Kesadaran yang Tergugah di Seminar Brainspotting

Alkisah, seorang mama nggak kalah galau dari abege jatuh cinta. Mood dan perasaan saingan sama Halilintar di Dufan. Naik turun, terkadang mengkol dan ngetem macem angkot berklakson telolet.

Ini juga yang terjadi sama gue. Udah bosen nyalahin hormon, komen nyinyir emak-emak rese, ataupun transferan yang belum masuk (EH!), saatnya menyudahi pergulatan batin.

Ketika dapet info tentang seminar ini, langsunglah hati tergerak untuk mendaftar (dan sigap mencari barengan supaya biaya seminar lebih murah #teremakemak).

BRAINSPOTTING? Apaannnn tuhhhh??? (mata merem sebelah kaya Ayah Jaja)

Nah, kalo biasanya gue selalu browsing dulu dan cari info tentang topik pelajaran baru, kali ini gue nggak ngelakuin itu. Gue pengen dateng ke seminar ini sebagai seseorang yang bener-bener awam, supaya gue bisa menyerap maksimal apa yang disampaikan. Presenting myself as a piece of blank paper.

Jadilah gue, Sabtu pagi, 4 Februari 2017, duduk di ruang Auditorium Santosa Hospital Bandung Central (SHBC), Kebonjati. Menjadi salah satu peserta Seminar Brainspotting yang digelar oleh Brainspotting Indonesia, PsyCoach, dan tentu saja, SHBC.

Gue dateng barengan sama salah satu mama ITB Motherhood dan juga kakak angkatan, Teh Ema (FA 93). Kami berdua datang cukup pagi (sesuai pesan di SMS panitia), sebelum pukul 08.30 sudah duduk manis di meja baris kedua tengah ruangan. Ternyata, cukup lama juga menunggu peserta lainnya hadir, besar kemungkinan karena hujan yang mengguyur Bandung pagi-pagi.

Sekitar pukul 09.15, salah satu pembicara, Aditya Prabowo dari firma psikologi PsyCoach, menyapa kami semua sebagai pembuka acara. Acara diawali dengan sambutan dari pihak SHBC berupa penjelasan singkat tentang SHBC, dari segi keunggulan-keunggulannya. Salah satu highlight yang paling menempel di ingatan gue adalah SHBC sebagai Rumah Sakit Swasta yang telah berhasil masuk di kategori A dan meraih berbagai prestasi lain, termasuk keberhasilan meraih sertifikasi halal untuk hidangan pasien. Disebutkan pula kalau untuk praktisi Brainspotting Bandung, bisa mendatangi psikolog Amanda Octacia Sjam di Santosa Hospital Bandung Central, yang juga menjadi salah satu pembicara pada seminar ini.

p_20170204_093450_ll

Selesai kata sambutan, seminar Brainspotting pun masuk ke sesi penyampaian materi. Materi disampaikan bergantian oleh dua psikolog dan Brainspotting Trainer dari PsyCoach : Aditya Prabowo dan Ine Indriani.

Ini dia materi yang gue serap dari sesi ini …

SEMUA BERAWAL DARI EMOSI NEGATIF

negativeemotionsdepressionanxiety-drpic source : psuedu

Banyak masalah berpangkal dari emosi negatif, dimana emosi negatif ini mengganggu diri kita dan orang lain. Emosi negatif akan mencetuskan masalah emosi, dimana ketika masalah emosi ini sulit dihilangkan maka akan berkembang menjadi TRAUMA.

p_20170204_094112

Trauma dapat dicetuskan oleh berbagai peristiwa dan kondisi. Memori traumatis ini tersimpan di alam bawah sadar kita, atau tepatnya bagian subkorteks pada otak. Banyak orang yang memilih untuk menyimpan memori traumatis ini, namun akhirnya karena trauma ini dibiarkan mengendap di alam bawah sadar tanpa penanganan, efeknya malah melebar menjadi masalah emosional yang mengakar. Apalagi jika trauma tersebut terjadi pada masa usia dini, makin lama dan sulit pula menanganinya.

Nah, ternyata, idealnya untuk mengatasi trauma, perlu dimunculkan dulu kondisi yang berhubungan atau mencetuskan trauma tersebut. Prakteknya? Tentu sangat menantang alias nggak gampang! Akses subkortikal otak akan meluapkan berbagai hal yang berkaitan dengan trauma, termasuk gelombang emosi negatif yang menyelimutinya.

