#Lagu90anBercerita : Pesona Luna

53425675-vibrant-seductive-female-lips

Bibir berbalut lipstik warna merah anggur itu menyunggingkan senyuman maut. Senyuman yang tak pernah gagal membuatku bertekuk lutut. Suara renyahnya menggodaku. “Apa kabar kamu, Ta?” tanyanya sambil menyibakkan rambut ikal sebahunya.

“Kamu masih saja super serius, nggak berubah!” serunya sambil menyesap kopi krim vanila favoritnya. Aku hanya tersenyum kikuk.

Tangannya mulai menyentuh tanganku. Awalnya menyenggol seperti tak disengaja. Lama kelamaan, ia berani mengambil tanganku dan menggenggamnya.

“Aku kangen kamu, Ta. Cuma kamu, laki-laki yang tulus baik kepadaku,” ujarnya dengan nada sendu. Anganku melayang. Mengingat perjumpaan perdana kami di sebuah bimbingan belajar terkemuka di kawasan Tebet.

****

“Luna, karena aku lahir saat bulan purnama,” begitu ucapmu sambil menjabat erat tanganku. Semerbak parfum aroma bunga musim semi menggelitik indera penciumanku. “Data, karena Ibu melahirkanku saat Ayah ujian statistika,” gurauku, berusaha memancing keluarnya tawa renyahmu.

“Wah, pantesan kamu jago Matematika!” pujianmu membuat jantungku berdegup kencang. Kuiyakan permintaanmu untuk menyalin jawaban dari buku kumpulan soal, setiap kita berjumpa.

Hingga takdir membawamu duduk di depanku saat ujian masuk perguruan tinggi. Dengan kedipan mata dan lenggok tubuhmu yang sensual, kedua lembar jawaban kita jatuh bersamaan. Sekejap saja, kertasmu di mejaku dan kertasku di mejamu. Kuisi kembali lembar jawaban, yang masih kuingat jelas jawabannya, karena telah selesai kutuliskan di kertas yang bertukar pemilik itu.

 

Memang jodoh, kita kembali berkuliah di tempat yang sama. Aku dapat kembali bercengkrama denganmu.

“Kamu nggak punya pacar, Ta? Mesraannya sama komputer terus, nggak bosen?” celetukmu sambil menyibak poni, begitu menggemaskan.

“Ummm.. Belum ada rencana pacaran, Lun. Nanti saja kalau sudah lulus dan kerja,” sahutku cepat. Kegugupan menjalari sekujur tubuhku. Aku ingin kamu yang jadi pacarku. Lidahku terlalu kelu untuk mengatakannya.

Sepak terjangmu semakin melegenda di kampus. Jarang masuk kelas, tugas-tugas didelegasikan kepadaku, dan ujian seadanya. Herannya, kamu mampu mencetak nilai yang cukup baik. Bisik-bisik pun semakin santer terdengar.

“Kok lo mau sih dimanfaatin cewek berbisa itu?” Rio, teman sekelasku, menahan geramnya. “Udah banyak yang liat, dia kasih servis ekstra ke dosen-dosen dan asdos cowok,” lapor Erna, yang kerap mempertanyakan bagaimana Luna bisa memperoleh nilai yang sama dengan usaha yang jauh di bawahnya.

Aku hanya tersenyum simpul sambil meminta mereka berhenti berprasangka buruk. Padahal, jauh di dala, ada lubang yang perlahan menganga. Aku pernah melihat Luna dan Pak Boris, salah satu dosen killer, berangkulan mesra memasuki hotel di kawasan Menteng. Di waktu lain, Luna menerima telepon dari Pak Ridwan, sang dosen wali, sampai berjam-jam. Mengobrol mesra, tertawa cekikikan, nada manja nan sensual. Semua ia lakukan di depanku. Tanpa merasa risih, apalagi malu.

Hingga di semester 6, Luna mengundurkan diri dari kampus. Ia pindah ke Surabaya. Kabarnya, ada janin menghuni perutnya dan ia tak tahu siapa ayahnya.

