De Emaks Cadas Ep.4

Sigap, gesit, melesat cepat. Gue bagai titisan Chuck, si burung kuning tukang ngebut dari Angry Birds. Pindahan besar antar kota antar provinsi dalam satu bulan itu seperti bangun candi dalam semalem.

Hal pertama yang gue lakuin setelah ngasih tahu orang tua dan kakak gue, adalah… nodong Ian untuk ngontrak rumah tetanggaan sama Melanie. Yang gue butuhin di kota yang baru : setidaknya ada 1 ibu di kompleks yang nggak bikin gue gila dan mutusin buat gabung sama bapak-bapak, ngebul garpit sambil main truf.

Untungnya, Ian setuju. Budget akomodasi dari kantornya masih masuk ke biaya kontrak rumah di kompleksnya Melanie. Kebetulan, Melanie rekomen satu rumah yang masih satu deretan dengan rumahnya. Rumah ini masih relatif baru, cuma ditinggali kurang dari dua tahun. Pemiliknya, kakak dari salah satu teman dekat Melanie, Dani. Kang Rio, begitu Melanie menyebutnya, pindah ke Singapura bersama isterinya sejak dua bulan lalu. Namun, mereka memutuskan untuk tidak menjual rumah ini karena menyimpan angan untuk suatu hari pindah kembali  ke Bandung.

Emang udah mestakung banget, gue harus pindah ke kota paling gahul favorit, yang tiap hari bawaannya hepi hepi yayaya, jajan-jajan cantik, sambil kongkow di taman-taman cakep. Siap-siap dipanggil Teteh nih…semoga bukan dipanggil Borokokok hahahaha.

Soal pindahan, karena sekarang udah zaman bayi maen Instagram, tinggal sewa jasa pindahan hasil semedi di Mbah Gugel rebeslah pening pala awak. Kebetulan barang-barang gue dan Ian juga nggak banyak-banyak amat sih. Ehm, mungkin pengecualian buat koleksi komik, kaset, mainan ala 90s, yah sampah-sampah jadul yang nambahin nyawa dan kewarasan kita tiap hari.

Hari ini gue pun mulai membereskan harta-harta karun ini ke dalam dus. Rasanya, pengen cepet bawa ke Bandung. Takut ngebayangin terjadi sesuatu sama mereka pas pindahan. Tuh, kan, gue mulai lebayatun bangetun. Bener banget, gue kudu punya anak. Biar gantian meluk darah daging sendiri. Bukan cemasin tumpukan komik yang halamannya kuning-kuning. Atau gamewatch yang disayang setengah mati padahal kerjanya bilang “Bego lu!” melulu.

Ah, satu hal yang tiba-tiba teringat. Gue kudu cari komunitas Stand Up di Bandung. Itu hiburan paling mujarab buat gue dan Ian. Lebih penting dari berburu dokter kandungan dan dokter anak (ini sih tinggal nanya Melanie aja, pasti pilihannya oke dan satu selera sama gue).

Hmmmm…oke juga kayanya kalo cek ombak dulu, ngeBandung weekend ini. Sekalian kangen-kangenan part one sama Melanie, Davi, dan Tula.

Gue menatap ke bayangan di kaca. Rambut acak-acakan, keringetan, ada sedikit debu nempel di muka. Kucel, kumel, tapi senyum di wajah gue menambahkan secercah cahaya bernama bahagia.

A happy mama makes a happy baby. Tahu-tahu kalimat itu melintas tanpa permisi di otak dan hati gue pun langsung berdebar nggak karuan.

Gue langsung berlari menuju kalender meja di meja tulis dekat ruang keluarga. Mungkinkah?

#ODOPfor99days #day112

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s