De Emaks Cadas Ep. 10

Gue pikir Perang Dunia bakal melibatkan senjata biologis dan nuklir kelas berat. Mirip film-film spionase box office. Ternyata…

Bukan lagi serdadu yang angkat senjata. Tapi emak-emak ambisius dan ekspektasi tinggi. Oya, plus menghakimi lebih kejam dari Judge Bao.

Itulah kesan yang gue dapet setelah dengerin panjang lebar penjelasan Melanie tentang pentingnya gue gabung di forum parenting dan grup birth club. Untuk cari sekutu menghadapi kejamnya dunia emak-emak.

“Lo bakal butuh tempat sharing, dukungan dari orang yang ngalamin derita yang persis sama. Ortu, mertua, suami sekalipun belum tentu bisa ngerti seratus persen kondisi kita. Ya, di birth club udah paling pas, apalagi anak-anaknya seumuran,” Melanie terus meyakinkan gue untuk segera bergabung dengan birth club.

Melanie juga ngajarin gue untuk eksis di The Hip Mama, forum parenting yang menurut Melanie adalah kitab parenting yang lengkap dan real. “Lo gabung aja dulu di birth club sesuai due date yang dibilang obgyn lo. Thread lain juga banyak yang oke kok, topik apa aja ada. Nggak usah sungkan nanya, nanti bakal ada yang jawab. Asal rajin baca juga posts sebelumnya, jadi nggak ngulang nanya yang sama,” bener-bener hari ini Melanie kasih mata kuliah Mamak Eksis 101 buat gue hahaha.

Sementara gue cuma manggut-manggut kaya keledai ngantuk. Cengok maksimal.

Nggak lama, Tula berjalan sempoyongan turun dari kasur. Sibuk mencari Mama-nya sambil ber-ihik-ihik manja. Melanie pun memeluk dan menggendong Tula, sambil berjalan menuju dapur, mengambilkan minum untuk gadis kecilnya.

Gue mengamati pemandangan sederhana ini sambil berkaca-kaca. Ya ampuuun, kenapa gue dikit-dikit nangis macem Nikita Willy di sinetron? Gue merutuki hormon yang bikin emosi gue tiba-tiba luber nggak terkendali.

“Ateu! Ateu!” suara menggemaskan Tula memecah keheningan. Dia asyik memainkan tali celana gue yang menjuntai. Mata bulat coklatnya bersinar. Rupanya nyawa Tula udah ngumpul lagi. Gue celingukan nyari Melanie, yang ternyata lagi sibuk di dapur menyiapkan makan siang Tula.

Gue berlutut, mencoba menyamakan tinggi dengan Tula. Berpikir keras, main cilukba masih pantes nggak ya di umur segini? Diajak main congklak, kemudaan. Apalagi main Para Para Dance, beleleran yang ada.

Tula tersenyum jahil. Kemudian malah menutup mataku dan membukanya. “Cilukkkkbaaaa!” serunya girang. Ah, anak-anak selalu bisa membuat kejutan manis dengan caranya. Gue refleks tertawa dan memeluk Tula. Hangat, dengan harum khas bayi menelisik hidung.

“Ateu bauuuu!” tiba-tiba Tula berteriak sambil menutup hidungnya. Ah, perut gue kebanyakan makan rujak, gas pun membludak keluar dari tangkinya.

#ODOPfor99days #day 118

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s