De Emaks Cadas Ep.2

“Mel, gue pindah ke Bandung bulan depan!!!!” teriak gue di telepon. Orang pertama yang gue kasih tahu kabar gembira ini.

“Maaf, Melanienya lagi gantiin popoknya Tula. Ini Ria, ya?” terdengar suara Davi, suami Melanie, yang mengangkat telepon. Di belakangnya gue ngenalin suara Melanie. “Tula, sini, jangan kabur dulu. Pake dulu popoknya!” Diselingi tawa jahil Tula terkikik-kikik.

Waduh, Melanie dikerjain Tula lagi hihihi. Siapa sangka, anak satu tahun bisa jungkir balikin hidup lo dengan cara yang nyebelin sekaligus gemesin?

“Ya udah Dav, ntar gue telepon lagi aja deh. Sana, bantuin Mel ngejar si putri gembil,” sahut gue, sedikit kecewa kehilangan momen kehebohan.

Sekelebat, sebuah bayangan muncul di benak gue. Gimana ya rasanya jadi seorang mama?

Bisa nggak gue ngasuh anak dengan segala kedodolan gue ini?

SIGH.

Dari semua aspek kehidupan, aura keibuan dan mengurus rumah tangga bagaikan kuda pegasus dan monster Loch Ness bagi gue. Mitos, legenda, tak nyata.

Sampai sekarang, bergaul dengan ibu-ibu jadi kutukan buat gue. Susahnya lebih-lebih dari nyari huruf N di bungkus permen karet YOSAN. Sementara, bergaul dengan mas-mas dan bapak-bapak jauh lebih gampang serta menyenangkan bagi gue.

Cuma beberapa cewek aja yang bisa tahan temenan sama gue. Beberapa dalam artian DUA. Selain Melanie, ada Tira, tetangga gue waktu kecil, yang pindah ke Jepang waktu gue kelas 5 SD.

Sisanya, gue bertemen sama cowok-cowok, ngalor ngidul ke sana kemari. Entah gue digosipin apa sama geng cewek-cewek selama ini. Yang pasti, gue aman dari bully, karena pada takut deketin gue yang dikelilingin cowok-cowok gahar. Gahar di luar, garing di dalam, macem rengginang dimasukin ke kaleng pestisida.

Sebuah tangan hangat membawa gue pergi dari alam lamunan. Rupanya Ian nempelin bungkusan nasi padang di pipi gue. Haisssshhhh, panas amaaaat!

Sambil ketawa jahil bin kejam, Ian nyeletuk, “Belom mulai udah bengong jorok aja. Isi bensin dulu biar kuat nanjaknya.”

Gue pun ketawa miris sambil ngusap pipi yang hot jeletot. Ah sudahlah, semoga di Bandung yang identik sama bobodoran, gue bisa ketemu sama kaum gue.

Kaum wanita dengan selera humor tinggi. Kumpul arisan, cekikikan centil, dan bicara dengan berbagai ekspresi kata ANJIR. Cool pisan, anjirrrr!

“Buruan makan! Ntar ayam popnya minta ditransfer ke piring gue lho!” seru Ian, mencubit pipi gue (kasiman bener dah pipi gue dibully melulu sama Ian).

Dan gue pun khidmat menasiPadang. Telepon Melanie bisa menunggu. Nasi Padang dan suami panas, kudu cepet diserbu, AMMMMM!
#ODOPfor99days #day110

Advertisements

4 thoughts on “De Emaks Cadas Ep.2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s