Tangkis Mitos demi Kewarasan Mama Baru

3048b04abf3830a61a745e0cb637c987

Menjadi mama baru adalah tantangan besar dalam hidup seorang wanita. Bayangkan saja, segala macam perubahan terjadi dalam hidup. Tak cukup dengan fisik yang melebar, membengkak, pokoknya ukuran bleberan kemana-mana, hormon dengan seenak jidat mengaduk-aduk emosi, dan kebebasan yang terenggut tiba-tiba tanpa bertanya dulu pada kita. Ironisnya, banyak new mommy yang harus menjalani semua ini dengan dukungan yang sangat minim, dari orang-orang yang sesungguhnya sangat diharapkannya.

Coba, sok, diinget-inget. Berapa banyak orang sekitar, bisa keluarga deket, keluarga jauh, temen, atau bahkan emak-emak sesama member support group atau mommies group di media sosial yang seakan tak henti nyinyir dan menghakimi? Ini salah, itu salah, semua salah. Atas dasar asumsi, lo itu nggak ada pengalaman, deal with it! Sebuah tindakan sepele dan alamiah seperti makan mie instan di tengah malam saat kelaperan pasca menyusui, karena suami asyik ngorok nggak mau bantuin jagain si adek bayi, seakan jadi dosa tak termaafkan. HUFT BANGET YAK!

f1aa8b2dfb5fe95402770a09200e9514

Pengalaman kelahiran Mas Aryo, gue bener-bener ngalamin kegalauan tiada akhir yang bertransformasi jadi aura kemarahan dan sakit hati yang lama-lama dipendem dan membusuk. Puncaknya, gue tepar masuk RS karena DBD, saking mau menyenangkan berbagai pihak dan menunjukkan pada dunia kalo gue bukan IBU YANG GAGAL. And, yes, I failed to accomplish my mission, in a hard way.

Untunglah, cahaya dateng di saat Nara lahir, gue bergabung dengan support group yang selama ini gue impi-impikan. Kumpulan emak cadas yang senasib. Berjuang dan saling dukung untuk menguatkan. Menghadapi emak-emak idealis satanis yang hobinya halu. Ucapan sinis para tetua yang nggak update sama perkembangan zaman. Tetap bertahan walaupun dukungan begitu kurang buat kita menjalani petualangan bernama motherhood ini. Meneguhkan hati untuk terus berseru, “Hei! Mama juga manusia! Bukan BUNDADARI yang turun dari khayangan yang sempurna tanpa cela!”

So, brace yourself, new mommies. Ini adalah amunisi penting yang harus lo simpen baik-baik. Ibarat, Rambo, siap menghindar dari berondongan peluru musuh dan hadapi dengan gagah berani. Inilah beberapa mitos yang biasanya membuat galau mama baru dan bagaimana menangkalnya with style!

Mitos 1 : Melahirkan normal jauh lebih baik dari melahirkan lewat operasi sectio caesaria (SC)

Pernah gue melihat sendiri, seorang ibu muda yang abis ngelahirin via SC, malah sibuk meratapi. Ujungnya, menyalahkan dokter kandungan yang mengambil keputusan darurat untuk SC dan melabeli si dokter dengan nilai TIDAK KOMPETEN. Oh, come on.

Apapun metodenya, sepanjang lo dan anak sehat wal afiat, lahir dengan selamat, syukuri sajalah. Yang udah niat lahiran normal, kalaupun tidak berjalan sesuai rencana dan akhirnya harus SC, terimalah dengan lapang dada. Yang sukses melahirkan normal, nggak usah sesumbar dan malah merendahkan yang operasi SC. Kasus setiap ibu dan bayi itu nggak ada yang sama. Every mom has their own battlefield. (NB : makanya untuk biaya lahiran, selalu anggarkan biaya kelahiran untuk SC, jadi nggak kelimpungan ngutang ke sana sini buat nombokin ongkos yang kurang karena perubahan skenario)

Melahirkan normal pun ada yang merasakan sakitnya epiostomi, jahitannya tetep berisiko. Lahiran SC, bisa cepet pulih, dengan pemenuhan gizi cukup dan tidak menyerah pada rasa sakit. Keduanya sama-sama punya risiko, keduanya juga dapat dilalui dengan proses pemulihan yang dijalani konsisten.

Nggak ada sertifikat, transkrip atau piala yang nantinya membedakan kalo ibu yang melahirkan normal itu lebih berprestasi dan lebih hebat dari ibu yang melahirkan via SC. Semua mendapatkan surga di telapak kakinya.

Jadi, kalo masih ada yang nyinyir, cukup jawab dengan senyum manis, “Aku nggak mau jadi hamba yang nggak bersyukur. Normal atau SC, anak lahir selamat adalah anugerah. Minta doanya aja, ya.”

 

Mitos 2 : ASInya sedikit amat, gimana anaknya bisa kenyang?

Banyak mama baru yang panik di seminggu awal kelahiran. ASI kok keluarnya seiprit doang? Pumping malah cuma basahin pant*t botol aja? Keburu minder, panik, dan nangis, karena terintimidasi sama foto hasil pumping emak-emak berbotol-botol yang dipajang di IG atau FB.

