De Emaks Cadas Ep. 11

“Ri, I’m homeeeee!” suara teriakan Ian menggema di kuping gue.

Sebenernya, Ian udah bilang kalimat itu berkali-kali. Dia pun coba pake beberapa versi bahasa, Inggris, Jepang, Jawa, Sunda, logat Batak, logat Papua, sampe bahasa gugu-gaga “Guguege pugulagaaaang!”. Gue terlalu khusyuk mantengin forum The Hip Mama. Nebar postingan di beberapa thread. Oke, koreksi, hampir di semua thread. Nyampah kelas Bantar Gebang.

“Asyik bener, Neng. Nonton Korea apa bokep?” tanya Ian jahil. “Bukan, lagi ngitung weton di primbon online,” sahut gue ngasal.

Ian geleng-geleng sambil nyengir. Sejurus kemudian, sekotak martabak manis kacang coklat mendarat di pangkuan gue. “Oleh-oleh buat si jagoan,” ucap Ian sambil mengecup kening dan perut gue.

“Makasih Papap! Semur jengkol pesenan udah di meja yaaa,” balas gue sambil kembali menekuni layar notebook.

Ian mengacungkan jempol dan menghilang ke kamar mandi. Gue masih terus mengetik dan membaca. Sampai akhirnya, gue merasa mata semakin sepet, bagai ngeliat Syahrini pake bulu domba dibalut kertas krep warna-warni ala sepeda hias. Saatnya tutup lapak, gumam gue.

Gue meninggalkan meja kerja. Dua cangkir teh peppermint hangat segera tersaji di meja. Ian pun bergabung lima menit kemudian. Menikmati teh dan martabak bersama gue.

Gurat-gurat penat terlihat di muka Ian. Gue sadar beratnya pekerjaan Ian untuk menata dan memimpin kantor cabang baru di Bandung. Ini adalah tahun kelimanya di sebuah brand activation agency. Perusahaan yang sedang berkembang pesat dan kini melebarkan sayap ke Bandung. Kota yang identik dengan sumur ide kreatif dan semangat anak muda yang menjanjikan.

Di balik kelelahannya, bak membangun candi dalam satu malam, Ian tetap menunjukkan keceriaannya. Work problems stay at office. Begitulah prinsipnya. Waktu kami berdua, tetap dihabiskan berkualitas berdua. Sebisa mungkin minim gangguan, termasuk nyamuk dan laron sekalipun.

“Kok tumben jadi anak forum sekarang? Udah lama nggak ngaskus kan?” tanya Ian. Rupanya tadi ia melirik sedikit apa yang begitu menyita perhatian gue.

“Bukan kaskus, Yan. Ini forum emak-emak gahul masa kini,” gue sesumbar dengan gaya aristokrat Victoria Beckham. “Trus, ngomongin apa? Tips bikin sambel terasi ala Gordon Ramsay?” celetuk Ian sambil menyeruput tehnya.

Wah, Ian agak meremehkan kekuatan ibu-ibu zaman sekarang sepertinya. “Macem-macem sih, segala hal tentang hamil, melahirkan, bayi, anak, sampe me-time emaknya,” jelas gue.

“Yang pasti, ini lebih berbobot daripada obrolan tukang sayur yang isinya gosipan infotainmen atau ngomongin orang doang,” sahut gue penuh kemenangan.

Ian tersenyum kecil. “Inget lho, temenan di dunia maya boleh aja. Seimbangin sama ketemu orang beneran. Kata anak sekarang, biar ga halu,” saran Ian, mengusap punggung gue dan mengajak untuk pindah ke sofa ruang TV.
Gue terdiam. Baru di hari pertama aja, gue udah hampir lupain suami. Apalagi ntar kalo udah keenakan ya.

“Gue nggak ngelarang, Ri,” Ian seperti dapat membaca pikiran gue. “Lo udah gede, bisa nyaring informasi. Kapanpun lo merasa galau, bingung, inget aja… Masih ada gue di sini buat lo ajak ngobrol. We’re in this together, right?” ucapan Ian yang membuat gue merasa tertampar macam Mbak Ambar Noktah Merah Perkawinan. PLAKKK!

 

#ODOPfor99days #day119

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s