Resume Kulwap : Minat Baca Anak – Part 3

69821dfb9a0beefe5f344ad2af461b10

pic from enkivillage

Setelah memposting dua bagian resume kulwap tentang Minat Baca Anak, ternyata ada bagian ketiga yang ditayangkan sehari setelah kulwap pertama, yaitu Kamis, 23 Februari 2017. Harusnya sih, gue langsung lanjutin ya. Sayangnya, tumpukan tugas, mulai dari kejar deadline artikel dan persiapan usaha baru, menyita waktu dan pikiran, jadilah malem ini gue ngumpulin niat dan sisa tenaga buat bikin post yang satu ini.

Oke, inilah lanjutan sekaligus bagian terakhir dari resume kulwap Minat Baca Anak yang diadakan Diskusi Emak Kekinian. Seperti biasa, resume ini udah gue edit sehingga mudah dibaca dan dapet poin-poin pentingnya. Selamat belajar!

TEMA 7 : Kendala pembiasaan membaca di rumah

Q : Anak saya umur 7 tahun, hobinya main game. Sementara di rumah tidak ada ART, sehingga saya kerap direpotkan oleh pekerjaan rumah tangga. Saat saya memilih untuk mendampingi membaca, kadang waktu saya mengurus rumah tangga menjadi terbengkalai. Bagaimana tips me-manage waktu menemani anak membaca di rumah, tanpa membuat tugas saya lainnya berantakan?

A : Ini soal prioritas, Mbak. Kalau harus memilih antara menyediakan waktu khusus sama anak dan mengerjakan urusan rumah, saya pribadi lebih memilih mengalihkan urusan rumah ke pihak ketiga. Nggak harus pakai ART; bisa mengirim baju ke jasa laundry, beli makanan jadi lewat katering, dsb.

Karena membuat anak suka membaca (apalagi sudah suka games sebelumnya) itu amat takes time. Butuh investasi waktu yang nggak sebentar. Jadi, memang kita yang harus mau mengalah. Atau, kalau memang sulit menggunakan pihak ketiga, mau nggak mau bangun lebih pagi dan tidur lebih malam. Kerjakan semua urusan domestik sehingga nggak perlu mengambil jatah waktu berkualitas sama anak.

Q : Di materi, ada poin menyebutkan bahwa “apa yang anak lihat, maka itulah yang anak tiru”. Apakah hal itu berlaku secara umum atau pada kasus tertentu bisa tidak demikian? Apakah anak bisa memiliki kebiasaan membaca sendiri meskipun orang tuanya tidak memberi contoh ataupun membiasakan?

A : ‘Children see children do’ itu berlaku umum. Jadi untuk bikin anak suka baca, mutlak orang tua mesti kasih contohnya. Terutama, saat anak masih usia balita. Anak perlu contoh nyata bahwa buku di rumahnya nggak sekedar tergeletak jadi benda. Buku baiknya dijadikan rujukan ayah ibu untuk jawab segala pertanyaannya. Juga jadi sumber hiburan yang kerap didongengkan oleh mama papanya.

Apakah ada anak yang bisa suka baca padahal ayah ibunya nggak?

Ada saja, tetapi mungkin jumlahnya nggak seberapa. Itu pun pasti ada pengaruh dari significant others-nya yg lain, misalnya kakek-nenek, teman, dsb.

#####

TEMA 8 :  Pembiasaan membaca sejak dalam kandungan

Q : Bagaimana cara mengajak (calon) anak yang masih di dalam kandungan untuk suka membaca? Apakah si ibu harus membaca keras? Apakah punya target tiap hari baca berapa lembar/buku?

A : Membacakan buku sejak dari kandungan, bisa dengan berbagai cara. Baca dalam hati ataupun read aloud (membaca keras/nyaring). Keduanya sama-sama akan tersampaikan pada si janin, Inshaa Allah.

Untuk target, dibawa santai aja. Menyediakan waktu membaca sekali dalam sehari sudah cukup.


Q : Berapa lama waktu yang diperlukan dalam sehari untuk membaca agar terbentuk kebiasaan membaca di keluarga? Kemudian, bacaan apa saja sebaiknya dipilih oleh oleh ibu hamil? Apakah juga harus disertai dengan berinteraksi dengan si jabang bayi?

A : Untuk membentuk kebiasaan, IMO, akan berbeda di tiap keluarga. Kami pribadi,  nggak pake target-targetan, yang penting selalu ada interaksi antara anak dengan buku-buku setiap harinya.

