bakpaunya. Ah masa SMA selalu banyak cerita yg bisa dibuat dari masa-masa saat SMA yaa hihi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s