De Emaks Cadas Ep.1

“Yan, ayo bikin anak sekarang!”

Sedetik kemudian, suami gue tersayang sukses nyemburin es teh manis yang sedang asyik diteguknya.

Masih dalam mode megap-megap ala lele dilempar ke darat, Ian coba menyusun kata-kata, membalas ajakan absurd gue siang hari bolong.

“Tumben ngajakin siang bolong gini. Lo nggak capek?”

Ian nampaknya coba menafsirkan arti dari keringet segede-gede jagung gue, berpadu dengan muka garang harimau betina yang siap menerkam.

“Apapun demi buktiin kalo gue bisa jadi ibu yang asyik dan nggak rempong!” seru gue penuh kegeraman.

Tak disangka, Ian bernafas lega. “Untung gue nanya, atau nggak, abis gue dicabik-cabik macan kebelet kawin!” selorohnya sambil ngakak.

Ian merangkul gue, mengajak gue duduk di sofa, lalu pergi ke dapur mengambilkan gue segelas besar es teh manis kelas mamang tukang becak.

Selesai mereguk setengah gelas, gue merasa siap memuntahkan isi senapan mesin AK-47 yang tertahan di hati sedari tadi.

Ian tersenyum penuh arti. “Gue tebak, pasti ada kejadian di Posyandu tadi ya?”

Ah, cowok ini selalu bisa membaca gue. Gue rasa, Ian adalah titisan Nostradamus dengan sentuhan Sherlock Holmes. Susah sekali nyembunyiin rahasia dari Ian. Tebakannya selalu tepat sasaran membongkar perkara, bahkan sebelum gue bercerita.

“Ibu-ibu kompleks ngomentarin, ya?” selidik Ian. Gue mengangguk.

“Mereka nggak setuju banget kalo gue jadi MC acara penyuluhan bulan depan. Apalagi pas gue bilang kalo mau ada sesi stand up  comedy di awal acara,” ungkap gue.

“Menurut mereka, acara ini harusnya mencitrakan bunda pintar dan cerdas. Bukan dagelan culun. Apalagi kalo yang bawa acara, nggak punya pengalaman jadi ibu,” gue terus nyerocos.

“Terus, lo jawab apa?” Ian menanti bagian klimaks.

“Gue bilang aja. Ketawa itu obat paling manjur buat segala penyakit. Gimana anak mau hepi, kalo emaknya pada streng kaku, macem rambut Jon Banting. Eh, pada nanya, Jon Banting itu siapa. Begitu gue tunjukin fotonya, pada ngamuk dong!” tukas gue kesal.

Ian ngakak lagi sambil megangin perut.

“Yan, gue bisa gila tinggal di sini. Ibu-ibunya kurang piknik dan kurang minum Aqua. Udah sensi, kudet, lemot pula!” gue mendengus putus asa.

“Sabar, Neng. Ntar Abang gali harta karun dulu, biar kite pindah ke istana jamrud bulan depan,” kelakar Ian.

“Ntar di istana jamrud, kita ganti nama jadi Surti dan Tejo dong, Bang!” tambah gue sambil nyengir.

Rumah mungil kami pun dipenuhi suara ketawa membahana yang bikin kucing garong kuning yang terlelap di keset meloncat kaget.

“Serius, Ri. Bulan depan, kita akan pindah ke Bandung. Gue ditugasin buat nanganin kantor cabang baru di sana,” Ian pun memberi kejutan manis buat gue.

Oh my God, Ian. That is soooo fabolous!” ucap gue dengan gaya anak-gaol-gitu-loh-yang-ngehits-di-Snapchat.

“Selamat yaaa Ian sayang,” gue memeluk Ian, sambil mata berkaca-kaca.Terharu karena kisah horor gue berhadapan dengan pasukan zombie yang menghisap kewarasan gue bakal segera berakhir. Lo, gue, end, endessss!

“Trus tawaran bikin anak tadi masih berlaku?” Ian mengedipkan matanya genit.

“Nasi Padang dulu dong. Biar kuat tiga ronde,” sahut gue ngarep. Maklum, bete sama ibu-ibu bikin energi terkuras sampe huruf E.

Sambil menunggu Ian menelepon rumah makan langganan, pikiran gue pun mulai berkelana kemana-mana.

Ria Jenaka dan Euforiano Semesta, siap menggoyang Bandung Lautan Batagor! Gue pun langsung menyusun seribu rencana. Dimulai dengan mengabari partner in crime gue yang udah resmi jadi mamah modis Kota Kembang.

#ODOPfor99days #day109

Advertisements

3 thoughts on “De Emaks Cadas Ep.1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s