Di sinilah brainspotting (selanjutnya, gue singkat menjadi BSP) hadir sebagai alternatif psikoterapi. Menyembuhkan diri dari emosi negatif, dengan menggali terlebih dahulu sumber emosi negatif, khususnya yang tidak disadari oleh kita.

WHAT IS BRAINSPOTTING?

bsp-quote

pic source : brainspottingla

BSP merupakan karya dari David Grand, Ph.D. Teknik BSP ini nggak sama dengan hipnoterapi. BSP mengusung tagline Where you look affects how you feel. Ditemukan dari fenomena dimana ada titik tertentu yang dapat mengaktivasi alam bawah sadar kita ketika diikuti oleh mata, BSP mengambil prinsip keterkaitan tubuh dan pikiran dalam prakteknya. Sebuah pendekatan fisiologis untuk konsekuensi psikologis, demikian jargonnya.

Itulah mengapa, saat pikiran kita merasa tidak tenang, tubuh pun akan merasakan ketidaknyamanan tersebut secara fisik. Pernah mengalami rasa tidak sehat atau tidak enak badan, padahal ketika diperiksa kesehatan secara menyeluruh, sebenarnya kita sehat-sehat saja secara fisik? Nah, inilah yang akan digali melalui teknik BSP.

BSP umumnya menggunakan sebuah pointer sebagai titik fokus penglihatan mata. Nantinya, saat mata melihat pada titik brain spot dan alam bawah sadar teraktivasi, maka akan terjadi luapan emosi yang dapat terlihat jelas dari ekspresi wajah klien. BSP akan mengakses otak kanan, sistem limbik, dan brain stem pada otak. Selain pointer, dapat digunakan juga musik atau suara bio lateral untuk membantu aktivasi brain spot. Masalah dapat terkuak nantinya dengan tiga cara. Bisa ditemukan oleh terapis, atau diungkapkan sendiri langsung oleh klien, atau terbuka dengan sendirinya saat klien terpaku ke satu titik.

MENGAPA BSP INI BERBEDA?

bsp-vs-talk

pic source : ccmcounseling

Keunikan BSP adalah klien memegang kunci utama dari sesi terapi. Ibarat komet, klien adalah kepala komet dan terapis adalah ekornya. Just follow the client. Berbeda dengan konsultasi verbal, dimana terapis banyak memegang kendali dengan mengajukan banyak pertanyaan kepada klien. BSP pun memegang prinsip ketidakpastian, dimana tidak ada target mengenai kapan masalah harus bisa ditemukan solusinya. Semua tergantung kepada kondisi klien. Tidak ada protokol saklek yang mengikat pelaksanaannya dan bisa dikombinasikan dengan terapi lain, misalnya terapi perilaku maupun diarahkan untuk self-healing.

Pusing dengan penjelasan teori-teori dan istilah ilmiah? Nah, sebuah demo ditampilkan dengan meminta seorang peserta secara sukarela menjadi klien. Untuk kerahasiaan, maka sesi ini nggak gue dokumentasikan.

Sebut saja Nona T. Ia sering merasa mellow secara tiba-tiba, tanpa tahu sebabnya. Ibarat seorang Bergen yang lupa apa rasanya bahagia (sori, masih kebawa demam Trolls-nya Mas Aryo). Dengan BSP, Ibu Amanda akan menggali apa yang sebenarnya menjadi pemicu kesedihan kronis Nona T ini.

Nona T mendengarkan musik melalui headphones, sambil memandang pointers di hadapannya. Pada awalnya ia merasa ketidaknyamanan pada bagian dada akibat rasa sedih itu. Jika diukur skala 0-10, rasa sedihnya ada di level 6. Seiring dengan berjalannya sesi, ketidaknyamanan itu meningkat terus-menerus hingga mencapai level tertinggi di angka 10. Di sinilah, Nona T akhirnya menumpahkan kesedihannya dengan menangis berlinang air mata dan terbukalah kenangan pahit masa kecil yang mencetuskan rasa kesedihan mendalam tersebut.

