Resume Kulwap : Minat Baca Anak – Part 1

Sebagai gadis kutu buku, membaca seperti sudah mendarah daging di diri gue. Wajar, kalo gue juga punya harapan menularkan kegemaran gue ini kepada Aryo Nara. Sayangnya, dengan era milenial, godaan makin banyak untuk menghalangi anak mempunyai minat baca, apalagi sampai menjadikan membaca sebagai hobi.

read1

pic from pinterest

Pengalaman gue selama mengajar 5 tahun kemaren, buku dan membaca seakan jadi musuh anak-anak. Membaca buku identik dengan kegiatan membosankan. Menjadi kutu buku seakan jadi hal yang nista, nggak gaul, nggak asyik. Padahal membaca adalah cara yang oke untuk membuat otak terus berputar, memberikan β€œnutrisi” untuk sel-sel abu-abu di dalam kepala.

Kekhawatiran itu yang menjadikan gue mutusin buat ngikutin kulwap parenting pertama gue.

Diadakan oleh Diskusi Emak Kekinian, yang sudah sukses menggelar beberapa kulwap menarik dan super bermanfaat, gue masuk ke dalam grup 3 kulwap pada Rabu malam, 22 Februari 2017. Topik yang diangkat adalah menumbuhkan minat baca pada anak.

Narasumbernya pun nggak kalah ciamik, Jayaning Hartami, M.Psi. Ter. Ini sekelumit biodata Teh Tami yang dimuat di kulwap kemarin.

Nama lengkap : Jayaning Hartami
Nama panggilan : Tami
Domisili : Bandung
Riwayat pendidikan : S1 Psikologi Universitas Indonesia, S2 Magister Terapan Psikologi Intervensi Sosial Universitas Indonesia
Aktivitas saat ini : IRT, Best Book Advisor 2016, mengelola tim berisi lebih dari 500 Book Advisor terbaik negeri ini

Akun sosmed :
FB : Jayaning Hartami

IG : @jayaninghartami

Untuk mendapatkan lebih banyak sharing info dan tips terkait program literasi keluarga, bisa join channel telegram : @jayaninghartami90

 Teh Tami memiliki latar belakang akademis dan profesional yang mumpuni untuk memberikan informasi lengkap mengenai topik ini. Semakin gue bersemangat untuk mengikuti kulwap ini dan menantikan materi yang disampaikan.

Kulwap berlangsung selama hampir 3 jam, dari pukul 19.30 hingga 22.15. Sistem kulwap ini, peserta terbagi ke dalam 4 grup. Pertanyaan disampaikan melalui japri kepada admin-admin grup, paling lambat jam 15.00 di hari kulwap. Pertanyaan-pertanyaan dikompilasi dan dikelompokkan sesuai tema, jika ada yang sama maka digabungkan.

Gue coba sampaikan ringkasan (yang tidak ringkas ternyata hehehe) dari kulwap tersebut, terbagi menjadi 6 tema. Supaya bacanya nggak pusing, gue bagi menjadi 2 blog post, per 3 tema.

Disclaimer : Gue nggak cantumin nama penanya seperti di kulwap. Isi tulisan telah gue sunting supaya lebih enak dibaca dan tersampaikan poin-poin utamanya. Jawaban yang tertera, mayoritas disampaikan langsung oleh Teh Tami. Ada pula tambahan dari admin dan peserta lain.

 Selamat menimba ilmu dari resume kulwap ini, ya!

#####

TEMA 1 : Kebiasaan Membaca dalam Keluarga

Q : Saya suka baca buku. tetapi suami kurang suka dan lebih memilih menonton Youtube. Bagaimana strategi untuk mengajak suami agar mau mencontohkan kepada anak supaya rajin baca buku?

