#Lagu90anBercerita : Harga Sebuah Kebebasan

red-hand-veiled

Aku terpekur.

Tiga lembar sudah selesai. Sembilan puluh tujuh lembar sisanya telah menunggu.

Teh manis panas yang tadi dibuatkan oleh Bi Jum sudah menjadi dingin. Sedingin udara tengah malam. Empat jam menuju adzan Subuh. Bisakah aku menyelesaikan semuanya tepat waktu?

Dalam hati, aku merutuki kebodohanku. Mengapa aku bisa membuat kesalahan kecil dalam menghitung integral di soal nomor 7 ? Nilaiku pun meleset tiga poin dari angka sempurna. Haruslah kutebus keteledoran konyol itu dengan seratus lembar soal tentang integral yang dikopi oleh Papa.

“Masa soal mudah seperti ini saja bisa salah, Sinar???!! Bagaimana kamu bisa tembus kuliah di Kedokteran UI? Bagaimana nanti kamu kalau menjadi dokter bedah? Meleset satu milimeter, melayang nyawa pasienmu!”

Sudah kenyang aku  mendengar kalimat-kalimat itu. Anak perempuan wajib menjadi dokter. Anak lelaki harus menjadi insinyur. Bekerja dengan gaji minimal 25 juta rupiah sebulan.

Ya, itulah keluargaku. Hidup kami sudah ditentukan sejak tangisan pertama kami sekeluarnya dari rahim. Rentetan jadwal kegiatan terintegrasi. Rencana dan cita-cita harus ditulis sebelum kami menginjak Sekolah Dasar. Dengan rinci, dengan ukuran besar untuk ditempel di sekeliling rumah.

Rencana dan cita-cita Papa dan Mama, tepatnya. Bukan suara hati kami yang kerap menjerit.

Keempat kakakku telah berhasil memenuhi kualifikasi yang dicanangkan oleh orang tuaku. Tinggal aku seorang diri. Berjuang dengan rambut yang semakin hari bertambah rontok. Untunglah hijabku dapat menutupi semua kehilangan mahkota kepalaku itu. Rasanya, tahun depan uban dan keriput akan menghuni kepala serta wajahku.

Aku menghela nafas. Sangat panjang. Lelah. Penat.

Sembilan bulan lagi. Bertahanlah sedikit lagi, Sinar. Mungkin hal-hal akan berubah di bangku kuliah. Ah, pusing sekali kepalaku.

Aku beranjak ke meja rias. Membuka laci, mengambil satu strip obat sakit kepala. Kutenggak tablet putih itu. Kemudian merebahkan badanku sejenak di kasur. Memejamkan mata, mengatur nafas.

Aku ingin bebas …..

****

“Saya ingin memperisteri Sinar, Pak. Biarlah nanti Sinar kuliah di London bersama saya. Ia bisa mencari beasiswa, saya akan bantu.”

Sorot mata tajam itu menunjukkan keteguhan hati. Rasa hangat menyelinap di dalam hatiku. Baru kali ini aku merasa istimewa. Diperjuangkan begitu rupa.

Aku baru bertemu Mas Handi sebulan lalu. Ketika aku mendaftarkan diri untuk ujian masuk Kedokteran UI. Ia baru saja menuntaskan studi magisternya. Tak sengaja, aku menemukan dompetnya yang terjatuh. Berlari kecil mencarinya yang menghilang dengan cepat di kerumunan. Untunglah, nasib baik berpihak padaku.

Kejujuranku membuatnya jatuh hati. Serta mata coklatkku yang teduh, akunya sambil tersipu.

Di hari itu, ia terus mencari petunjuk dalam sujudnya, dalam dialognya dengan Sang Pencipta. Lima kali shalat wajib dan serangkaian shalat sunnah. Dalam setiap doanya, namaku disebut.

Hingga sore ini ia memberanikan diri, menyatakan niatnya untuk meminangku.

Papa dan Mama luluh. Untuk pertama kalinya, mereka bertanya kepadaku. Akulah yang diberi kesempatan, untuk mengiyakan atau sebaliknya.

Kuanggukkan kepalaku dalam-dalam. Selamat datang kebebasan. Selamat datang amanah baru.

Kusenang, kusenang, kutelah bebas
Kusenang, kusenang, dunia ini indah

****

Kugenggam erat tangan suamiku. Sebentar lagi kita akan tiba di perantauan. Satu kali transit lagi. Senyum kami berdua mengembang. Pelukan itu semakin erat, erat, erat.

Hingga suara menggelegar itu begitu memekakkan telinga. Kurasakan tubuh Mas Handi menindihku. Aku sesak. Ia sedang berusaha melindungiku.

Sayup-sayup kudengar teriakan menggema dari seluruh penjuru. Dua kata yang kuingat.

“BOMB! HELP!”

Sesuatu mengalir deras membasahi wajahku. Merah, rasanya pahit. Sebuah wajah penuh luka menatapku. Ia tersenyum. Damai walau tertutup jelaga pekat.

Kurasakan lagi sakit kepala seperti waktu mengerjakan seratus lembar soal integral. Namun, kali ini, aku berharap, aku tak ingin terbangun lagi. Kuingin sakit kepala ini lenyap, bersama jiwaku yang terberai, bersama masa depanku yang hancur seketika.

Inikah harga dari kebebasanku?

Tak seberapa lama
Kemudian ia terkejut mendapatkan (bahwa)
Dunia yang sebenarnya tak seramah yang dia bayangkan

****


#nowplaying Kebebasan – Singiku (1996)

#Lagu90anBercerita #ODOPfor99days #day103

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s