Senyum yang Telah Kembali

tumblr_msxdepNKkn1qdkk86o1_500.jpg

pic from rebloggy

“Kalo gue jadi lo sih, gue putusin dia secepetnya. Di hari Valentine sekalian, biar dia kapok nggak asal mainin cowok yang beneran sayang sama dia!”

Wajahnya menyorotkan api-api semangat. Energi besar yang berbanding terbalik dengan tubuh kurusnya. Lima bulan aku mengenalnya sebagai teman sekelas, masih saja ia mengejutkanku setiap hari dengan kata-kata tajamnya. Kata-kata tajam yang alih-alih melukaiku, tetapi malah memberikanku banyak makna. Pisau yang merobek kegelapan dan menunjukkan pencerahan.

Dani masih terus bicara panjang lebar. Aku mengamati mata cokelatnya yang bersinar penuh percaya diri. Ia adalah gadis yang tak ragu mengungkapkan apa yang ada di dalam benaknya. Namun, ia bisa menyampaikan sesuatu yang pedas sambil menyelipkan senyum manisnya. Sesuatu yang baru aku sadari seminggu belakangan.

Senyum, ah, mungkin itu yang selama ini hilang dariku. Meskipun aku merasakan jatuh cinta, entah mengapa aku tak bahagia. Nadia, pacarku yang telah bersama sejak kelas 8. Semenjak kami menjadi teman sebangku, kedekatan itu berkembang menjadi asmara yang menggebu. Tiga tahun yang panjang pun berlalu dan berisi jalan berliku. Aku sampai lupa kapan terakhir kali bisa tersenyum lepas dan tertawa terbahak. Entah Dementor mana yang berhasil menyedot kebahagiaanku. Berbarengan dengan 10 kilogram bobot tubuhku yang melayang percuma. Cintaku kepada Nadia sudah menyatu menjadi candu. Sepaket dengan bubuk putih yang kerap kami hirup bersama.

“Di? Adi? Halooooo??!! Kijang satu kepada Adi. Kopi, ganti???” Lengan Dani terkibas-kibas di depan mataku. Aku menatap dengan mata sayu. Memaksakan bibirku membentuk sebuah kurva lengkung. Namun, hanya terangkat sedikit dari garis lurus. Astaga, membuat sebuah senyum ternyata lebih sulit dari mengangkat barbel puluhan kilo.

NYESSS!!

Pipiku mendadak terasa seperti menyentuh kulkas. Dani menempelkan seplastik es teh manis langsung ke pipiku. Sontak aku terlonjak. “Nah, gitu dong, Bos! Nyawanya ditangkep dulu. Ntar disamber kucing lho. Nyawa kuning imut macem Tweety,” cengirnya jahil.

gloomy-mystical-style-mood-159069

pic from pexels

Aku mengusap pipi dengan lengan jaketku. Jaket tebal bertudung hitam yang membalut tubuh karena aku sering merasa kedinginan tanpa sebab. Banyak yang menuduh rasa dingin ini adalah pertanda aku sedang sakau. Hmmm, sepertinya bukan itu. Rasa dingin ini berbeda. Sepertinya tubuhku merasakan kekosongan jiwa dan hatiku. Bak sebuah gua kelam di kaki gunung. Tak terjamah oleh kehangatan mentari kasih sayang yang tulus.

Aku teringat betapa perih melihat satu persatu temanku pergi. Atau tepatnya, aku yang menarik diri. Aku sudah tak dapat lagi membedakan mana realita dan fatamorgana. Duduk menyendiri di pojok kelas. Sampai aku menginjak kelas 11D ini, seorang gadis langsing berkuncir kuda dan berkacamata tebal dengan cueknya mengajakku berkenalan dan mengobrol. Kabarnya, ia murid pindahan dari Jakarta. Pantas saja, keberaniannya menghadang kejamnya Ibukota, pastilah hanya seujung kuku dikeluarkannya untuk berteman dengan outcast sepertiku.

Sekarang, merasakan rentetan perhatian dari seorang lawan jenis yang dengan entengnya ia sirami kepadaku, aku tak tahu bagaimana membalasnya dengan layak.

“Dan, udahlah. Lo nggak usah repot ngurusin gue. Gue udah gede,” ucapku dengan sorot mata kosong. Membalikkan tubuhku ke arah berlawanan darinya. Berlagak menjadi pangeran es. Padahal di dalam hati kecilku, aku ingin ia terus memerhatikanku seperti ini.

“Di, gue nggak bego. Nadia itu cuma manfaatin lo aja. Darimana dia bisa gampang dapet uang dan barang kalo bukan dari lo?” tukas Dani. Kuncir kuda rambut sebahunya bergerak-gerak mengikuti kepalanya yang menggeleng keras. “Sejak dia dikeluarin dari sekolah dua bulan lalu, pasti orang tuanya udah pasang gembok berderet di pintu kamarnya. Nggak mungkin dia bisa gampang keluar buat beli barang haram itu, kan?” suara Dani sedikit bergema, di balik dinding-dinding gudang halaman belakang sekolah ini. “Nadia bakal manfaatin lo lagi, Di. Dia perlu lo karena cuma lo yang masih bakal nerima dia walaupun dia udah seenak jidat ngacauin hidup lo!”

