Aku Tak Ingin Berlari

Menggandeng angin, mengejar target di depan sana. Aku dan berlari adalah sahabat tak terpisahkan.

Kaki-kaki ini selalu penuh semangat. Mengalirkan adrenalin ke setiap laju darahku. Maju, maju, maju, teriaknya.

Hingga aku bertemu kau. Tembok tebal penuh keangkuhan. Terdiam di sudut, bersembunyi di balik bayang.

Aku yang selalu ingin jadi nomor satu, tersentak penuh cemburu. Sabdamu, engkau yang pantas berada teratas. Hingga akhirnya waktu mengikis jiwa bersaingku. Masa yang menggerus kesombonganmu.

Tanganmu yang kini terulur rela. Menahan jatuhnya kawan-kawanmu. Mengangkat tubuhku kala tak kuasa melawan musuh durjana.

Aku tak mau jadi lawanmu. Aku ingin berdampingan denganmu. Menghadang lawan serupa. Menjaga bumi bersama.

Perlukah bertahun-tahun berselang, untuk menyadari rasa yang berdenyut berbeda. Rasa yang kupendam sekian lama. Terselubungi tawa canda di tengah petualangan dan perjuangan.

Sekali ini, jangankan bergerak secepat kilat. Sepatah kata pun sulit terluncur dari bibir mungil ini.

“Kamu kelihatan lebih manis. Apa karena hari ini hanya ada aku di sini?” ujarmu sambil tersenyum penuh arti.

Aku hanya terpaku, membisu. Bertahan untuk tidak melakukan hal konyol. Demi menutupi kekikukan ini. Demi menahan hati yang ingin melesat jauh ke angkasa.

Ah, ini rupanya bunga masa remaja. Cinta pertama. Mimpi yang sepertinya tak perlu repot kukejar terengah-engah. Karena ia sudah nyata, hadir di sisiku selama ini.

KRIIINGGG!

pic  : wendybraus67

“Ying, kamu sama Fang lama amat sih beli es kokonya? Kita udah kehausan nih!”

“Oke, Yaya! Semenit lagi kita sampe kok. Ini tadi…ummmm…dompetku ketinggalan di tempat Tok Aba.”

“Tumben kamu nggak secepat biasanya, Ying. Apa ada penjahat menahan kamu?”

Kupandang pencuri di sisiku. Pencuri hati, pikiran, dan perhatianku.

“Ummm..tadinya sih. Tapi, udah berhasil kutangkap kok. Dia nggak akan lari kemana-mana sekarang.”

Di balik telepon, senyumku mengembang. Satu kali ini, aku tidak lagi ingin berlari. Pengejaran ini terhenti sudah.

“Tenanglah, kita terlambat sedikit nggak apa-apa, kok. Yakin kamu nggak mau lebih lama berduaan seperti ini?”


Kamu selalu tahu kata-kata yang tepat untuk membuatku tersipu. Aku yakin kau selalu bisa menafsirkan arti di balik diamku.

Habisnya kata dari seorang gadis yang gemar bicara. Itu adalah gejala, sebuah sindrom bertajuk Jatuh Cinta.

<setiap nonton boboiboy, entah kenapa terbayang imajinasi tentang dua tokoh ini menjadi couple. sama-sama self-proclaimed, kepedean, kompetitif, tapi juga setia kawan. perdana bikin fan fiction, masih perlu banyak keberanian ngedalamin karakter nih hehehe>


…sambung lagi lain waktu…

#ODOP99days2017 #week2 #post3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s