Maafkan Aku, Kopo

Maafkan aku, Kopo (1)

“Mah, Gia mau kos saja di dekat kampus,” ujarku suatu sore. Mamah yang duduk di sofa bersamaku terkejut sesaat, lalu raut wajahnya kembali melembut. “Ada apa, Sayang? Kenapa tiba-tiba mau kos?” tanyanya sambil membelai rambutku.

Aku tergugu. Lidahku kelu. Apakah aku harus mengatakan yang sejujurnya? Sejurus kemudian, aku memutuskan untuk melakukan sebaliknya.

“Semester depan kuliah padat, Mah. Banyak kelas sore. Belum lagi beberapa dosen killer bakal mengajar. Alamat sering begadang buat selesaikan tugas,” jelasku. Mataku menghindar dari tatapan Mamah. Sembari dengan gelisah memilin ujung kaus oblong biru tua kesayanganku.

“Gia nggak mau cerita sama Mamah? Kenapa tiba-tiba mau pindah?” tanyanya mencoba mengorek informasi. Sepertinya, Mamah sangat mengenal anaknya. Ia tahu setiap kegelisahan. Kebohongan yang tersembunyi. Kejujuran yang dikubur atas nama gengsi.

“Nggak ada apa-apa, Mah. Gia ingin lebih fokus kuliah saja. Nanti Gia mau kos bareng Yona,“ kusebutkan nama sahabat karibku sejak SMP, yang kuliah di universitas yang sama denganku. “Bulan depan, ada beberapa kamar kosong di kos Yona. Udah pada lulus yang nempatinnya,” sahutku pelan. Kupaksakan sebuah senyum terulas sambil menggenggam tangan kanan Mamah.

“Gia nggak kenapa-kenapa, Mah. Mamah nggak usah kepikiran,” kataku mencoba menenangkan. “Bulan pertama, biar saja Gia yang bayar pakai uang tabungan. Bulan berikutnya, Gia bisa cari tambahan dan menghemat uang ongkos sama makan siang,” aku coba meyakinkan Mamah yang sepintas masih tampak ragu.

Mamah balas tersenyum. Aku sangat tahu. Ia coba menyingkirkan keraguannya dengan menaruh kepercayaan lebih kepadaku. Gadis kecilnya kini telah berusia 20 tahun. Sudah waktunya ia mendapatkan tanggung jawab lebih, mungkin itu pikirnya.

“Oke, bilang Mamah ya, apa yang bisa Mamah bantu,” tawarnya ramah.

“Terima kasih, Mamah sayang,” seruku sambil memeluknya erat.

Akhirnya, aku bisa melepaskan kutukan tempat tinggal ini pelan-pelan. Hore!

 

***

WhatsApp Image 2017-05-20 at 21.53.20.jpeg

taken from my personal Path post

“Rumah kamu di Kopo? Nggak kurang jauh?”
“Ya ampun, itu sih tempat jin buang anak!”
“Ah, ke Kopo sih macetnya ngalahin macet jalan tol ke Jakarta!”
“Bandung coret aja bangga!”

Itu cuma segelintir komentar yang sudah sangat kenyang kudapatkan tentang rumahku. Papah dan Mamah tinggal di sini sejak awal era 80-an. Mendapatkan warisan rumah dari Aki, sesaat setelah pernikahan, Kopo telah menjadi satu-satunya rumah bagiku. Dulu, masih banyak sawah terbentang. Sekarang sudah diganti dengan pabrik, tempat belanja, ribuan kendaraan bermotor, termasuk truk-truk dan bus-bus melewati jalan raya.

Pernah aku melewatkan liburan di Jakarta, tepatnya kawasan Rawamangun, selepas lulus SMA. Aku tinggal di rumah keluarga Teh Rina, salah satu sepupuku. Kucoba berkeliling dengan kendaraan umum, baru tiga hari, aku sudah ingin pulang. Kemacetannya di luar akal sehat. Sepertinya, kawan-kawan yang mengolok-olokku itu belum merasakan kejamnya Ibukota.

Namun, tetap saja, hatiku sudah tertambat di Bandung. Hingga kini aku masih menjomblo pun, salah satunya karena setiap cowok yang dekat denganku, seakan menyerah kalah dengan kemacetan Kopo. Padahal, rumahku masih termasuk kawasan Kotamadya Bandung. Aku masih salah satu warga yang dipimpin oleh Kang Emil.

Tetap saja kharisma Pak Wali tidak menular kepadaku dan Kopo-ku tersayang.

“Janjian langsung di BIP aja, ya?” ucap Rendy di kencan pedekate perdana kami.

“Duh, saya ongkosin taksi deh. Kamu pulang sendiri bisa kan?” Prama menawarkan ketika ia sudah membayangkan berjibaku dengan angkot dan motor-motor di sebuah sore yang dihiasi hujan rintik-rintik.

“Motorku mogok di Buah Batu, Gi. Abis rumah kamu jauh bener, nggak kuat si Vespa butut ini,” keluh Bima, si imut dari Riung Bandung, ketika aku sudah menunggu 2 jam untuk dijemput.

Apes banget. Aku gagal ditembak karena semua cowok udah alergi duluan dengan kata “rumah di Kopo”.

Semoga keputusanku untuk pindah akan mengubah keberuntunganku. Maafkan aku, Kopo. Aku terpaksa berkhianat. Aku bosan selalu sendiri.
***
Dengan tergesa, kubongkar isi tas ransel kanvasku untuk kesekian kalinya. Tidak ada! Dompetku raib entah kemana. Lemas rasanya kehilangan barang berharga ini. Uang untuk membayar kamar kos baru. Kartu-kartu identitas. Foto-foto kenangan. Hilang tak bersisa.

