#Lagu90anBercerita : XX+XY

“Ngapain kamu cemong begitu? Kayak pantes aja!” ledek Bapak sambil tertawa puas.

“Mukamu itu muka laki. Pake lipstik, malah jadi bencong Taman Lawang, tahu nggak!” lanjutnya santai sembari menghembuskan asap rokok garpitnya.

Sebuah kenangan pilu. Begitu membekas, begitu dalam menorehkan luka.

Teganya, Bapak tak pernah memujiku kala aku mencoba bersikap sesuai kodratku. Menjadi seorang wanita.

Konon, Bapak menginginkan aku, anak kelimanya, lahir sebagai laki-laki. Ia bosan mendapatkan empat puteri.

“Huh, berarti Bapak harus ngongkos kawinan sekali lagi!” dengusnya sebal. Begitu dangkal pemikirannya.

Disematkannya nama lelaki di nama depanku. Budi. Untunglah, Ibu memberikan Pancawati sesudahnya. Kalau tidak, banyak orang akan mengkerutkan dahi berlipat-lipat, melihat Budi yang memakai rok sekolah.

Bapak bersikeras memanggilku Budi, sementara Ibu ingin aku disebut sebagai Wati. Kuambil jalan tengah. Panggil aku Panca.

****

“Ca, orang itu ngeliatin kamu terus, tuh!” seru Reni, sahabatku. Kami sedang mengerjakan tugas di kantin kampus. Statistik, begitu menguras otakku. Aku lebih suka menjepretkan kamera DSLRku lalu menghabiskan waktu semalaman mengeditnya menjadi sebuah mahakarya.

“Yang mana, Ren?” tukasku ikut penasaran. “Itu, yang pakai baju warna-warni,” jelas Reni sambil menunjuk ke seorang pria kurus tinggi, dengan baju longgar motif tie-dye.

Waduh, anak Seni Rupa. Jantungku berdegup kencang. Tiba-tiba ia melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku membalas dengan kikuk. Pertama kalinya ada seorang lawan jenis melakukan ini padaku.

Lelaki itu bangkit dari tempat duduknya. Menghampiriku dengan langkahnya yang tak biasa. Sedikit gemulai, namun penuh percaya diri.

“Hai, gue Nanda. Boleh kenalan?” ucapnya dengan suara yang begitu ringan. Senyum itu semakin membelengguku.

“Ada apa ya, tahu-tahu mau kenalan sama saya?” tanyaku curiga, menyembunyikan gelitik aneh di perutku.

“Soalnya, kalo gue mau ngajak cewek jalan, gue harus tahu namanya dulu, dong,” ucapnya santai.

DEGGGG!!

Nampaknya aku jatuh hati dengannya. Pertama, ia langsung tahu kalau aku seorang perempuan. Di balik jaket bertudung longgar, celana olahraga, dan rambut cepak. Kedua, kencan pertamaku ternyata ditakdirkan terjadi dengan cowok unik ini.

“Aku Panca,” sahutku sambil menjabat tangannya. “Aku tidak suka bunga mawar, cokelat hati, dan warna pink,” lanjutku sambil tersenyum simpul.

Ia pun tergelak.

“Tenang aja. Memperlakukan seorang wanita dengan tepat bukan diukur dari ketiga hal tadi,” katanya mantap. “Lagipula, besok itu Hari Kesaktian Pancasila, bukan Valentine’s Day,” sambungnya sambil terkekeh.

Hari itu, aku mengenal sebuah rasa baru. Rasa yang membuka sebuah dunia baru untukku. Dunia yang membuatku menjadi wanita seutuhnya.

****

Isakku semakin kencang. Ternyata, dunia maya lebih kejam daripada Bapak.

Aku tahu, inilah risiko berpacaran dengan seorang pesohor. Sejak Nanda memenangkan kontes presenter di sebuah saluran musik ternama, ia sekejap menjadi idola. Tak cuma itu, tak sedikit pula yang membencinya, iri dengki padanya.

Seseorang mengambil fotoku dan Nanda sedang berlibur di Bali. Mengunggahnya di Instagram. Sambil menambahkan kutipan : Kiamat sudah dekat. Yang cowok kaya cewek, yang cewek kaya cowok. Dunia serasa milik berdua. Iyalah! Soalnya yang lain pada ngumpet, muak liat kemesraan pasangan menyimpang kaya kalian!

Plus sederet hashtag yang membuatku makin tak berdaya. #tolakLGBT #IndonesiaBebasLGBT dan semacamnya.

Astaga, aku.sangat yakin, orientasi seksualku dan Nanda masih sangat normal. Apa hak mereka menghakimi kami seperti ini? Hanya menilai kulit luar kami, yang tidak seperti kaum kebanyakan.

Sedu sedanku memecah malam. Nanda hanya diam di sampingku. Memelukku erat. Ia mengerti, hanya rengkuhan ini yang menguatkanku.

I’ll stand by you, I’ll stand by you

Won’t let nobody hurt you

I’ll stand by you

Baby, even to your darkest hour

And I’ll never desert you

I’ll stand by you
****

“Saya terima nikahnya Budi Pancawati binti Sukardi dengan mas kawin tersebut di atas dibayar tunai!”

Kalimat yang diselesaikan sempurna oleh Nanda.

Sah sudah kami menuntaskan satu bab dalam hubungan enam tahun terakhir. Kini, waktunya kami memulai lembaran baru.

Aku tak peduli bagi mereka yang menghujat, mencela, atau memandang kami sebelah mata.

Cukuplah aku yang tahu. Suamiku yang terlihat gemulai dalam balutan busana warna warni, tak diragukan kejantanannya.

Ia tanggung semua biaya pernikahan ini. Ia raih restu keluargaku tanpa susah payah.

Demi Nanda, aku luluh. Aku mau mengenakan kebaya putih nan cantik, di hari istimewa ini.

Dan…aku akan memberitahunya di malam pertama kami. Bahwa ia akan menjadi seorang Ayah 35 minggu yang akan datang.

#nowplaying 
I’ll Stand By You – The Pretenders (1994)

#Lagu90anBercerita #ODOPfor99days #day104

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s