Lima tahun kemudian, wajahnya terpampang di berbagai media. Sebagai istri muda seorang pejabat teras, yang bersitegang dengan istri tua dan anak-anaknya, berebut warisan sang pejabat yang meninggal mendadak di sebuah hotel, kala berasyik masyuk dengan wanita idaman lain.

Sejak sensasi itu, Luna semakin naik daun. Ia disebut sebagai salah satu sosialita muda yang gemar arisan di klab malam terkemuka. Infotainmen tak pernah bosan menampilkannya.

Diam-diam, aku masih mengaguminya. Menyimpan harapan yang sama. Menjadikannya kekasih hati. Meskipun harus siap menelan beribu perih.

Harum wangi tubuh
Tebar aroma beratus bunga mawar
Itu palsu, itu topeng

****

“Data, Data. Mana cowok bimbel baik hati yang gue sayang 15 tahun yang lalu? Yang selalu ada buat gue? Yang nggak pernah marahin gue walaupun gue bandelnya kelewatan?” godanya sewaktu tiba-tiba meneleponku di kantor dua minggu lalu.

“Ayolah, kita ngopi sebentar aja. Itung-itung nostalgia. Aku kan pengen ditraktir sama bos IT yang situsnya paling hits di Indonesia,” bujuk rayunya tampak sayang untuk dilewatkan.

Hati-hati di jalan nanti pulang lembur ya, Sayang. Ingat makan malamnya tepat waktu, nanti maagmu kambuh. Love you…

Pesan yang membuat hatiku makin tidak karuan rasanya. Sambil mencoba mencubit pipiku. Benarkah ini bukan mimpi?

Jarak kami berdua semakin dekat. Di akhir pertemuan, Luna memelukku erat. Sambil berbisik lembut di telingaku. “Aku tahu, kamu selalu bisa aku andalkan, Data.” Tiga jam perbincangan yang harus disudahi karena waktu telah lewat tengah malam.

Aku tak berani berharap. Membayangkan apa yang akan terjadi di pertemuan selanjutnya, desiran hati dan pergolakan batin. Di balik api yang kembali membara.
****

“Selamat malam, Pak. Bisa keluar sebentar? Ini pemeriksaan rutin saja,” sahut petugas berseragam dengan tegas saat menepikan mobilku di kawasan Thamrin. “Silakan, Pak,” aku perbolehkan mereka melakukan tugas.

“Bapak Data Variandi? Bisa jelaskan barang apa ini dan darimana Bapak dapatkan?” tanyanya sambil mengacungkan bungkusan berisi bubuk putih yang tampak asing bagiku. Aku kebingungan, tak pernah aku melihatnya.

“Kami menemukan ini di tas laptop Bapak. Bapak tahu ini apa?” tanya sang petugas kembali, kali ini nadanya semakin tinggi.

Tubuhku kaku seketika. Apakah benar….

Sang putri bulan purnama berhasil menarikku ke jurang yang begitu dalam. Sepatutnya aku memercayai berita yang dikirimkan Rio kemarin siang ke surelku. Tentang sebuah gosip, Luna menjadi simpanan seorang gembong narkotika terbesar di Asia Tenggara.

Tiba-tiba aku begitu rindu kepada pengirim pesan yang penuh perhatian itu.

“Selamat malam, ini dengan istri dari Bapak Data Variandi? Mohon maaf, Bu. Bapak Data Variandi kami tahan sehubungan dengan penemuan narkoba dalam razia malam ini. Mohon datang ke kantor untuk kelanjutan perkara,” sayup-sayup kudengar ada yang menelepon istriku. Istri yang seharusnya kucintai dengan tulus. Istri yang sepatutnya tidak kubohongi, demi pertemuan terlarang.

Benar saja, ia bukan bidadari jelita yang patut kupuja. Luna Amara hanyalah seorang wanita manipulatif, yang berhasil membodohiku belasan tahun lamanya.

Aku tertipu, dia
Memikatku tanpa beri aku kesempatan
‘Tuk berdalih dan coba berpikir
Renggut apapun
Semua keringat, air mata dan hatiku

****

#nowplaying Tertipu – Nugie (1995)

#Lagu90anBercerita #ODOPfor99days #day105

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s