Don’t Come Near Me

dont come near me pic

Jaket tudung abu-abu lusuh itu kembali menarik perhatianku. Tepatnya, gadis yang memakainya. Lagi-lagi, ia bermain sendirian. Mengais-ngais tanah dengan jemari lentiknya. Celana jins yang dipakainya terlihat semakin belel, bercampur dengan debu yang menghinggapinya.

Rasa penasaran kian menyergapku. Aku ingin memangsanya.

Tubuh semampainya memang menggoda. Kuperkirakan ia berusia 9 tahun. Bisa jadi lebih muda dari itu, hanya tubuhnya yang lebih tinggi dari gadis seusianya. Keranuman dalam keluguan. Loli yang diimpikan oleh pria-pria sepertiku.

Bukan cuma sekali dua kali aku berusaha mendekatinya. Namun, dewi fortuna belum berpihak kepadaku. Ia terlanjur mengambil langkah seribu. Atau ada saja gangguan lain yang membatalkan niatku berakrab dengannya.

Yah, tidak semua gangguan itu menyebalkan, sih. Seperti yang terjadi minggu lalu. Nurma, anak tetanggaku yang tiba-tiba datang dan bergelayut manja kepadaku. Sambil memilin-milin ujung terusan merah jambunya yang sebatas lutut. Bibirnya merengek, matanya memancarkan sinar yang kusuka. Birahi dini yang seharusnya baru hadir belasan tahun nanti.

Nurma adalah satu dari sekian gadis cilik yang sudah terbius pesonaku. Mencicipi kenikmatan dan kehangatan seorang pria dewasa. Rasa takut ataupun ingin tahu, telah berubah menjadi dahaga yang tak tertahankan.

“Kak Rio, aku mau lagi dong main dokter-dokteran,” ucapnya sambil berkedip genit. “Aku nggak enak badan, Kak. Harus disuntik,” kodenya untuk mengajakku naik ranjang.

Rutin berhubungan denganku sejak usia 5 tahun hingga kini ia duduk di kelas 5 SD, Nurma merasa harinya tak lengkap tanpa melayaniku. Atau, aku yang melayani dia, ya? Hahahaha, tak penting yang mana. Yang penting sama-sama enak dan terus berlanjut.

Kisah Nurma menjadi salah satu cerita paling dinanti oleh kawan-kawan sesamaku di grup Lolly Lovers. Bahkan, Yogi dan Greg, dua kawan dari grup, sudah ikutan kopdar denganku dan Nurma. Bisa ditebak, apa yang kami lakukan bersama. Tak lupa video pesta binal kami diunggah ke dalam grup. Bagi-bagi rezeki, dong. Setidaknya, yang lain bisa mencobanya dengan loli kesayangan masing-masing.

Kembali lagi kepada kijang cantik incaranku. Kuingat saran-saran ketika aku menceritakan kegalauan ini di grup semalam.

Deketin halus aja, bro.
Lo ajak anak cewek lain buat mancing dia.
Culik trus langsung garap!
Bikin dia nyaman dulu, lah. Pake sulap atau bercanda lucu. Biar dia merasa lo nggak berbahaya.

Masih ada puluhan komentar lainnya, yang sudah kucatat rapi. Akan kucoba satu persatu. Hingga gadis ini jatuh dalam jeratanku.

***

“Anca. Hai, kamu Anca, ya?”
Suara kubuat semanis madu. Senyum mempesona dalam mode “kakak-baik-hati”.

“Sini, main bareng. Aku Nurma. Ada Indah, sama Putri. Nanti sekalian juga foto buat di Instagram-nya Nurma. Kakak yang fotoin kita nanti,” Nurma maju, ikut membujuk Anca.

Anca berdiri dari posisi jongkoknya. Membersihkan celana jins dan kaus kuningnya dari debu yang menempel. Mata cokelat bulatnya menatap kami bergantian. Menyelidik. Mencoba mencari tahu maksud yang tersembunyi.

“Aku tidak kenal kalian!” sahutnya kencang. Tiba-tiba, ia berlari secepat kilat, menubruk kami dan pergi ke arah pemukiman yang tak jauh dari tanah lapang ini.

Ketiga loli-ku, Nurma, Indah, dan Putri, hanya tertegun. Nafsu menguasaiku. Sontak, aku pergi mengejar Anca. Rupanya, hari ini aku beruntung. Anca tersandung polisi tidur dan terjerembab cukup keras. Air matanya mengalir. Ia menggigit bibir menahan rasa sakit. Nampaknya, lututnya terluka cukup parah tergesek aspal. Ia kesulitan berdiri.

Ini kesempatanku.

“Kamu nggak apa-apa, Anca? Kakak obatin lukamu, ya,” ucapku dengan topeng malaikat.

“Yuk, pegangan sama Kakak. Rumah Kakak dekat dari sini. Habis diobati, nanti Kakak antar Anca pulang,” bujukku kepada Anca yang sepertinya akan turut pada kemauanku.