Dengan penuh sesal, aku mengakui kebenaran kata-kata Dani. Sejak Nadia dikeluarkan dari sekolah karena ditemukan teler bersama dua siswa sekolah lain dalam keadaan nyaris tanpa busana di sebuah mobil terparkir di dekat sekolah kami, baru kemarin ia akhirnya meneleponku diam-diam. Sebelumnya, ia benar-benar menghilang, memutuskan komunikasi denganku.

Kuingat isak tangis tertahan Nadia di ujung sana. Kata-katanya yang berhamburan begitu saja, perlu waktu untuk kucerna maknanya. Aku seakan lupa pengkhianatannya, rasa teganya melakukan hal bodoh itu tanpa sepengetahuanku. Ayah membawaku berobat ke sebuah pusat rehabilitasi di Sukabumi selama dua minggu. Sekembalinya aku dari sana, kuterima kenyataan bahwa pacarku sudah menjadi pesakitan dan tertendang dari sekolah.

“Adi, tolong aku sekali ini saja. Aku nggak tahu lagi, bagaimana supaya aku bisa tenang. Salahku udah terlalu banyak ke kamu, Di,” terngiang suara Nadia di telingaku lagi. “Mau kamu apa, Nad? Bunuh aku pelan-pelan begini belum cukup?” ucapku penuh keperihan.

“Kita ketemu terakhir kalinya, Di. Aku mau minta maaf yang bener sama kamu. 15 menit aja cukup. Aku pengen peluk kamu terakhir kalinya, Di,” pinta Nadia dengan suara yang semakin serak.

Aku merinding. Entah karena rindu, atau gelombang kecemasan yang tiba-tiba menghantamku. Aku kenal betul Nadia. Ia selalu bisa membuat aku memenuhi permintaannya. Setidak masuk akal pun itu. Terjerumusnya aku ke lembah hitam ini juga terjadi karena bujuk rayunya. Cintaku membutakan akal sehat yang seharusnya selalu tinggal di dalam kepalaku. Wangi parfum vanila favorit Nadia seperti menggelitik hidungku. Membawa kenangan-kenangan asmara kami ke dalam ingatanku.

Sebuah janji pertemuan kami sepakati. Di sebuah taman sekitar 2 kilometer dari rumah Nadia, pukul 4 sore besok. Semua kuceritakan tanpa terlewat kepada Dani sekitar 15 menit yang lalu. Memicu luapan emosi yang sepertinya tak terbendung lagi dari dirinya.

“Adi, sekali ini, tegas deh sama Nadia. Lo itu luarnya aja sangar kaya serigala. Dalemnya lembut kaya Teddy Bear,” komentar Dani. Oke, apakah itu pujian? Dadaku sedikit mengembang, senang. Dari balik tudung yang menutupi wajahku, kurasakan pipiku memanas.

“Masa depan lo masih panjang, Di. Lo udah jauh membaik. Ketemu sama Nadia, sama aja bikin lo balik ke titik nol,” lanjut Dani berusaha mengubah pikiranku. Matanya menyalakan kilat berbeda. Ia begitu khawatir. Tangannya kini menggenggam tanganku. Memohon dengan sekuat tenaga.

“Gue bakal baik-baik aja, Dan. Trust me. Gue laki-laki, gue bakal selesaiin masalah gue. Bukan lari macem pengecut,” dengan sisa-sisa ketegaran, aku berucap dengan berat. Dani menatapku dalam. Dari balik kacamata bingkai tebal berwarna hitam itu, aku melihat kepedihan. Sebesar itukah rasa sayangnya padaku? Sebagai teman? Atau lebih?

Ah, lagi-lagi harapan kosongku bersuara. Tak mungkin cewek cerdas seperti Dani mau membuka hatinya untuk pecundang besar sepertiku. Di balik penampilannya yang sporty dan natural, pesona Dani memikat banyak laki-laki. Aku sering melihat beberapa siswa mencuri pandang ke arahnya. Menawarinya tumpangan pulang. Mengajaknya datang bersama ke acara sekolah. Semua ditolaknya dengan senyum manis dan tawa lepas. Baginya, pria adalah rekan, teman, dan sahabat. Hanya itu, tanpa embel-embel kisah asmara.

“Hati-hati, Adi. Hidup hanya satu kali,” begitu ujarnya pendek. Sinar mukanya meredup. Dani bangkit dan membersihkan roknya dari debu yang menempel dari bangku usang. Langkah sepatu Converse merahnya menjauh dariku perlahan. Untuk pertama kalinya, aku merasakan hilangnya antusiasme yang biasanya dipancarkan oleh sahabatku ini.

