De Emaks Cadas Ep. 8

Hamil benar-benar membuat dunia gue jungkir balik. Literally.

Apalagi di bulan-bulan pertama ini, serasa setiap hari gue naik roller coaster raksasa campur metro mini kejar setoran. Pemakan segala berubah menjadi pemuntah full-timer.

Hamil itu berat, Jendral! Rasanya gue pengen teriak itu tiap hari. Sambil berlutut di kloset. Minum Topi Miring campur orson aja nggak gini-gini amat kayaknya.

Parfum Ian, bau nasi baru mateng di rice cooker, aroma ketek Mang Sayur, popok Tula yang kepenuhan, sampe bau kentut gue sendiri. Sukses membuat gue mendadak huek huek tanpa dikomando.

Mereka bilang, ini namanya morning sickness. Sayangnya, yang gue alamin adalah “suka-suka-sickness“. Dia dateng seenak jidat kue pancong bangsa Klingon. Mau pagi, siang, sore, malem, seakan punya unlimited free pass. Kamfreto sangaddd!

Dokter Gugun tetep woles. Gue sama sekali nggak diresepin anti mual. “Ini reaksi alami, Bu. Nikmatin aja hormon-hormon berpesta. Biasanya masuk bulan keempat, berangsur hilang,” jelasnya ketika gue curhat sambil setengah nangis. Bayangin deh, gue kepengen berat makan Nasi Padang. Begitu pesenan gue disajiin Ian di depan muka, baru juga karetnya dibuka, langsung tumpah isi perut gue di lantai.

Padahal ngidam gue luar biasa. Nasi Padang siram bumbu rendang, harus pake karet dua, satu merah satu ijo. Patah hati gue, kedengeran suara “krak krak” dari dalam hati huhuhuhuhu.

Melanie tiap hari berkunjung ke rumah. Menyeduh teh melati, yang lama-lama seperti mengundang Suzanna dateng. Menggantinya dengan teh mint dan menjadi favorit gue selain wedang jahe. Sementara Tula dengan aksinya, membuat gue ingin cepat melahirkan. Memberinya partner in crime dan teman berlari berkejaran.

Ian masih meluangkan waktunya untuk nemenin gue, menghibur gue. Sayang, ketawa gue susah banget keluar. Rasanya mau hahaha, keluarnya huek huek huek. Perut bergetar, bikin gue parno abis-abisan.

Setiap malam, sambil menempelkan koyo di pelipis gue, Ian mengelus perut gue. Sambil berucap santai, “Yo, jagoan! Temenin Mama bertanding sama isi perutnya. Tahan biar nggak keluar terus, oke? Piting aja, kunci pake kaki kamu, biar ga kabur!” Ian menyemangati si Utun janin seperti pelatih tarung bebas.

Gue cuma sanggup tersenyum tipis, sambil bersyukur. Di tengah hiruk pikuk kepindahannya di kantor baru, Ian masih bisa melupakan tekanan. Laki gue ini emang bener-bener penghibur sejati.

“Yan, kalo udah nggak mual muntah gini, gue pengen nonton Stand Up, dong,” gue merajuk manja-manja anak kucing kelaperan. “Banyak asap rokok lho, Ri. Are you sure?” tanyanya sedikit cemas.

“Cariin event yang bersih asap rokok, Yan. Kasian ntar si Utun ileran ingusan congek pula,” sahut gue asal. “Husssss!! Ntar kejadian beneran, gimana?” tegur Ian, mukanya mendadak serius. Gue jadi ngerasa kikuk dan malu, udah bertingkah ngaco.

“Ya udah, ntar gue coba cariin ya. Tidur gih, besok kan harus siap tangkis serangan mual lagi,” Ian menutup malam dengan mengecup kening gue.

Malam itu gue bermimpi. Tidak hanya menonton Stand Up. Gue menjadi salah satu komika. Mengocok perut penonton, dengan perut yang menggendut. Perut yang ikut bergoyang ketika penonton tergelak. Diiringi musik Andeca Andeci, Utun pun berjoget.

#ODOPfor99days #day116

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s