#Lagu90anBercerita : Memenangkan Yuna

basketball-wallpaper-800x600-e1433518231389

Nampaknya minus kacamata gue bertambah lagi. Bisa-bisanya gue melakukan kesalahan melihat yang segini parahnya.

Seharusnya gue tahu dan nyadar dari awal.

Cara dia menanggapi curhat gue tentang naksir-naksiran sama cewek
Badannya yang tinggi, kurus, dan rata seperti anak cowok
Ketidaktahuannya akan pelajaran Fisika dan Kimia
Selera musiknya yang berkisar di lagu-lagu kartun Jepang yang tayang di TV swasta

Cewek unik yang menyita perhatian gue itu, masih anak kecil!

Semua terkonfirmasi siang tadi, saat gue mau berangkat sekolah dan berpapasan dengan dengannya di jalan keluar kompleks. Dia, berjalan riang, sambil memainkan gelembung sabun, memakai seragam putih merah!

Mana gue tahu kalo dia masih SD????

Pantas saja Bang Doni tertawa melihatku salah tingkah di depan si gadis unik itu. Gue terlalu cepat menjatuhkan cinta, kepada anak yang belum cukup umur untuk mengerti.

Padahal, si gadis unik ini adalah teman pertama gue di kompleks ini. Ia tidak canggung menghampiri, mengajak berkenalan, tanpa gaya centil atau agresif, seperti cewek-cewek lain.

Tangannya yang membawa bola basket usang, langsung menantang gue satu lawan satu di lapangan depan rumah. Benar-benar seperti tidak ada beban. Permainan demi permainan, hari demi hari, hingga usainya liburan panjang kenaikan kelas.

“Lo kurang tinggi sih, makanya shoot lo nggak sampe ke ring,” ujarnya polos. “Tapi operan lo keren, kalo kata Kakak gue, yang pendek gitu biasanya jadi guard aja. Yang bawa-bawa bola itu lho,” cerocosnya bak ahli basket kelas wahid.

Gue hanya tertawa dan tertawa. Si gadis unik malah bingung. Mencoba mengerti, bagian mana dari kata-katanya yang mengocok perut. Sambil menggaruk-garuk kepalanya, wajah polosnya makin terlihat menggemaskan.

Ah, kemana dia sekarang? Sudah dua minggu lebih, ia tidak datang ke lapangan. Mungkin ini namanya kangen.

I feel it in my fingers
I feel it in my toes
Love is all around me
And so the feeling goes

****

Hati gue hancur. Si gadis unik tak ingin bermain dengan gue lagi. Dia kabur melihat gue berjalan ke arahnya. Larinya begitu cepat. Nafas gue tersengal mengejarnya, dan ia pun hilang di balik gang.

Gue begitu penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Gue coba meneleponnya. Tetapi, selalu saja tak bisa berbicara dengannya. Sedang keluar, sedang tidur, sedang mandi. Berbagai alasan untuk menghindar dari gue.

Niat gue untuk mendatanginya langsung pun dicegah oleh Bang Doni. Alasannya, nanti akan memicu perselisihan orang tua. Bisa gempar kompleks ini, melihat seorang anak SMA begitu agresif mengejar seorang siswi SD yang datang bulan saja belum dialaminya.

“Sudahlah, Ardi. Lupakan saja perasaanmu sama Yuna. Naksir dan pacarin cewek seumuran lo. Masa lo mau dicap pedofil?” ceramah Bang Doni kepada gue.

Gue pun akhirnya menyerah. Mungkin gue harus bersabar. Kalo jodoh, nggak akan kemana.

Obsesi Yuna gue akhirnya berhenti hari itu.

It’s written on the wind
It’s everywhere I go
So if you really love me
Come on and let it show

****

Apa kabar Yuna sekarang?
Ia pasti telah menjadi mahasiswi. Gue denger, ia sekarang kuliah di Australia. Berhasil meraih beasiswa dan kerasan tinggal di sana. Rumah Yuna kelihatan makin sepi. Setiap hari gue melewatinya dengan harapan yang sama. Seorang gadis berkuncir kuda, keluar dengan riang menenteng bola basket usangnya.

Malam ini, gue tergoda untuk bermain basket sendirian. Masih dengan pakaian kerja, gue melompat, mendribel, beradu dengan diri sendiri memasukkan bola ke dalam ring. Sayang, tak semua berakhir mulus.

“Sepatu pabtofel om-om itu bikin lompatan lo nggak maksimal, Di. Mending nyeker aja sekalian,” sebuah suara berkomentar di belakang gue.

Serta merta gue menengok dan terpana.

Seseorang dengan jaket bertudung dan celana jins selutut berjalan ke arah gue. Di tangannya ada sebuah bola basket yang masih bersinar karena baru.

Cengiran itu masih sama. Langkah itu masih sama. Suara hati gue pun ternyata masih sama.

Welcome back, Yuna!” seru gue sambil melemparkan senyum puas, puas telah berhasil menunggu momen ini belasan tahun lamanya.

One on one? Yang menang boleh curhat duluan,” tantangnya sambil mulai mengambil posisi menyerang.

“Kenapa baru sekarang lo nantang gue lagi, Yun?” rasa penasaran gue tak terbendung.

“Yah, gue harus pastiin. Cewek-cewek groupies lo udah pada kawin semua dan nggak bakal ancem-ancem gue kaya dulu,” jawabnya cepat.

Gue kembali terkejut, tak menyangka. Jadi, selama ini dia nggak pernah benci sama gue. Berarti…

Senyum gue mengembang. Yuna yang sekarang pastilah sudah mengerti apa itu artinya cinta. Dan gue nggak akan dicap pedofil kalau memacarinya, atau memancing kehebohan di kompleks  kalau gue mengejarnya sekali lagi.

“Yun, kali ini, gue bakal menang. Termasuk menangin lo,” sahut gue penuh arti sambil memasang kuda-kuda bertahan.

Bring it on, old man!” serunya tertawa ceria seakan menemukan akhir bahagianya.

You know I love you, I always will
My mind’s made up by the way that I feel
There’s no beginning, there’ll be no end
Cause on my love, you can depend

****

#nowplaying Love is All Around – Wet Wet Wet (1995)

#Lagu90anBercerita #ODOPfor99days #day108

Gambar dari sini

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s