A : Suami nggak suka buku? Hehehe.. pasti berat ya rasanya saat yang terjadi seperti itu.
Dari curhatan banyak kawan, kasus ini yang paling jamak terjadi. Istrinya suka buku, suaminya nggak. Atau kebalikannya suaminya yang suka, istrinya nggak, hehehe. Kebetulan itu juga yang saya alami di rumah. Suami dulu gak begitu concern soal buku dan aktivitas membaca.

Tapi, saya percaya bahwa pernikahan itu semestinya saling memberdayakan. Saat ada hal-hal tertentu yang kalau nunggu suami mungkin nggak jadi-jadi, ya udah kita yang take the lead aja πŸ™‚

Gempur anak-anak dengan buku-buku. Toh mayoritas anak memang lebih banyak berinteraksi dengan ibunya kan ketimbang ayahnya? Ketika lambat laun pola di anak sudah terbentuk, akan lebih mudah mengajak Ayah untuk terlibat di pusaran yang sama.

Kalau yang terjadi di rumah kami, tanpa Ibu perlu banyak buka pembicaraan soal pentingnya bacain buku ke anak, eh anaknya sendiri kok yang nagih-nagih minta dibacain buku sama ayahnya.

Tetap buka ruang-ruang diskusi antara suami istri. Misalnya, kesepakatan kalau Ayah mau Youtube-an boleh aja. Tapi, jangan di dalem rumah, di teras aja atau pas anak-anak tidur. Harus mau ngalah dikit laah. Kan udah jadi orang tua *wink*

 

Q : Saya kalo sedang baca buku, seperti orang terhipnotis, seakan raga terbebas, menjauh dari dunia sekitar. Jadi, kadang kena tegur suami karena sampai nggak aware sama keadaan anak. Apa yang harus saya lakukan? Ataukah lebih baik jika sedang bersama anak, saya cukup baca yang ringan-ringan dan nggak menyita pikiran?

A : Saya juga mirip seperti ini, kalo udah baca buku bisa nggak nengok saat dipanggil. Hihihi.. Tapi segala sesuatu yang berlebihan pasti gak baik ya? Pas lagi sama anak-anak, baiknya baca yang ringan ringan aja. Jadi atensi sama anak tetap ada.

Sebenernya terkait baca buku di depan anak ini goalsnya cuma pembiasaan aja kok. Membuat anak terbiasa melihat ayah dan ibunya berinteraksi dengan buku. Sama seperti dirinya πŸ™‚

 

Q : Bolehkah kita bacakan buku-buku yang sebenarnya bukan untuk anak-anak, misalnya buku agama yang memuat bagan atau gambar warna-warni yang menarik perhatian anak? 

A : Sebenernya buku apapun, selama kontennya positif, bisa aja dibacain ke anak. Ini cuma perkara gimana kita membahasakannya aja supaya mudah dipahami anak. Itu khusus untuk buku yang memang dibacain sama Ayah Ibunya yaa.  Buat yang memang dibaca sendiri oleh anak, paling bagus memang yang sesuai dengan tahapan usianya.

Q : Apakah komik termasuk buku yang boleh diperkenalkan sejak dini?

A : Komik apa dulu mbak? Lalu sedini apa? Kalo saya tangkep mungkin maksudnya buku yang gambarnya banyak ya, kaya komik? Kalau saya pribadi, prefer menyimpan komik dulu untuk usia awal anak. Karena menurut saya pribadi, buku berbentuk komik yang gambar dan tulisannya terlalu banyak dalam satu grid, membuat anak lebih kesulitan mencerna isi bacaan. Selain itu, konten komik yang saya tahu selama ini belum ada yang pas untuk dikasih ke anak usia dini. #CMIIW

#####

TEMA 2 :  Kriteria bahan bacaan yang sesuai dengan usia dan tahap perkembangan anak

Q : Bagaimana tahapan jenis buku yang baik untuk dbacakan oleh orang tua sesuai dengan pertumbuhan anak dari bayi – toddler? Anak saya sekarang usia 13 bulan apakah sudah bisa dibacakan buku seperti “Mengapa Begini Mengapa Begitu”?

