Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.32

image

“Tega.. tega sekali…”, ucap Tante Tiya. Suaranya tercekat.

“Tega sekali, kalo Tante merampas kebahagiaan Aria hanya karena ego Tante seorang,” lanjutan kalimat Tante Tiya benar-benar melegakan gue.

“Semalam, Tante ceritakan semua ini sama Aria. Dia syok, itu pasti. Tapi… Tante nggak sangka, kalo baginya hanya Tantelah sosok ibu yang ada di hatinya sekarang. Meskipun sekarang ada dua sosok lain yang menambah isi doanya nanti. Orang tua kandungnya,” ucap Tante Tiya, sama leganya dengan gue.

“Jadi, kamu nggak usah pake kepikiran sampai pingsan lagi, ya. Minggu depan, abis Tante keluar, nanti Tante ajak ke salon langganan Tante. Biar kamu perawatan dulu. Penganten itu kudu kinclong dan manglingi,” sahut Tante Tiya sambil tersenyum semanis gula tiga karung.

Jadi, semuanya menang! Jerit gue dalam hati. MiniDani naik ke podium dan memamerkan medali emas yang dikalunginya.

Gue nggak bisa nyembunyiin seringai aneh dari muka gue.

“Makasih, Tante!” seru gue sambil meluk Tante Tiya kenceng banget. Ya ampun, semoga dia nggak semamput di sini! Pikir gue setelah sadar dari euforia yang membuat gue bereaksi lebayatun. Untung aja, gue belom sempet ajak Tante Tiya nari-nari di taman macem film India dengan lagu ala-ala Sound of Music. Yang ada, gue dipindah masuk RSJ Riau 11, deh!

“Tante, nanti kalo udah pulang, lihat rumah baru Aria, ya! Nggak gede, sih. Tapi, nyaman kok buat kita ngeteh sore-sore,” ajak gue gembira.

Tante Tiya mengangguk setuju. Rupanya, begini rasanya gencatan senjata. Damai, bebas, plong.

Gue tahu, bukan berarti gue dan Tante Tiya nanti aman seratus persen dari perbedaan pendapat atau konflik. Setidaknya, kalo tiba-tiba rasa kesal itu muncul dengan godaan amarah, gue punya alasan untuk berkata tidak dan menolak pertikaian kekanak-kanakan menguasai gue.

———–

Hari pernikahan gue tiba.

Saat gue mendapatkan gelar baru sebagai Nyonya Aria. Tiga jam berdiri di pelaminan, menyalami ratusan tamu dengan senyum yang non stop terpasang di wajah penuh riasan ini. Gue memandang Papah dan Tante Tiya, eh, Ibu.

Gue dan Aria memutuskan untuk menggabungkan Papah dan Tante Tiya di pelaminan, tanpa ditemani orang lain untuk menggantikan pasangan-pasangan mereka. Awalnya, mereka tampak kikuk. Namun, tak lama, keduanya hanyut dalam suasana bahagia, menerima ucapan selamat dari rombongan tamu yang hadir.

Aria menatap gue sambil tersenyum penuh arti.

Kemudian dia berbisik lembut.

“Kita akan lalui ini semua sama-sama.”

Entah kenapa, teringat samar-samar masa kecil gue. Ketika gue bertanya pada Mamah, apa yang membuat Mamah begitu sayang sama gue dan Rio.

“Mamah sayang kalian, ya, karena beneran sayang. Nggak ada syarat apa-apa, Dani.”

“Kenapa begitu, Mah?” tanya gue polos.

“Karena hanya dengan cinta tak bersyarat lah, semua ketentuan nggak bisa membatasi atau membelenggu kita. Segala kesulitan akan dilancarkan. Perbedaan apapun dapat diterima dan dilalui,” terbayang wajah lembut Mamah mengutarakan sesuatu yang akan gue pegang di bab baru kehidupan gue ini.

Dan…hadirnya Ibu akan memberikan pelajaran-pelajaran baru bagi gue nantinya. Walaupun cara penyampaiannya nggak sama, tentu aja.

Seusai acara, Ibu menghampiri gue yang sedang berganti pakaian, sebelum bersiap menginap di hotel.

“Dani, jangan lupa nanti malam dipake ya gaun tidur satin dari Tante. Biar Tante cepet nimang cucu,” perintah Ibu dengan nada bercanda.

Gue hanya meringis malu. Ibu sudah memulai pelajarannya.

Semoga Ibu nggak ikut nyewa kamar di samping kamar hotel kita nanti malem dan ngetok-ngetok buat mastiiin malam pertama beneran berlangsung.

MiniDani siap melempar buket bunga, sambil berteriak, “Siap kawiiiinnn!”

——

“Dani, Rio, menurut kalian, kalo Papah lamar Ibu Tiya, gimana? Sah sah aja ya, kan bukan ibu kandungnya Aria,” sebuah ide gila terlempar dari mulut Papah.

“PAPAAAAHHHH!!!” jerit gue dan Rio histeris, melebihi histerisnya pemeran film Suster Ketombean Keramas.

Papah pun hanya mengerling genit. Entah apa ucapannya hanya bercanda atau keinginan terpendam.

-te a em a te-

#ODOPfor99days #day99

Gambar dari sini

Advertisements

7 thoughts on “Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.32

  1. Hooraaayyy akhirnya tamat Teeeh Windaa.. saya ngikutin tiap hari lho, hehe.. pas banget di 99days tamatnya ya. Suka sukaa.. wlopun odop sudah finish, lanjutin ya teh kalo bikin2 cerbung, hihi

    • Teh Monik!
      Iya lega banget, kelar juga akhirnya haha. Emanh dipas-in buat tamat di hari ke-99 niiih. #settinganpisan

      Serial cerbung baru, tungguin yaaa. Masih ngegodok idenya bareng mie sedap kari spesial hahaiii.

      Semoga kita masih terus nulis setelah tantangan warbiyasah warangkasyah ini yaaa 🙂

    • Halooo salam kenal Pradita! (panggilannya siapa ya?)

      Makasih ya udah jadi pembaca setia, semoga bisa terus menghibur hehe.

      *jadi nggak enak blom main ke blognya* 😳😳

      • Panggil Dita saja, Kakak…
        Salam kenal juga. Aku Dita, anak Jember. Penggemar setia cerbung Mantu vs Kanjeng Ratu😁😁😁 Sehari gak baca update terbaru, rasanya ada yang kurang. Wkwkwk. Sayang udah habis nih cerita.

  2. Lanjutiinnnnnn…..
    Encore.. encore.. encore..
    Gak rela ini serial tamat…
    Baru kenal kmu bbrp bulan.. tp rasanya aku telah mengenalmu dr dlu win..
    #gubraakkkk

    Congrats yaa….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s