Semoga ini bukan pertanda buruk. Aku terdiam beberapa saat, sebelum menyusul Dani pergi ke kelas. Waktu istirahat sudah usai di Hari Kasih Sayang ini. Aku telah mengambil keputusan bulat. Sore ini aku akan mengakhiri hubunganku dengan Nadia, untuk selamanya. Ada cinta lain yang lebih patut untuk diperjuangkan. Selain, masa depan yang lebih cerah menanti.

***

Semua terjadi begitu cepat. Hari Kasih Sayang penuh darah.

Peluru-peluru berdesing di sampingku. Aku tak dapat membedakan, apakah ini hidup nyata atau adegan film laga. Sekarang, Dani berlari menarikku pergi secepat kilat. Tak kusangka dari tubuh yang tak sampai 50 kilogram itu, tersimpan tenaga begitu besar.

Di belakang sana, suasana begitu riuh. Terdengar suara teriakan Nadia dan hardikan pria-pria dewasa. Para petugas kepolisian melawan gerombolan bandar dan pemakai narkoba.

Nadia menjebakku. Ucapan maaf yang dilontarkannya hanyalah kepalsuan belaka. Pelukannya adalah tanda untuk merenggutku dan melemparkanku ke dalam jurang kejahatan. Aku nyaris diculik bandar narkoba yang ternyata menjadikan Nadia simpanan gelapnya. Mereka mengira aku akan membongkar sindikat mereka yang berjualan narkoba di sekitar sekolah. Tertangkapnya Nadia waktu itu, akulah pula yang dituduh menjadi pihak yang membocorkan kepada kepala sekolah. Semua karena di saat kejadian tersebut berlangsung, aku menghilang tak tahu kemana.

Dani, si gadis ksatria. Rupanya ia diam-diam menyelidiki dan melaporkannya kepada polisi. Menguntitku dengan penyamaran, ia rela memangkas pendek rambutnya dan berlaku seperti seorang pria remaja. Di tengah kekalutan, Dani tahu-tahu muncul, menghajar Nadia dan seorang pria yang menahanku dengan jurus bela diri. Menyemprotkan sesuatu ke arah mereka lalu membawaku pergi.

Darimana ia belajar melakukan ini semua? Ia bukan agen rahasia, kan?

Ah, aku sudah tak tahu lagi. Lututku lemas dan mengikuti saja kemana Dani membawaku. Ke sebuah mobil hitam, yang ternyata milik kepolisian. Di tengah kekalutan, senyum manis itu mengembang kembali, dengan ekspresi kelegaan luar biasa. Aku gemetaran, mengumpulkan keberanian untuk memeluk Dani. Lalu tangisku pecah tanpa dikomando.

Elusan lembut tangan Dani di punggungku, mirip seperti saat almarhum Mama menghiburku setelah terjatuh dari sepeda. Malaikat pelindung yang dikirimkan untukku.

It’s over, Di. Lo nggak perlu takut. Lo udah bisa berhenti sembunyi, lari, atau nutup diri. Gue ada di sini buat lo,” sekali ini Dani bicara dengan nada yang begitu keibuan. Tak lagi menjadi lidah pedas yang super kritis.

Hujan rintik-rintik yang mendadak turun, meluruhkan semua keraguan. Aku benar-benar jatuh cinta padanya. Gadis hebat yang mempertaruhkan hidupnya untukku, dengan sepenuh hati.

“Ayo, Bos. Perjalanan superhero kita baru dimulai,” ucapnya jenaka sambil menyodorkan jaket parka biru tua kepadaku. Tanpa kusadari, otot-otot wajahku bergerak. Membentuk lengkung yang selama ini begitu sulit kutampakkan. Sebuah senyum terhias pada akhirnya. Terasa dekiknya di pipiku yang dingin.

Dani terkesiap sejenak melihat perubahan raut wajahku. Tertegun, lalu ikut tersenyum.  You are not a lone wolf anymore. Begitu bisiknya.

1559098461-qitem

pic from quotesgram

Aku tak mau membumbungkan harapanku pada arti kalimat itu. Sementara ini, kehadirannya di sisiku, apapun statusnya, sudah lebih dari mimpi yang terwujud di Hari Kasih Sayang. Asalkan senyumku dapat terbit kembali setiap hari. Melahirkan asa untuk memperbaiki masa lalu kelamku.

Notes from me :
Terpikir untuk membuat side story dari Dani “Mantu vs Kanjeng Ratu” dan terciptalah cerita ini. Meskipun bukan dari POV Dani, gue ingin menunjukkan bagaimana sejak lama Dani memang senang menceburkan dirinya dengan sukarela pada situasi rumit hahaha. Kelanjutan hubungan Dani dan Adi bagaimana, karena kita tahu akhirnya bukan Adi jodoh Dani. Nanti ya, disusun dulu ide-idenya hehehe.

#ODOP2017  #week7 #post8

Advertisements

2 thoughts on “Senyum yang Telah Kembali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s