Benar saja, ia mengangguk walau terlihat ragu. Ia sadar, tak ada pilihan lain di jalan yang sepi ini.

Sebentar lagi, aku akan memberimu pengalaman baru. Kau akan jadi milikku, wahai kijang mungilku. Setan tertawa bersamaku di atas birahi yang menggelegak.

Kata-kata Anca berikutnya, terdengar bak melodi surgawi di telingaku.

“Kakak langsung antar Anca ke rumah saja. Di rumah Anca, lagi nggak ada siapa-siapa.”

Rupanya, selalu ada buah manis untuk mereka yang bersabar. Ini lebih mudah dari yang kukira.

“Sini, Kakak bantu berdiri,” kurangkul Anca di pinggangnya. “Banyak banget ini debunya,” lanjutku sambil berpura-pura membersihkan debu di celananya. Kuraba bagian belakang tubuhnya. Membayangkan tanpa helai pakaian menutupinya.

Anca yang begitu polos, tidak menyadari niat bejatku. Ia diam saja ketika kupapah ia masuk ke dalam mobilku yang terparkir tak jauh dari tanah lapang. Melihat aku sebagai pria yang mungkin mirip seperti pamannya, mempunyai kendaraan bagus dan bersikap ramah.

Anca mulai meruntuhkan temboknya. Meskipun hanya menjawab pertanyaanku pendek-pendek mengenai dirinya, ia tak lagi membuang wajahnya dariku. Sewaktu kububuhkan obat di lukanya pun, ia tidak melawan. Meniup-niup luka dengan bibir mungilnya. Kutahan nafsuku untuk tidak serta merta memagutnya.

Tahan sebentar, biar nanti enaknya lama.
Begitu kata isi kepalaku yang panas.

Tudung abu-abu tetap menempel di kepalanya. Namun, aku kini dapat melihat jelas wajahnya. Kulitnya kuning pucat, bibirnya tipis, seperti ada keturunan Jepang. Lengkap sudah fantasiku memiliki loli seperti tokoh dalam manga.

Lima belas menit kemudian, tibalah kami di sebuah rumah mungil. Di sekelilingnya masih berupa areal persawahan. Tetangga terdekat terletak sekitar 300 meter dari rumah itu. Wow, sempurna sekali. Berteriak pun sepertinya tidak akan ada yang mendengar. Di benakku, berbagai macam tindakan sudah terencana untuk Anca. Mana yang akan pertama kulakukan hari ini, aku biarkan nanti semua mengalir begitu saja.

Anca turun lebih dulu. Dengan langkah tertatih, ia membukakan pagar dan masuk ke dalam. Sementara aku memarkir mobilku agak jauh dari rumah Anca. Tampaknya ia tidak akan kabur lagi, batinku.

Sekembalinya memarkir, Anca sudah menyambutku di teras. Segelas es jeruk disajikannya di atas meja. Sementara ia telah meneguk lebih dulu es jeruk miliknya. “Maaf, ya Kak. Adanya ini. Aku minum duluan, ya!” serunya menenggak es jeruk.

Kugandeng Anca masuk ke dalam rumah. Memastikan tidak ada orang lain yang melihat kami. Di luar dugaan, Anca seperti kerbau dicocok hidungnya. Membiarkan tangannya digenggam olehku.

“Kak, tunggu sebentar ya. Anca mau ke toilet dulu. Minum dulu, pasti Kakak haus,” ujarnya sambil tersenyum kecil. Wajahnya terlihat semakin menggemaskan. Anca pun menghilang ke bagian belakang.

Kuperhatikan rumah Anca. Dekorasi minimalis, dengan nuansa monokromatik. Tampak tak banyak perabot di sana. Foto pun tak ada satu pun. Sebuah meja berisi boneka-boneka saja yang menandakan ada anak perempuan yang tinggal di sana.

Aku menyesap es jeruk, rasanya enak mengalir di kerongkonganku yang kering. Tak terasa, segelas pun tandas sudah. Aku terduduk melepas lelah. Sembari memberitahukan apa yang terjadi hari ini kepada kawan-kawan di grup Lolly Lovers. Komentar-komentar pun segera bermunculan.

Good luck, bro. Selamat menikmati hahahaha.
First timer kudu pelan-pelan. Pake pelumas jangan lupa.
Videoin! Ane butuh bahan, Gan!
Aku tertawa-tawa membacanya. Betapa persaudaraan kami begitu kuat. Kuhitung, hari ini, sudah 7500 anggota bergabung dalam grup Facebook kami. Padahal baru 6 bulan, grup ini terbentuk pertama kali. Indonesia memang pasar menjanjikan untuk kami, surga kaum pedofilia.