Berdasarkan testimoni Nona T, suara gemericik air dan hujan pada salah satu bagian musik, mengaktivasi trauma masa lalu yang mengendap di alam bawah sadarnya. Perasaan kurang dihargai, diabaikan, dan ditinggalkan sewaktu ia kecil dahulu. Ia pun teringat kata-kata menyakitkan yang dilontarkannya kepada seseorang. Semua terkuak dengan terbukanya brain spot saat melihat pada satu titik yang ditunjukkan oleh pointer. Ada beberapa titik yang membuka kenangan pahit ini, dimana beda posisi membuka kenangan berbeda pula. Nona T merasa ia seperti tersedot ke masa lalu, masa dimana kenangan itu terjadi, hingga ia sempat lupa sedang berada di depan forum dan menjadi pusat perhatian.

Hanya dalam 1 sesi kurang dari 30 menit, semua ini bisa terjadi. Amazing, ya?

Seluruh peserta pun diberikan kesempatan untuk merasakan sendiri sesi mini BSP bersama-sama. Dengan memikirkan sebuah masalah dan mengikuti arahan untuk melihat kepada titik tertentu penglihatan.

Benar saja, gue tanpa dikira bisa menguak beberapa memori menyakitkan di masa lalu, yang ternyata terpendam dan menimbulkan kegalauan serta ganjalan gue berkomunikasi dengan Mas Aryo selama ini. Percaya atau nggak, sepulang dari seminar ini, gue jadi punya pengingat untuk memperbaiki pola komunikasi gue yang masih jauh dari sempurna.

BSP BUKAN HANYA UNTUK DEWASA

Ternyata anak dan remaja juga bisa menjadi klien terapi BSP. Hanya saja untuk anak-anak, diperlukan usaha ekstra untuk membuat mereka tetap fokus dan tidak bosan supaya BSP bisa berlangsung efektif. Seperti trainer BSP di Australia dan Inggris, mereka merancang sesi terapi yang menyenangkan dengan mendekorasi ruang terapi seperti sedang duduk-duduk memandang bintang di malam hari, atau menggunakan barang menarik sebagai pointer, misalnya tongkat ajaib atau boneka. Bisa juga dengan menggunakan dongeng atau buku cerita untuk mengkondisikan proses BSP sehingga anak bisa mengikuti terapi dengan nyaman.

Seorang anak muda yang menjadi klien BSP di Bandung juga mengungkapkan testimoninya dalam sebuah sesi. Dari perjuangan menghadapi gejolak psikologis, hingga divonis sebagai pengidap bipolar dan harus mengonsumsi obat penenang, si Aa X ini akhirnya menemukan pencerahan berkat BSP. Perlahan ia bisa menguak trauma yang menghantuinya, menghadapi trauma tersebut, dan hingga kini ia tidak lagi mengonsumsi obat penenang sebanyak biasanya.

p_20170204_104602

Acara ditutup lewat tengah hari setelah diadakan pula kuis tanya jawab berhadiah sesi gratis BSP.

Overall, gue sangat tertarik untuk menggunakan BSP ini dalam emotional healing gue, sebuah peer besar yang sudah bertahun-tahun menunggu diselesaikan. Apalagi sebagai seorang mama, “kewarasan” gue akan menentukan emosi anak-anak gue. Dari pengalaman gue menjadi peserta seminar BSP ini, gue yakin banyak memori traumatis terpendam dalam alam bawah sadar gue yang diam-diam menggerogoti gue, berlangsung tanpa gue sadari kalo kerusakan ini sedang terjadi.

ARE YOU INTERESTED WITH BSP?

Untuk mereka yang tertarik untuk menjadi trainer BSP, sekitar awal Mei 2017 (5-7 Mei 2017) akan ada sesi trainingnya di Jakarta. Keterangan lebih lanjut bisa menghubungi PsyCoach dengan kontak berikut :

PsyCoach Human Integra


Jl. A.A. Kalipasir No. 2, Cikini – Menteng, Jakarta Pusat
CP : Aditya Prabowo / Ine Indriani
0815-1116-1055 / 0812-184-3632

PsyCoach juga melayani konsultasi BSP di area Jakarta dan sekitarnya.

Untuk area Bandung, konsultasi BSP bisa datang ke Santosa Hospital Bandung Central dengan menghubungi psikolog Ibu Amanda Octacia Sjam.

Santosa Hospital Bandung Central
Jl. Kebonjati no. 38, Bandung
Telp. 022-4248333

Seneng banget, ilmu pengetahuan di bidang kesehatan yang semakin maju, pada akhirnya mendorong kita sebagai manusia untuk tetap mengambil kendali atas permasalahan kesehatan kita sendiri. Looking forward for more breakthrough to enhance my quality of life!

#ODOP2017 #week6 #post6

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s