Kisah Jagoan Kedua (part-1)

Apa kabar pembaca, stalker, fans, siapapun lo yang nunggu kemana gerangan penulis blog ini yang ilang ditelen buaya buntung. Soal kenapa gue ngilang, ntar ada sesi curhatan lagi ya, anggep aja lagi semedi (baca : digelayutin dua anak dan manajemen waktu yang ambyar sangat).

Sebagai posting penanda kembalinya gue ngetik di WP, ini satu kisah utang yang kudunya disetor ke kuncen web Rocktober-15 (kambing sun yak websitenya hehehe). Berhubung cah lanangnya udah lewat setahun, saatnya nostalgila sikit je (kata Upin Ipin).

Ehem, gelar tiker profesional dulu. Silakan duduk dan nikmati cerita ini bersama cangcimen, mijon, serta the famous Gemblong Gerbang Tol #halah

tuninutninutninut mari masuki lorong waktu wusss wusss…

KEMBALI KE TAHUN 2015

Setelah anak pertama melewati masa wajib ASI-nya di usia 2 tahun, Tyo (laki ogut tersayang) mengajak gue untuk nambah momongan. Sempat ragu dan takut, akhirnya gue memutuskan untuk pasrah. Nggak disangka, hanya 3 bulan berikhtiar, di rahim gue tumbuh calon adeknya Mas Aryo.

Kehamilan ketiga ini (sebelum Aryo, gue sempet hamil dan keguguran di usia kandungan 11 minggu), gue diberikan banyak ujian. Mulai dari pendarahan di bulan kedua yang mengharuskan gue bedrest satu minggu, sinusitis yang kambuh di bulan keempat, merawat Mas Aryo yang terserang HFMD alias Flu Singapore di bulan keenam. Belum lagi drama ART yang menguras energi dan emosi.

Syukurlah, gue mendapatkan kekuatan tak terduga untuk melalui itu semua. Dukungan dari beberapa pihak, termasuk daycare dan para abang ojek, memudahkan gue untuk menjalani rutinitas bekerja dan mengasuh Mas Aryo.

November 2012, kelahiran Mas Aryo dijalani melalui operasi sectio caesarea darurat, akibat ketuban pecah di injury time alias minggu 42 tanpa bukaan. Nyaris 3 tahun berselang, gue memilih main aman. Walaupun dokter kandungan gue, dr Dedi Arman Saibi di RS Hermina Bekasi, menawarkan untuk mencoba lahiran normal atau Vaginal Birth After Caesarian (VBAC). Maklum, gue bukan tipe risk-taker. Ditambah, Mas Aryo yang berulang tahun di sekitar due date, membuat gue makin mantap memilih melahirkan via SC lagi. Nggak terbayang kalo melalui proses pembukaan lama ini itu atau menunggu lagi kelahiran sampai injury time. Gue pengen melalui kelahiran terencana dan terjadwal.

Diaturlah jadwal SC setelah usia kandungan di atas 38 minggu dan kurang dari 40 minggu. Awalnya, gue menetapkan tanggal 28 Oktober, hari Rabu yang bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda (historia banget yaaa hehehe). Namun, Tyo meminta untuk memundurkan ke tanggal 30 Oktober, di hari Jumat, untuk kemudahan ia mengambil cuti yang lebih panjang. Jadilah, SC dijadwalkan pada hari Jumat, 30 Oktober, jam 08.00.

Di sela-sela menanti hari operasi, gue disibukkan oleh sederet kegiatan. Menyelesaikan pekerjaan sebelum cuti (termasuk persiapan akreditasi di sekolah), menyiapkan kebutuhan si dekbayi, dan yang paling utama… berusaha menepati janji ke Mas Aryo untuk membuat perayaan ultah Boboiboy di daycare nanti.