Anca belum juga datang. Rasa kantuk pun tahu-tahu menyerang. Mengapa seperti ada angin semilir terus-terusan berhembus. Membelaiku, mengajakku ke alam mimpi. Tak kuasa aku menolaknya. Mataku pun terpejam tanpa diminta. Kegelapan menyelimuti.

***
“Kakak, bangun. Kok malah tidur, sih? Capek, ya?” suara Anca sayup-sayup terdengar. Aku berusaha membuka mata yang begitu lekat seperti dilem. “Anca, kamu kemana aja?” sahutku dengan suara parau. Mengapa tubuhku seperti melayang?

“Kak, ini ada yang mau ngomong sama Kakak. Anca tinggal lagi, ya.”

Sebelum aku dapat menahannya pergi, sebuah tangan mencengkeramku kuat.

“Saudara Rio, Anda ikut dengan saya ke kantor! Anda ditahan atas tuduhan pencabulan anak di bawah umur!”

Sial. Mati aku.

***

EPILOG :

Om Yusuf marah sekaligus bangga padaku. Menurutnya, aku terlalu berani memancing laki-laki itu melakukan kejahatan terhadapku. Padahal, semua rencana ini sudah kusiapkan matang-matang. Komik dan film detektif favoritku menjadi sumber segala ide menyeret laki-laki jahat itu ke jurang yang dalam. Aku memang baru berumur 8 tahun, tetapi aku tahu betapa istimewa diriku. Kalau tidak, mustahil aku bisa duduk di kelas 6 SD saat ini. Anugerah di dalam otakku ini harus kumanfaatkan untuk kebaikan.

Aku tahu ada yang tidak beres sejak Tari begitu ketakutan melihat Kak Rio menyapaku bulan lalu sepulang sekolah.

Tak kusangka, di balik penampilannya, ia benar-benar seperti serigala berbulu domba. Ialah penyebab Tari, satu-satunya sahabatku menjadi tiba-tiba murung dan menutup diri.  Aku syok. Hal-hal yang selama ini hanya kudengar dari cerita Mama dan Om Yusuf, mengenai orang-orang yang berbuat jahat terhadap anak-anak kecil sepertiku, kusaksikan sendiri akibatnya pada orang yang kusayangi.

Tari tidak seberuntung aku. Mendapatkan ilmu dari Mama dan Om Yusuf, adik almarhum Papa, yang senantiasa melindungiku. Mengajariku bagaimana bisa menjadi pahlawan atas diriku sendiri. Hari ini, aku menjadi pahlawan untuk Tari. Dan entah siapa anak-anak lain yang menjadi korbannya. Mungkin juga anak-anak perempuan yang tadi menghampiriku, akan lega mendengar si kejam itu sudah berada di dalam penjara.

Kuambil sebagian pil tidur Nenek diam-diam minggu lalu ketika berkunjung ke panti jompo. Kuhancurkan dan kumasukkan ke dalam minumannya. Ada cukup waktu bagiku menghubungi Om Yusuf di kantor kepolisian yang tak jauh dari sini. Untunglah, Om Yusuf tiba tepat pada waktunya.

Om Yusuf berjanji akan melindungi aku, Tari, dan para korban Kak Rio lainnya. Di balik kegeramannya melihat aksi nekatku, aku tahu ia lega dan bangga. Aku akan mengikuti jejaknya nanti. Menjadi penegak hukum, pembela yang lemah, pemberantas kejahatan.

***

Catatan penulis :

Berita tentang grup Facebook berisi pria-pria pedofilia menjadi highlight of the week. Banyak tulisan pun bermunculan menanggapi kasus ini. Seperti biasa, gue sulit mengungkapkan rasa yang udah campur aduk di dalam hati. Geram, kecewa, jijik, sampai impian digulungnya semua pria bejat seperti ini dari bumi.

Muncul ide cerita ini. Seperti cerita yang pernah gue tulis, Pintu Kayu dan Iblis Durjana (yang kisahnya mirip, melawan child abuser), gue kembali menciptakan tokoh gadis cerdas yang menjadi pahlawan. Tak hanya bagi dirinya sendiri, tetapi bagi orang lain.

Sedikit banyak, cerita ini mirip juga dengan sebuah film berjudul Hard Candy, dibintangi Ellen Page. Cuma, ini versi yang sangat halus, ya. Film Hard Candy jauh lebih sadis dan konfliknya lebih rumit.

Cerita ini bukan untuk memberi inspirasi supaya anak-anak nekat melawan dengan cara main hakim sendiri. Namun, setidaknya, bekali anak-anak dengan kemampuan “membela diri”, dimulai dari menghindar, berkata TIDAK, dan sigap melapor kalau ada sesuatu yang tidak beres.

Indonesia semakin jelas mengalami darurat kekerasan seksual anak (selain pada wanita dewasa juga). Kalau bukan kita yang memulai putuskan lingkaran setan ini, siapa lagi?

#ODOP2017 #week11 #post15

Advertisements

One thought on “Don’t Come Near Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s