Sakuragi yang Tidak Merugi

Di sela-sela kerempongan yang hobi banget nemplok di gue, mamah acakadul dengan manajemen waktu amburadul (sigh!), selalu ada ruang untuk nostalgia.

Mengobrak-abrik koleksi lama, jadilah bulan ini, gue baca ulang koleksi komik Slam Dunk yang mulai terlupakan. Sepertinya, gue sendiri butuh (banyak) suntikan semangat untuk menuntaskan tumpukan rencana yang perlu segera dieksekusi.

Dari sekian banyak hal seru yang gue temuin di 31 volume komik ini, ada 2 hal yang jadi favorit gue.

Satu, Akira Sendoh yang begitu menawan buat fangirl seperti gue. (Sori, Rukawa. Cowok jarang senyum dengan rambut belah tengah, bukan tipe gue hahaha)

Dua, Hanamichi Sakuragi yang pantang menyerah dan memberi kejutan dengan semangat juangnya yang membara.

Hal kedua yang membuat gue terpekur dan merenung.

image

Tidak selamanya awam akan tetap awam.

Merujuk pada pengalaman gue sebagai ibu, sudah kurang lebih 3,5 tahun berjalan, gue jadi mengibaratkan diri sebagai Sakuragi. Tanpa tubuh tinggi besar dan rambut merah menyala, tentunya.

Yah, ada beberapa karakter Sakuragi yang tercermin di diri gue. Panasan, suka bertindak ngasal, suka bangga nggak kira-kira ketika berhasil menguasai satu hal kecil (yang sepele padahal haha), nyemangatin orang dengan cara yang nggak biasa, dan pastinya, benci untuk kalah tanpa berjuang.

Menjalani hari-hari sebagai emak dua jagoan, adakalanya bikin gue pusing juga. Alasannya, karena belum nemu cara dan celah untuk menguasai “teknik”. Sulit mencetak angka di ring yang menjulang tinggi.

Ternyata, parenting juga sama kaya basket. It is not a one-man-show. Ada temen-temen seperjuangan di lapangan. Temen-temen yang harus kita percaya, untuk mengantarkan kita ke pertambahan poin demi poin.

Kita nggak bisa jadi pemenang, kalo cuma bawa bola sendiri. Kita nggak bisa jadi pemenang, kalo nggak yakin sama temen-temen setim.

Inilah yang juga dipelajari Sakuragi dan membuatnya mendapatkan kamerad-kamerad luar biasa, yang sampai mampu membangkitkan potensi dirinya, melebihi bayangan terliarnya sekalipun.

Sebuah langkah yang harus gue contoh. Memercayai orang-orang dalam perjalanan parenting gue. Mau nyenengin, nyebelin, ngedukung, nyinyirin.

Because they are here for a reason.

To show me the beauty of motherhood, in this twisted and crazy world we’re living in.

Gue harus percaya.
Walaupun bola yang gue tembak, mungkin nggak masuk sasaran. Siaplah di bawah ring, menangkap pentalan bola, dan mencetaknya menjadi angka.

Walaupun di perjalanan awalnya, Sakuragi gagal menjadi juara Interhigh dan harus melewati rehab untuk pemulihan cedera punggungnya, ia nggak berpaling dari basket.

Mengapa? Karena dari basket, ia menemukan the ultimate happiness. Membuatnya selalu semangat, menyalakan harapan untuk mengejar mimpi.

Basket tidak membuatnya merugi. Setiap hari, Sakuragi menapak langkah demi langkah menjadi lebih baik. Tidak hanya di lapangan atau pertandingan. namun juga dalam kehidupan.

Begitu pula dengan perjalanan menjadi orang tua, meskipun aral melintang sana sini, bertemu dengan perbedaan paham dan pandangan. Niat dan usaha baik kita untuk membahagiakan anak, semoga diganjar dengan kebahagiaan dunia dan akhirat kelak.

Anak-anak adalah alasan kita tetap berdiri, berani bermimpi, dan sekuat tenaga memperbaiki diri.

image

In life, you need to keep on bouncing, because the game is still on, until the final whistle is blown.

Gambar dari myanimelist.net

Advertisements

3 thoughts on “Sakuragi yang Tidak Merugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s