Dengan Tyo yang juga disibukkan kejar target di kantor, gue berusaha mandiri, mengerjakan tanpa didampingi. Termasuk hingga 4 hari menjelang operasi, gue masih cuek naik ojek untuk pemeriksaan dan bertemu dengan dokter anestesi. Alhamdulillah, jagoan di perut gue ini begitu kuat dan pengertian, sama sekali tidak menyusahkan 🙂

Kamis petang, 29 Oktober, setelah Maghrib, gue pun berangkat ke RS membawa hospital luggage (yak, bukan lagi pake tas, tapi KOPER!) ditemani Tyo, Mas Aryo, dan nyokap. Selesai mengurus administrasi, mengingat besok pasti menu makan gue berkisar bubur sumsum atau sejenisnya, yang sori dori mori, jauh dari nikmat, kami pun beranjak makan malam di dekat rumah sakit. Gue melahap seporsi besar nasi goreng ayam dengan telor dadar. Jos gandos maknyussss rasanya hahaha #lebaydetected

Menuju kamar perawatan, Mas Aryo tampak berat berpisah. Maklum, ini pertama kalinya dia tidur tanpa gue. Sedih sebenarnya, tapi gue bertekad harus tegar, dengan harapan Mas Aryo ikut kuat. Gue ajak Mas Aryo ngobrol, sambil mengelus perut gue yang membuncit. “Aryo doain Mamah sama dekbayi, ya. Besok, Inshaa Allah, Aryo bisa ketemu dekbayi dan Mamah lagi. Doain kita sehat, selamat, nanti kita main bareng, oke?” Sekuat tenaga, gue coba bicara sambil menahan air mata.

Kedua lengan kecil Mas Aryo melingkari tubuh gue. Gue bisa merasakan kerinduannya, bahkan saat kita belum berpisah. Membayangkan, kasih sayang gue yang selama ini tercurah untuk dirinya seorang, akan sama tercurah untuk seorang jagoan lagi. Tidak terbagi, namun setara diberikan, semoga.

Gue dan Tyo sepakat untuk menitipkan Mas Aryo di daycare esok pagi seperti biasa, hingga sore nanti baru Aryo dijemput ke Rumah Sakit saat jam besuk mulai jam 17.00. Semua demi kenyamanan Aryo tidak lama menunggu dan kesiapan gue serta dekbayi yang pada waktu sore itu sudah lebih baik setelah observasi pasca operasi.

Tak lupa gue meminta maaf dan restu dari Tyo serta nyokap. Pasrah sudah, semoga besok perjuangan gue dimudahkan dan dilancarkan. Mas Aryo pun meninggalkan gue di RS tanpa drama. Bocah lelaki kecil ini mulai belajar melepaskan rupanya. Hati gue pun menjadi lebih tenang.

Nah, kembali ke kamar perawatan. Gue berganti baju dan mulai basa-basi kenalan sama tetangga, seorang cewek yang mau operasi kista besok sore. Kisahnya cukup mengiris hati juga karena ia kehilangan anak pertama yang lahir prematur dan sempat dirawat di NICU selama sebulan. Pasca melahirkan, ternyata ada infeksi di vaginanya akibat semacam kista yang tertinggal. Untung si Mbak ini terlihat cukup tegar, walaupun terlihat ada kecemasan juga di raut wajahnya.

Sambil mengobrol, TV pun menyala, menayangkan salah satu acara favorit kala itu Stand Up Comedy Academy. Puas-puasin deh ngakak geje, pasti besok ketawa ihik ihik aja dijamin nyeri sedep.

Menjelang tengah malam, pembicaraan disudahi dan gue bersiap tidur. Baru aja merem sekejap, ada colak colek halaaaah! Malem Jumat bikin parno, kan! Ealah tahunyaaaa…seorang perawat bawa sepiring nasi goreng pake telor ceplok, jatah makan malem gue rupanya. Okelah, sikat lagi Jon! Kremas kremus, gue melahap sesajen tengah malem itu dengan khidmat. Kurang diiringi lagu Syukur aja, macem penutupan acara TV nasional.

Usai makan, gue terlelap. Tak terasa, adzan Shubuh sudah berkumandang. Gue menunaikan shalat, kemudian mandi. Keluar dari kamar mandi, ternyata perawat udah menanti untuk memasang saluran infus di lengan gue. Waktu operasi semakin dekat, ada perasaan deg-degan campur excited menjalar di tubuh gue.

Gue menelepon nyokap dan Tyo, mengabarkan kalau gue akan masuk ruang persiapan pada pukul 07.00. Sekali lagi, gue meminta doa restu kepada mereka. Semoga semuanya lancar.

Lalu……

nyambung di postingan baru aja ya hehehehe #kentangyak

 

Advertisements

One thought on “Kisah Jagoan Kedua (part-1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s