Stop Jadi Emak Labil : Percaya Diri dengan Pilihan Gaya Pengasuhanmu

#WorldLanguageSociety (1)

Tahun ini gue akan merayakan 5 tahun resmi menjadi seorang mama. Berarti, hampir 5 tahun sudah sejak pertama kali gue menyandang status newbie mom. Hari demi hari berlalu, banyak hal yang gue pelajari untuk mengasuh anak. Mulai dari informasi di media, cerita pengalaman orang lain, maupun hal-hal yang gue alami sendiri dan gue petik hikmah atau pelajarannya.

Salah satu keputusan terbaik dalam kehidupan gue sebagai mama adalah bergabung dengan birth club sebagai support group. Di sini, gue menemukan teman-teman senasib seperjuangan, teman bertukar cerita, berbagi informasi, sampai berakrab ria, like my own girl gank. Bergabung dengan support group membuat gue bisa belajar, salah satunya untuk mengelola ekspektasi dan menjauhkan diri dari status ‘emak labil’.

Emak labil? Apakah sang emak ini sebenernya adalah abege atau tokoh utama FTV? Yang selalu dibingungkan oleh mengambil keputusan?

Oke, sebelum menjelaskan inti dari tulisan ini, gue mau menumpahkan kegelisahan, hasil menelusuri linimasa media sosial gue sendiri.

Tersebutlah, ada seorang tokoh, wanita yang juga ibu dari banyak anak. Menerapkan gaya pengasuhan yang inspiratif, yaitu dari keputusannya melakukan homeschooling, mendidik anak-anaknya mandiri dan membantunya (karena tiadanya ART yang membantu), hingga banyak pandangan hidupnya yang memang gue nilai bijak.

Lagi-lagi, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Memang, sosok ibu X ini terlihat sangat ideal. Saking idealnya, banyak mamah muda pemuja beliau yang menjadi galau tak berujung. Galaunya berimbas ke arah krisis identitas, alias terlihat tidak percaya diri dengan pilihan gaya pengasuhannya. Kalau tidak sejalan dengan sang ibu idola, seperti melakukan dosa besar, terancam masuk neraka, dan siap dicap sebagai orang tua durhaka.

Contoh sederhana, sang ibu idola ini menyampaikan preferensinya untuk memberikan screen time kepada anak-anak dengan batasan waktu, jenis, dan tema tontonan untuk anak-anaknya. Dari cerita apa yang dia terapkan, berlanjut hingga komentar-komentar yang jadi bertanya kepada sang ibu idola. “Film ini boleh nggak? Oh, jadi serial ini tidak bagus ya?” Waktu itu, yang gue ingat, alasannya adalah menghindari tontonan fantasi pada anak. Alasannya ke arah mengaburkan kenyataan dan khayalan.

Terlihat dari komentar-komentar yang berderet, banyak mahmud yang langsung menggalau. Upin Ipin kesayangan dituding tontonan tak berkualitas. Mickey Mouse idola sejak kecil, bisa jadi tak menghadirkan manfaat bagi anak. Para mahmud ini terlihat ketakutan. Takut dianggap gagal menjadi seorang ibu. Sebuah vonis mematikan yang paling menghancurkan hati seorang wanita.

Ternyata, topik ini muncul lagi di salah satu grup media sosial yang gue ikuti. Pertanyaan tentang pengenalan cerita fiksi dan fantasi kepada anak. Untunglah, kali ini gue lihat mahmud yang menanggapi, sudah lebih cerdas menyikapi.

Gue pun ikut sumbang pendapat, yang pada dasarnya, gue memilih untuk mengenalkan-membatasi-mengawasi-mendampingi. It’s all about parental control. Anak perlu asupan imajinasi dan itu tidak akan merusaknya, sepanjang kewajiban kita sebagai orang tua menjadi pengajar, penyaring, teladan, dan pembimbing baginya. Mungkin ini kedengarannya penuh kontroversi. Entah kenapa, buat gue, memaksakan idealisme pada anak, meskipun itu ajaran agama, biasanya membuat anak nantinya melaksanakan tidak dengan ikhlas dan penuh kesadaran. Ini yang membuat mereka pun gampang tergoda atau bisa jadi berontak karena muak diatur sedemikian rupa.

