De Emaks Cadas Ep. 9

“Lo tuh butuh support group, Ri,” ujar Melanie suatu siang. Siang yang cukup terik, dihabiskan di teras belakang rumahnya. Syukurlah, mual muntah gue udah berkurang banyak sejak dua hari lalu. Mulut dan perut gue mulai sayang-sayangan lagi sama makanan-makanan enak. Seperti siang ini, nikmat banget bisa menyesap iced lemon tea dan menyerbu rujak mangga. Hidup asem!

“Apaan lagi tuh support group? Baru denger gue,” sahut gue, sembari mencocol potongan mangga ke bumbu rujak.

“Hmm, apa ya? Semacam sekelompok cewek senasib seperjuangan, Ri. Bumil-bumil juga, bagusnya sih yang usia kehamilannya sama,” jelas Melanie. “Due date lo bulan apa?” tanyanya sambil sibuk menekan-nekan layar sentuh HP-nya.

“Juni 2015, ramalan Mbah Bitels sih begitu,” jawab gue asal. Mbah Bitels itu julukan buat dokter kandungan gue yang Beatle-mania. Melanie tampak serius mencari-cari sesuatu di HP-nya. Pencet sana, pencet sini. Alisnya makin berkerut, seperti membentuk Gunung Kelud.

Sepertinya, buat Melanie, masa-masa ini begitu berharga. Bisa ngobrol berdua, makan santai, main HP tanpa teriakan atau aksi mengejutkan Tula. Si gadis lincah sedang terkapar kecapean di kasurnya. Semoga tidur siangnya bisa cukup panjang, doa yang dipanjatkan Melanie setiap hari, tebak gue.

“Nah, nih ada birth club Juni 2015. Ada IG-nya, lo follow aja dulu, liat-liat. Kalo minat, langsung klik link yang ada profile,” Melanie bener-bener usaha buat gue. Tapi, apa Melanie lupa? Betapa kacaunya gue bersosialisasi dengan sesama cewek?

Gue coba follow akun IG yang dimaksud Melanie. Baru ada 1 post. Isinya menjelaskan tentang birth club yang ternyata bagian dari salah satu forum parenting.

“Mel, ini masih sepi IG-nya. Kayanya gue harus gabung ke forum intinya dulu,” gue nunjukin hasil penyelidikan James Babon.  Melanie melirik sekilas. “Gabung aja, Ri. Itu forum bakal banyak bermanfaat buat lo, kok. Udah kaya kitab digital gue buat ngadepin Tula, dari zaman masih di dalem perut,” Melanie kembali promosi.

Muka ragu gue nggak bisa diumpetin. Melanie sadar bener, ini sahabatnya lagi mode cengok binti siap tersesat.

“Ri, gue tahu masalah lo, ketakutan lo. Makanya, gabung aja dulu di forum virtual gini. Lo nggak perlu capek mikir gimana harus berekspresi, gimana bahasa tubuh yang pas. Udah diwakilin semua sama emoticon,” Melanie membaca gue, lebih cepet dari Romi Rafael.

Sebentar lagi, ada tisu kebakar melambai depan gue. Gue lemes, dikorek-korek deh sama Melanie Kuya. “Kamu masih suka pipis di celana ya?” pertanyaan semacam itu bakal langsung membuka semua rahasia cantik gue.

“Ria Jenaka, lo itu udah jago nulis dari waktu pake seragam putih merah. Kenapa sama forum begini lo merinding? Udah, coba aja dulu. Kalo nggak cocok, lo off pun nggak bakal diseret balik lagi,” celetuk Melanie.

Sial. Hormon-hormon kehamilan bikin galau gue lebih parah dari abege panik dapet jerawat pertama.

#ODOPfor99days #day117

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s