#Lagu90anBercerita : Diam jadi Ampas

 

lips-zipper-2-3487375.jpg

Selama ini, selalu kupegang teguh peribahasa kuno. Diam itu emas. Dengan menahan diri, menahan lidah, menahan nafsu untuk mengembalikan omongan yang menyakitkan hati, kebaikan akan jadi milikku. Apalagi, omongan miring, hinaan, celaan sudah jadi makananku sehari-sehari, semenjak usia belia.

Iiiih, gendut-gendut masih kepedean pake gaun. Putri beruang kaliii!
Mau dirias juga, tetep aja nggak bakal ada cowok ngelirik.
Giliran muka,pas-pasan! Berat badan, kelebihan!Ah, palingan itu cowok bayaran, mau jalan sama ibu-ibu gendut begitu. Eh, bukan ibu-ibu? Mukanya boros banget ya!

 Hingga suatu hari, aku bertemu denganmu. Kamu yang dengan senyum simpatik, menghampiriku di sebuah kafe, saat aku sibuk mengetik proposal tugas akhir yang akan dikumpulkan bulan depan.

Singkat kata, kita berkenalan. Kencan pertama kurasakan juga, bersama dengan ciuman pertama, di bawah taburan bintang, di atas sebuah bukit dengan cuaca sore yang sejuk.

Kau melimpahiku hadiah-hadiah manis. Boneka beruang merah jambu, kalung perak inisial namaku, hingga bunga mawar yang setiap pagi kau antarkan padaku bersama sebungkus nasi kuning hangat.

Kututup telinga, kala teman-teman mulai curiga. Tak kuhiraukan peringatan dari orang-orang tersayang. Bagiku, ini adalah berkah dari kesabaranku, emas dari diamku.

Namun, tabir pun terkuak perlahan. Kau mulai berubah …

Apakah ini warna aslimu?
Mengumpatku tatkala aku lama membalas pesanmu.
Memarahiku saat aku tidak berhasil mengangkat teleponmu.
Melarangku bergaul dengan teman-temanku.
Mencemburui para lelaki di kelasku, bahkan saat hanya kerja kelompok biasa.

Aku bingung. Aku tak ingin berprasangka. Hingga akhirnya…

Kau mengajakku pergi berlibur. Sebagai permohonan maaf telah membuatku tak nyaman. Turut merayakan disetujuinya proposal tugas akhirku.

Dan, aku pun menerima tanpa curiga.

Kau marah padaku, aku diam
Kau maki diriku, aku diam
Kau ludahi aku, aku diam
Kau usir diriku, aku diam

****

Kau bawa aku lari jauh dan jauh, ke kota asalmu, di ujung barat pulau Jawa. Kau kuras habis harta yang kupunya. Kau renggut mahkota yang kujaga untuk suamikku kelak. Kau ancam akan membunuhku, jika aku berani menghubungi siapapun atau berniat melarikan diri.

Terlebih lagi, kau paksa aku melakukan kejahatan. Memalsukan ijazah demi lancarnya tipu muslihatmu memperoleh pekerjaan.

Aku pun masih tak bergeming. Aku tetap tak bersuara. Meskipun hatiku telah menjerit. Meskipun logika menggebrak di kepala. Aku terlalu takut. Diam menjadi jawabku. Diam menjadi pilihanku.

Di malam hari, aku menangis tanpa suara. Membayangkan keluarga dan teman-temanku, apakah mereka cemas padaku.  Sampai kapan aku akan bertahan? Akankah aku bertahan dengan nyawa masih melekat?

Nyawa lo itu ada di tangan gue, jangan macem-macem!
Alah, lo pikir gue beneran cinta sama lo? Gorila gendut berlipstik aja lebih cakep dari lo!
Cih! Bikin kopi aja nggak becus, mana bisa lo lulus sarjana!
Sekali lagi lo lelet jalannya, gue dorong lo ke depan truk yang lewat itu!
Asal lo tahu ya, kakak gue pernah dipenjara karena membunuh dan memperkosa. Jadi, gampang aja gue ilangin lo dengan modusnya dia, biar dia yang nanggung hukumannya!
Ngapain lo sujud sampe keringetan? Tuhan itu lebih sayang gue daripada lo, tauk!
Aku hanya dapat bercerita dalam doa. Memohon ampun atas kebodohanku. Semoga ada kesempatan untuk lari dari neraka ini.


Kau tunjuk mukaku, aku diam
Kau hina diriku, aku diam
Kau jambak rambutku, aku diam
Kau paksa ku berbuat ‘ku tak diam
****

Tiga bulan telah berlalu. Tubuhku mengurus, wajahku semakin kuyu. Aku merasa seperti seonggok sampah. Hanya sedikit iman yang menyelamatkanku dari usaha menghabisi nyawaku sendiri.

Siang itu, perutku keroncongan. Kuputuskan untuk memasak mie instan yang kucuri diam-diam dari mini market kemarin. Baru saja mie kucemplungkan ke air mendidih. Petaka itu datang.

Seseorang dengan bau yang begitu kukenal. Menyergapku, melakukan hal bejat yang begitu mengerikan. Aku ingin berteriak, namun sebuah tangan besar membekap mulutku.

Aku meronta, aku mencoba bertahan. Aku sadar, perbedaan kekuatan akan membuat perlawananku sia-sia. Sampai entah dari mana, sebuah kekuatan tak terduga datang.

Tanganku mengambil panci di atas kompor dengan sigap. Menyiramkan isinya ke lelaki biadab di belakangku. Sebuah teriakan pilu memecah keheningan. Sejurus kemudian, kuhantamkan panci panas itu ke kepala kekasih kejamku yang sedang terhuyung kesakitan. Satu kali, dua kali, entah berapa kali kuhantamkan, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri terbaring di lantai dapur yang kusam itu.

Semua bagaikan mimpi yang berlalu begitu cepat. Langkah-langkah berani membawaku pergi dari rumah laknat itu. Sebuah kantor polisi menjadi tujuanku. Akan kutuntaskan lingkaran setan ini dan kembali meraih kebahagiaanku.


Sabarku pasti terbatas
Apalagi menyangkut yang ini
Kupuja kau karena kau mampu bertahan
Karena kutahu semua tenyata tidak
****

#nowplaying Diam – Potret (1998)

#Lagu90anBercerita #ODOPfor99days #day107

Gambar dari sini

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “#Lagu90anBercerita : Diam jadi Ampas

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s