Apa yang gue cermati dari penelusuran tadi? Banyak mahmud yang tidak percaya diri dengan pilihannya sendiri. Si A bilang buruk, langsung gelagapan. Si B menganjurkan ini, langsung serta merta ikut ganti haluan. Tanpa melihat dan memikirkan, cocok nggak untuk diaplikasikan. Kemanapun arah angin berhembus, ke sanalah ia mengikuti. Krisis identitas seorang mama, dimana anaknya sendiri diasuh bukan atas dasar keyakinannya dan suami, namun demi memenuhi ekspektasi orang lain. Atau, supaya bisa sama persis dengan sang idola, bentuk pemujaan yang kelewat batas. Ini sekarang banyak melanda emak-emak followers setia emak-emak selebgram. Kalau minjem istilahnya Umix Tanti, “banyak terjadi di kota-kota besar” hehehe.

funny-motherhood-quotes-05

pic taken from thechampatree.in

Believe it or not, masalah good mom vs bad mom ini entah dimana ujung akhirnya. Dari mulai memilih metode persalinan, sampai masalah pilihan tontonan anak, tak lepas dari penghakiman, ‘penilaian sebelah mata’, dan perdebatan. Saya lebih baik dari kamu. Saya benar, kamu salah. Berputar-putar terus bak labirin lubang hitam.

Gue sangat suka dengan artikel Jihan Davincka ini, hingga ungkapan every mom has her own battle, menjadi sebuah jargon yang gue pegang dalam mengarungi petualangan sebagai seorang mama. Gue pernah mengalami berada di posisi seorang newbie dalam dunia motherhood. Panik, ingin menyenangkan banyak pihak, idealis, you name it. And I learned the hard way, sampai gue terbaring di rumah sakit, badan dan pikiran nggak sanggup menanggung tuntutan diri sendiri.

Sejak itu, gue berubah haluan. Dengarkan apa kata hati, diskusikan dengan suami. Rumput tetangga akan selalu terlihat hijau. Padahal, anak kita adalah produk istimewa. Walaupun dari adonan yang sama sekalipun, si kakak dan si adik bukan produk fotokopi. Apalagi dengan anak orang lain, mereka punya keunikan sendiri.

Belajar bareng, yuk! Jadi emak yang cerdas. Setiap ada informasi, diricek kebenarannya. Cari sumber terpercaya untuk mendukung pertimbangan. Selesai periksa dengan nalar, tanyakan kembali ke dalam hati kecil. Cocokkah ini untuk anak gue? Apakah gue bisa ikhlas menjalankan ini? Sesuai nggak dengan jalan yang sudah disepakati gue dan suami? Then, make your own responsible decision.

Nggak perlu takut sama nyinyiran, sindiran, judgement, prasangka orang lain. Biarkan mereka berkomentar, tetapi bukan mereka yang mengendalikan hidup lo dan keluarga lo. Seseorang berniat baik akan menyampaikan saran dengan cara yang baik pula. Lo berhak memilih, masukan mana yang bakal dipilih atau hanya sekadar didengarkan saja. Asal, kalo udah memilih untuk ngeyel, nggak perlu cari pihak lain untuk disalahkan atau dikambinghitamkan. Berbesar hatilah mengakui kesalahan yang kita buat, sebelum bangkit lagi mencari solusi.

My two cents, sepanjang yang lo lakukan itu tidak membahayakan diri lo, anak lo, atau orang lain, baik secara fisik maupun mental, just give it a try. Selalu pegang prinsip ABCD : awasi, batasi, cukupi, dampingi. Always stay on moderation. Yang sedang-sedang saja.

Walaupun gue menulis artikel-artikel keluarga saat ini, gue mencoba menerapkan apa yang gue terima dan tulis dengan realistis. Berusaha untuk menahan lambungan ekspektasi dan idealisme berlebihan. Memang, ada kalanya perjalanan pengasuhan gue nggak mulus. Masih ada sabar yang kurang stok, perhatian yang kurang fokus, tubuh yang mudah lelah, tergoda untuk bersenang-senang sendiri.

Yet, I am eager to learn and to try my best, every single time.

54f5f752636f78461909d6fc0c30e8f0

pic taken from pinterest

Apapun pilihan gaya pengasuhan lo, don’t be too hard on yourself. Jatuhkan pilihan setelah pertimbangan matang, dari lo dan pasangan. Parenthood is one tough and mean job, filled with lots of blessings, too.

Kesempurnaan itu bukan milik manusia. Setiap kita terjatuh, lebih baik segera bangkit ketimbang meraung-raung merutuki dan menyalahkan. Percayalah pada pilihanmu, because mom knows best.

Adakah uneg-uneg perjalanan motherhood yang mau lo share? Ceritakan di kolom comments ya!

 

#ODOP2017 #week17 #post45

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s