Jadi, gini ya, Mak. ASI itu diproduksi sesuai permintaan, alias kebutuhan si bayi. Bayi baru lahir itu, lambungnya juga masih sebesar kelereng. Jadi, nggak perlu digelontor ASI berliter-liter kan? Kuncinya, pengosongan payudara dengan optimal, yaitu dihisap oleh si bayi. Ketika gentong udah kosong, otak akan menerima sinyal untuk memacu kelenjar susu menghasilkan ASI kembali. Terus-menerus seperti itu. Hingga akhirnya, kapasitas gentong pun meningkat karena otak merekam peningkatan kebutuhan ASI akibat pertumbuhan kapasitas lambung bayi.

Terus, Mak, jangan terpaku sama volume hasil pumping. Itu nggak menunjukkan total produksi ASI seluruhnya. Kecukupan ASI dilihat dari kenaikan berat badan bayi per bulan dan jumlah air seni yang dikeluarkannya. Kalo memenuhi standar yang cukup, berarti ASI masih memenuhi kuantitas dan kualitasnya.

Oleh karena itu, gue sangat menyarankan lo untuk berkonsultasi dengan DSA pro ASI, atau lebih bagus lagi, kalo dateng ke dokter atau konselor laktasi sebelum dan sesudah kelahiran. Mereka akan memberikan informasi yang terpercaya dan mengarahkan lo menjadi mama yang sukses menyusui. Lupakan saja kata-kata orang yang merendahkan dan menyurutkan semangat. Breastfeeding is a mind game and you need to stay positive to make your breastmilk flowing adequately.

Mitos 3 : Kenapa anaknya nggak dipakein gurita? Nanti perutnya buncit, pusernya bodong, dan gampang masuk angin!

Nah, gurita bayi itu so last century deh, boook! Kalo lo lahiran di RS yang Sayang Bayi dan Ibu, pemakaian gurita bayi udah ditinggalkan sejak lama. Gurita yang diiket terlalu kencang malah mengganggu kenyamanan bayi bernapas. Takut bayi kedinginan? Cukup pakaikan kaus dalam dan pakaian lengan panjang. Membedong bayi pun sebenarnya tak dilarang, asalkan juga jangan terlalu kencang hingga menyulitkannya bergerak. Ada risiko kematian mendadak bayi (SIDS) yang disebakan karena bedong yang terlalu kencang, jadi ya yang sedang sedang saja deh!

Lanjut, tentang puser bodong. Ini sebenarnya bukan sesuatu yang berbahaya, dan diperkirakan terjadi karena genetik atau pembentukan bayi di trimester pertama kelahiran. Perlukah si puser ditempelin koin supaya masuk? Well, sebenarnya sih ini perlu nggak perlu, yaaaa! Puser bodong akan hilang sendirinya, hingga anak usia 2 tahun. Masih ada puser bodong setelah anak besar? Berkonsultasilah dengan dokter, untuk memilih tindakan operasi sebagai penghilangan puser bodong ini.

Mitos 4 : Jangan sembarangan makan nanti ASInya nggak bagus!

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering sliweran di forum emak-emak. Boleh nggak makan (….) kalo lagi nyusuin? Ehm, sebenernya sih gue lebih pake sistem coba, amati, dan batasi. Makan dan minumlah dengan seimbang. Nggak saklek juga segalanya kudu organik, steril, dan bebas bahan sintetis. Cobain aja, amati reaksinya. Adakah alergi pada bayi? Adakah pengaruh yang merugikan pada tubuh secara langsung? Kalo nggak, ya monggo dinikmati. Minuman dingin, makanan pedes, mie instan, keripik berMSG, gue gragas semua hahaha. Tentunya dengan prinsip coba-amati-batasi ya.

Mengenai booster ASI, memang ada beberapa bahan makanan dan suplemen herbal yang bersifat galactagogue atau berkhasiat meningkatkan produksi ASI. Coba atau tidak? Terserah aja, yang penting kembali ke prinsip coba-amati-batasi, dengan memerhatikan dan mematuhi dosis yang ditetapkan secara umum, untuk meminimalkan efek samping yang merugikan.

Yang perlu perhatian ekstra adalah konsumsi obat-obatan. Konsultasilah dengan dokter, minta yang seminimal mungkin terbawa ke ASI. Gue mengunduh aplikasi Lactmed di HP Android gue untuk menyediakan informasi tentang keamanan obat terhadap ibu hamil dan menyusui. Bagusnya sih, lo punya kemampuan bahasa Inggris yang baik dan latar belakang kesehatan ya, supaya bisa optimal menyerap informasi yang tersaji di Lactmed ini.

Itu adalah 4 contoh mitos yang seharusnya bisa ditangkis dengan cantik oleh para mama baru. Masih banyak mitos lainnya yang bisa lo temuin jawabannya dengan mengunjungi situs-situs kesehatan terpercaya. Selalu ada penjelasan logis untuk segala mitos, menurut gue ya.

Tetaplah berusaha yang terbaik untuk adek bayi dan ketika ada keraguan, datanglah kepada profesional yang memang mengerti, seperti dokter dan konselor kesehatan. Carilah dukungan dari orang-orang terdekat. Jika lo nggak mendapatkannya, carilah support group di media sosial, pilihlah yang memang sudah mendapatkan banyak rekomendasi.

funny-mom-quotes-brain-cells-for-kids-dump-a-day-20

Believe it or not, mitos dan segala komen nyinyir ini banyak menjadi pangkal munculnya baby blues dan mungkin.. inlaws-blues (WHOOPS!). Selalu yakinlah dengan diri sendiri. Mama bukan bidadari, tapi mama adalah pejuang sejati.

Share dong, adakah pengalaman menghadapi mitos dan omongan miring pas lo jadi mama baru?

pics taken from google images

#ODOP2017 #week6 #post7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s