A : Sebetulnya tahapan buku yang pas, biasanya secara umum dikelompokkan menjadi empat :

1. Di bawah 2 tahun

Untuk tahap usia ini tentunya ilustrasi/gambar berperan penting buat mereka. Karena gambar itulah yang dicerna otak mereka sebagai representasi dari cerita yang dibacakan oleh Ayah dan Ibu. Jadi baiknya di usia ini, pilihkan buku dengan ilustrasi yang jauh lebih banyak dibandingkan tulisan.

2. Usia pra sekolah (3-5 tahun)

Poin pentingnya masih sama dengan tahapan sebelumnya : ilustrasi menarik yang membuat anak lebih mudah terpancing buat ngintip isi bukunya  Anak usia segini biasanya udah punya interestnya masing-masing. Misalnya, anak cowok suka buku yg ada gambar mobil. Nah, berangkat dari situ, Ayah Ibu bisa mulai melibatkan anak buat memilih sendiri buku-bukunya. Keterlibatan ini yang kelak akan jadi memori asyik tersendiri buat si anak.

3. Awal sekolah (5-8 tahun)

Di usia ini biasanya anak sudah mulai mengembangkan kemampuan membaca. Jadi, Ayah Ibu bisa mulai menyediakan buku buku dengan isi cerita yang pendek yang mudah dieja oleh anak. Kalo teman-teman perhatikan, rata-rata buku impor dirancang berisi kalimat-kalimat yang ritmik dengan akhiran yang sama (berima).Ternyata, pola seperti itu membantu anak lebih cepat mengingat kata.

4. 9 tahun ke atas

Di usia ini biasanya anak sudah mampu “dilepas” untuk bereksplorasi sendiri dengan buku2nya. Tapi, peran ortu harus selalu ada. Tetap pastikan konten buku aman dan sesuai dengan value yang dianut oleh keluarga.

Kalau terkait 13 bulan apakah sudah cocok dibacakan buku Mengapa Begini Mengapa Begitu, sejujurnya saya belum pernah liat buku yang satu itu. Nampaknya seperti ensiklopedi anak ya? Balik ke penjelasan sebelumnya, saya pribadi berpendapat semua buku selama konten positif sah-sah aja dibacakan ke anak di usia apapun. Tapi tentu, ada andil ortu di situ.

Makin jauh jarak antara konten buku dengan usia anak, makin besar pula effort yang perlu diberikan oleh Ayah Ibu untuk membahasakan ulang konten buku pada anak.

 

Q : Bagaimana membuat anak usia 3 tahun yang sudah terlanjur terpapar TV dan/atau gadget untuk bisa tertarik membaca buku?

A: Solusinya cuma satu : HARUS TEGA!


Ini beneran, karena untuk urusan pemakaian gadget, TV, akses Youtube, dan sebagainya, itu seharusnya ada di bawah kontrol orang tuanya. Anak belum punya kemampuan regulasi diri yang matang, jadi belum bisa kita harapkan untuk mampu berhenti sendiri dari semua paparan tayangan itu.

Sulit? Pasti!
Anak ngamuk? Iya!
Nagih2 nyari TV dan HP? Pasti!

Namanya juga kebiasaan. Dilakukan berulang ulang. Saat nggak lagi dilakukan, pasti ada yang kerasa hilang. Satu lagi, TV, Youtube dan kawan-kawannya itu sangat menyenangkan buat anak-anak. Buat orang dewasa aja menarik, kok. Ya, kan? Jadi saat sudah terlanjut terpapar gadget, TV, dkk dalam kadar yang kelewat batas, selesaikan dulu akar masalahnya.

Stop dulu gadget-nya.
Matikan dulu TV-nya.
Hentikan dulu Youtube-nya.