Interaksi di sini nggak harus bacain buku sampai selesai. Terkadang cuma bolak-balik liat gambar, atau nyusun buku-bukunya jadi terowongan, dll. Yang penting ada interaksinya 🙂

Kalau untuk buku apa yang sebaiknya dibaca saat hamil; jelas yang utama adalah kitab suci agama kita. Selain itu, ibu bisa memilih cerita-cerita sederhana yang kontennya menanamkan value (nilai-nilai baik) dalam diri anak. Membaca dengan mengajak janin interaksi? Wahhhh, itu bagus sekali!

#####

739cb804d2e2f540cf3aa0ace2157d1d

pic from pinterest

TEMA 9 : Pengajaran membaca

Q : Anak saya (umur 3y9m), alhamdulillah sejak kecil suka sekali dengan buku. Sampai sekarang, kalau mau tidur harus baca buku. Namun, ia hanya tertarik pada satu tema, yaitu tema binatang. Apakah di usia anak saya ini ketika saya membacakan buku, boleh sembari saya ajari dia membaca?

A : Waah! Masya Allah, selalu seneng deh denger cerita seperti ini! Untuk usia 3y9m, kemampuan membaca belum perlu dijadikan target. Tetapi, kalau mau sekadar dikenalkan, itu BOLEH. Misalnya, cuma ngasih tahu penamaan huruf dan bentuk-nya.

Yang penting nggak perlu ditarget yaa, dibawa asyik aja! 🙂

Q : Saya mengerti bahwa kita harus membiasakan membaca buku sedari dini, atau dibacakan buku/ melihat gambar bagi anak-anak yang belum bisa baca. Lalu, umur berapa  yang ideal untuk mereka membaca sendiri?

A : Untuk usia ideal anak mampu membaca sendiri, beberapa buku yang saya baca menuliskan usia 7 tahun. Sebenernya, selama anak tidak mengalami kebutuhan khusus (misalnya disleksia, dan sejenisnya), membaca ini adalah soal maturasi atau kedewasaan.

Anak pasti bisa membaca jika diajarkan. Meskipun tiap anak beda-beda tahapannya. Ada yang lebih dulu, ada pula yang menyusul kemudian.

Tambahan, ada rujukan dari penelitian University of Cambridge tentang pengajaran membaca, terutama dikaitkan dengan pengajaran secara formal di usia sekolah

Di dalam artikel tersebut, bisa download pula 55 halaman, format PDF dari laporan penelitiannya yang diberi judul  The Importance of Play. Menarik untuk menambah wawasan 🙂

Q : Anak saya sudah kelas 2 SD, tetapi masih belum lancar membaca sendiri. Kalau dibelikan buku cerita, ia lebih suka minta dibacakan. Apa saya boleh terus membacakan buku, walaupun dia sudah bisa baca sendiri?

A : Ini mirip sama anak sulung saya hehehe. Dalam kondisi normal sebetulnya saya masih mau membacakan buku. Tapi dalam kondisi tertentu, saya sengaja nggak mau bacain, supaya dia pensaran dan akhirnya berusaha baca sendiri.

Sebenernya PR besar kita adalah menemukan motivasi anak. Kira-kira apa ya, yang bisa bikin dia jadi mau berusaha baca sendiri? Kalau sama si kakak, ternyata saat kami katakan kalau bisa baca sendiri, adeknya seneng dan jadi bisa bacain buku ke adek, dia jadi semangat membaca sendiri buku-bukunya. Nah, soal motivasi ini yang pasti beda buat tiap anak. Coba diutak atik aja 🙂

#####


TEMA 10 :  Membaca dan kemampuan verbal

Q : Saya sudah membiasakan anak bercengkrama dengan buku dari usia 3 bulan. Tadi dikatakan bahwa 300 kosakata mungkin sudah dipelajari. Apakah itu berbanding lurus dengan pandai berbicaranya? Anak saya (usia 20 bulan sekarang) ngomongnya masih banyak babling, tapi sudah bermakna dan sampai sekarang akses ke buku masih konsisten.

A : Ya, semestinya berbanding lurus dengan kosa kata yang mampu ia hasilkan di usianya. Tapi, untuk usia 20 bulan, kalau yang saya pahami, masih wajar jika kemampuan produksi kata-nya belum banyak. Ini berhubungan juga dengan fisiologisnya. Misalnya, gigi yang belum lengkap, perkembangan sel otak yang belum sebesar tahapan usia selanjutnya, dan sebagainya.

 

Demikian seluruh resume kulwap sudah tersampaikan. Banyak banget ilmu yang bisa gue pelajarin di sini. Nggak cuma buat diinget dan dimengerti, tapi juga segera dipraktekkan dengan konsisten. Sederet manfaat yang bisa kita petik dari membaca. Membaca pun akan membuat generasi masa depan Indonesia lebih berkualitas, jika kita kenalkan terus sejak dini. Yuks, membaca bersama anak tercinta!

 

 

 

#ODOP2017 #week9 #post11

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s