Aku tersedu di balik pintu. Mencoba mengorek memori. Kemana gerangan kutinggalkan dompetku terakhir kali.

Waktu jajan seblak di depan kampus, kuingat masih mengeluarkannya. Lalu, waktu membayar ongkos bus Damri Dago-Leuwipanjang, kuambil uang dari kembalian seblak yang kusimpan di saku celana.

Pikiranku terasa berkabut. Bagaimana ini?

Aku harus segera datang ke kantor polisi dan mengurus surat kehilangan. Datang ke bank Senin pagi, lalu ke kantor tata usaha dan administrasi kampus. Memikirkannya saja kepalaku sudah berputar tujuh puluh keliling.

Kurebahkan tubuhku di ranjang. Memejamkan mata. Mungkin ini karma karena tidak jujur dengan Mamah, batinku. Sebuah sentilan atas ketidakjujuran.

Entah berapa lama, aku terlelap. Kepenatanku takluk oleh empuknya alas tidur dan pikiran yang merengek minta diistirahatkan.
***

TING TONG!

Bel rumah berbunyi. Serta merta aku bangun, membuka pintu kamar. Kurapikan kemeja jins yang acak-acakan sambil menguncir rambut sebahuku. Bergegas menuju pintu depan. Siapa gerangan datang saat aku sendirian di rumah seperti ini?

Begitu pintu terbuka. Aku terpesona.

Seorang cowok, mungkin dua tiga tahun lebih tua dariku, berdiri di depan pagar. Matanya teduh,  wajahnya tanpa cela. Dengan badan langsing dan cukup terjaga kebugarannya. Penampilannya pun sederhana, kaus oblong, celana jins, dan sepatu kets. Semua senada, warna biru tua favoritku.

“Maaf, benar ini rumah Gianti Aprilia?” sahut cowok menawan dari balik pagar hitamku.

“Ya, betul. Ada apa ya, Aa?” sahutku spontan menyebutnya akrab. Dengan pasti, aku berjalan ke arah pagar depan. Tak ada rasa curiga sedikit pun terhadapnya.

“Tadi dompet kamu jatuh di Damri. Mau saya kejar, keburu naik angkot,” jelasnya sambil tersenyum simpul. Senyum yang sangat manis. Sekilas tercium semerbak aroma wewangian musk menggelitik hidungku.

Cowok manis mengeluarkan sebuah dompet berbahan denim dari dalam ranselnya yang berbahan serupa. Itu dompetku yang kucari sejak tadi.

Alhamdulillah, ketemu juga!” teriakku gembira, sampai lupa memintanya masuk ke dalam.

Aku kegirangan lalu berjoget tanpa sadar. Hingga suara cekikikan tertahan terdengar darinya. Mukaku bersemu merah.

“Makasih, Aa. Ayo, duduk dulu sebentar. Kasihan, sudah capek-capek cari rumah saya. Rumah yang jauh dari mana-mana ini,” celetukku tak tertahan.

Sambil melangkah masuk, ia tertawa. “Ah, nggak juga. Rumah saya juga sama jauhnya,” sahutnya cepat.

“Lho, emang rumah Aa dimana?” tanyaku.

Setelah mendudukkan diri kami di kursi rotan teras depan, kuangsurkan segelas air mineral kepadanya.

Ia menyedot, meneguk, lalu melanjutkan percakapan. “Oh, ya, kita belum kenalan. Saya Arfi, rumah saya di Jalan Andromeda, dekat taman,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

“Panggil aku Gia. Eh, sebentar, Jalan Andromeda yang RT 06? Di kompleks ini juga kan?” kubalas jabat tangan hangatnya, sambil mencoba mencerna kata-katanya.

“Wah, saya nggak hafal RT berapa, hehehe. Maklum, baru pindah seminggu ke sini,” jawabnya sambil tertawa renyah. “Oh ya, coba diperiksa dulu isi dompetnya. Apa masih lengkap semua? Saya tadi cuma intip KTP-nya saja, sih,” sarannya.

Sejurus kuperiksa seisi dompet. Tidak ada yang lenyap. Semua masih sama seperti kulihat terakhir kali. “Nggak ada, Aa. Sekali lagi makasih banyak, ya!” ucapku riang.

“Oya, kalau boleh, bisa minta nomor HP-nya? Siapa tahu saya butuh ditemani untuk lihat-lihat sekitar sini,” sebuah kalimat yang membuatku semakin melayang. Nomor ponsel pun saling mengisi daftar kontak masing-masing.

Rupanya, belum cukup hatiku diaduk sore itu.

“Gia, lusa nanti mobil saya sudah datang dari Surabaya. Nanti bisa barengan pergi kuliahnya. Kantor saya nggak jauh dari kampus kamu. Biar ada temen ngobrol. Dari Kopo ke Dago, lumayan panjang ya perjalanannya,” Arfi menutup percakapan dengan begitu spektakuler.

Aku hanya bisa mengangguk dan tersenyum malu. Tak sabar ingin segera menelepon Yona, membatalkan niatku kos bulan depan.

Sepertinya, kini aku punya alasan baru, untuk bangga pada Kopo kali ini.

 

#30dayswritingchallenge #day2 #whereilive
#ODOP2017 #week20

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s