Ini juga berlaku saat anak lagi nginep di rumah nenek atau sodara yang rulesnya beda dengan di rumah. Yang akses ke TV-nya nggak ada batas. Pulang nginep, biasanya anak gelisah. Pengen bebas nonton kaya di rumah neneknya. Ya udah, jangan dikasih. Biasanya kalo kami, nyebutnya detoksifikasi.

Anak-anak dikasih banyak alternatif kegiatan yang nyibukin dia seharian. Jadi, nggak ada waktu kosong yang bikin mereka inget soal nonton. Nggak lama kok sebenernya. Dibiasain seminggu dua minggu aja, anak berinteraksi minim dengan TV, lama-lama udah kebentuk sendiri. Nggak nagih-nagih lagi kok, Inshaa Allah. Yang penting kitanya konsisten. Bener-bener pegang kontrol, dan mau berkorban “capek” ngasih aktivitas ini itu.

Kebanyakan dari kita menyerah di tengah jalan. Karena dibanding ngasih aktivitas, nyodorin TV itu jauh lebih enak. Disetelin, anteng. Tapi, berbulan kemudian pusing sendiri karena anak udah kadung kecanduan.

Nah, saat akar masalah sudah selesai, baca buku ini baru jadi step selanjutnya yang dikenalkan ke anak sebagai salah satu alternatif kegiatan yang bisa dia lakukan dalam kesehariannya. PR banget buat ortu untuk bisa menghadirkan buku yang menarik dan disampaikan dengan menarik pula ke anak.

Jadi bagi anak, buku nggak sekadar kumpulan kertas, tapi teman perjalanan yang menyenangkan.

AAP (American Academy of Pediatrics) mengeluarkan panduan tentang paparan media berlayar untuk anak, lengkap dengan panduan untuk membuat family media plan dan media time calculator.

Sumber lain, ada dari CNN, Slate, dan NPR.

 

read2

pic from pinterest

#####

TEMA 3 : Memahami isi buku

Q : Bagaimana memunculkan minat anak untuk membaca buku sendiri? Selama ini anak sulung saya yang sudah bisa membaca inginnya dibacakan buku saja, tapi tidak mau membaca bukunya sendiri. Lalu, bagaimana melatih pemahaman anak akan isi buku?

A : Sebenernya kalo begini, baiknya kita bergerak selalu dari akar permasalahan. Kenapa ya, anak lebih seneng dibacain daripada baca sendiri. Misalnya, setelah diselidik, ternyata anak greget pengen segera tahu the whole story dari buku. Jelas akan lebih cepet dia dapatkan saat dibacain dibanding baca sendiri.

Kemudian, cari solusi yang ngikutin permasalahan. Contoh, beli bukunya yang pendek-pendek dulu aja ceritanya. Jadi nggak bikin anak geregetan pengen buru-buru menyelesaikan, sementara kemampuan bacanya belum sampai sana.

Soal pemahaman bacaan, sebenernya bisa kita lakukan di obrolan-obrolan sederhana sama anak. Misalnya, sehabis baca buku tentang kendaraan, pas anak lagi main mobil-mobilan, kita bisa tuh nyeletuk sederhana, “Bang, ini namanya mobil apa ya? Kaya yang tadi kita baca di buku ya, Bang? Jenisnya apa ya dia?”

Atau buat anak-anak yang lebih besar, sepanjang membaca, diskusi pun bisa dilakukan. Misalnya, selesai baca 1 halaman, kita coba tanyakan ulang, hal-hal baru apa aja yang tadi kita baca di halaman itu. Ada kata-kata baru apa yang kita dapetin setelah baca halaman itu. Intinya, buat seasyik mungkin. Dekatkan isi bacaan dengan keseharian yang dialami anak, jadi pemahaman kontekstualnya pun dapet.

Itulah 3 tema pertama dari kulwap. 3 tema selanjutnya, sila baca di blog post berikutnya, yang gue tayangin besok πŸ™‚

#ODOP2017 #week8 #post9

Advertisements

2 thoughts on “Resume Kulwap : Minat Baca Anak – Part 1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s