Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.31

mantu-31

Pagi itu gue menerima kunjungan dokter. Hasil pemeriksaan darah gue menyatakan kalo kadar Hb gue berada di bawah angka normal. Selebihnya, selain tekanan darah gue yang rendah, tidak ada hal lain yang menunjukkan kalo kesehatan gue terganggu.

Istirahat cukup, makan teratur dengan gizi seimbang, dan hindari stres; begitu pesan dokter. Lebih baik lagi kalo gue berolahraga rutin. Setelah puluhan anggukan dan kata”ya ya” menanggapi anjuran dokter, gue pun memutuskan untuk melakukan hal yang sejak semalam terpikirkan. Menuntaskan segala pertempuran yang sesungguhnya menjadi biang menurunnya kesehatan gue.

Bicara hati ke hati dengan Tante Tiya. Dengan baik-baik. Dengan kepala dingin dan hati yang hangat.

Namun, gue nggak ingin bicara didampingi Aria atau siapapun itu. Jadi, dengan mata memelas berkaca-kaca ala Puss in Boots-nya Shrek, gue minta Papah untuk membawa Tante Tiya ke taman rumah sakit. Nanti, gue akan bicara di sana. Diiringi kesejukan, semilir angin, dan iringan kecapi suling. Semoga setelahnya, kami nggak kebawa suasana dan mencari pelaminan buat salaman dengan mempelai.

Gue menanggalkan piyama dan berganti pakaian. Celana jogger biru tua dengan jaket bertudung berwarna senada, menutupi selembar kaos merah yang sudah cukup belel akibat terlalu sering dipakai. Sandal jepit merah melapisi kaki, yang segera berderap pergi meninggalkan ruangan rawat.

Lima belas menit berlalu dan gue sudah duduk di bangku taman. Sekotak susu coklat gue sedot perlahan, sambil menunggu kedatangan Papah dan Tante Tiya. Berbagai pertanyaan berseliweran di otak gue. Darimana enaknya gue mulai pembicaraan ya? Apalagi selama ini pembicaraan kami nggak pernah mulus. Selalu diwarnai emosi yang meluap.

“Sudah lama nunggunya, Dani?” Sebuah suara membuyarkan lamunan gue. Tante Tiya tampak segar dalam daster batik warna hijau muda. Matanya tak lagi sayu. Yang paling menarik perhatian gue adalah senyumnya. Lepas dan tulus. Seolah beban yang menahannya telah terbang jauh ke angkasa.

Sepertinya ada yang telah terjadi juga semalam di keluarga Aria, MiniDani mencolek gue dan berbisik perlahan.

“Ya sudah, Papah tinggal dulu, ya! Mau ngopi sama cari sarapan sekalian,” ujar Papah sambil mengelus punggung gue. Sembari menjauh, matanya mengedip, seolah mengisyaratkan gue untuk tenang dan semua akan baik-baik saja.

Gue merapatkan duduk ke dekat kursi roda Tante Tiya. Ia memandangku dan mulai meraih tangan gue lalu menggenggamnya.

“Tante, Dani minta maaf. Dani udah banyak nyakitin hati Tante,” ego gue mengalah untuk minta maaf lebih dulu. “Nggak seharusnya Dani ngomong macem-macem tentang Tante dan keluarga Tante. Sama aja Dani nge-judge tanpa telusurin dulu bener apa nggak,” lanjut gue.

Tante Tiya merangkul gue. Ia mulai terisak. “Dani, Tante-lah yang terlalu keras kepala. Memaksakan semua mau Tante ke kamu, ke anak-anak, ke Pak Gilang. Padahal, kalian juga pasti juga punya kemauan sendiri-sendiri,” pengakuan Tante Tiya mengejutkan gue.

“Nggak cuma itu, Dani. Ada sesuatu yang ingin Tante ceritakan. Tentang… Aria,” ucapnya.

DEG!!!

Rasa bersalah menyergap gue. Duh, perlukah gue ngaku kalo gue udah ngmbil foto kenangan itu tanpa izin? Gue mulai meremas celana, menutupi kegugupan yang tiba-tiba hadir.

“Aria itu…bukan anak Tante. Dia anak dari adik kembar Tante, Rahmania. Waktu Aria 10 bulan, Nia dan suaminya berkunjung ke Jakarta dari Balikpapan. Aria tidak ikut karena kurang enak badan. Saat pulang, mereka ketinggalan pesawat karena Tante telat mengantar. Jadi, mereka naik penerbangan susulan dari maskapai lain,” cerita Tante Tiya dengan suara berat.

“Malam itu, Tante melihat beritanya. Pesawat yang ditumpangi Nia, jatuh di laut. Aria jadi yatim piatu,” sedu Tante Tiya. “Seandainya mereka tidak ketinggalan pesawat, Aria nggak akan kehilangan Papa Mama yang begitu menyayanginya. Sejak itu, Tante pun mengadopsi Aria secara resmi. Menggantikan sosok yang meninggalkannya tiba-tiba. Sayang, almarhum Bapak tidak sepenuhnya ikhlas menjadi pengganti Papa Aria,” sesalnya.

“Jujur, Dani. Tante takut kehilangan Aria. Takut ia dikecewakan oleh kamu. Takut dan takut. Mungkin perlakuan suami Tante sendiri yang menyia-nyiakan anak istrinya, yang bikin Tante paranoid seperti ini,” Tante Tiya bergumam sambil menerawang.

Gue eratkan rangkulan pada Tante Tiya. Sungguhlah berat melepaskan satu per satu ganjalan di hati seperti ini.

“Kamu itu, perempuan pertama yang Aria kenalkan kepada Tante. Satu-satunya pacar Aria yang Tante kenal. Begitu istimewanya kamu buat Aria, Dani. Sampai dia mau berjuang untuk membahagiakan kamu,” kalimat yang buat gue adalah sebuah penghargaan besar, keluar dari mulut seorang wanita yang sebelumnya tabu untuk memuji.

Masih terpukau akan semua pengakuan Tante Tiya yang nggak disangka-sangka, gue mulai bicara, dengan hati-hati.

“Maaf, Tante. Dani udah ngambil foto ini tanpa izin,” gue sodorkan foto kecil yang disimpan tersembunyi di dalam brankas. “Dani tahu, ini perbuatan lancang. Sampai Dani punya prasangka buruk tentang Tante,” suara gue bergetar. “Dani ikhlas, kalo Tante marah atau kecewa sama Dani. Kalo Tante anggep Dani nggak pantes jadi pendamping Aria karena ketidakjujuran Dani ini, Dani terima,” ujar gue mantap.

Yah, sebenernya dimantap-mantapin, sih. Gue coba menepis rasa sakit karena muncul bayangan harus berpisah dari Aria, berpisah dari mimpi-mimpi yang coba kita wujudkan bersama.

Tante Tiya tertegun. Diambilnya foto lusuh itu dari tangan gue. Menatap nanar, terluka, dan air mata kembali membasahi pipinya.

“Tega.. tega sekali… “ ucapnya.

-sambunglagidiepisodeterakhir-

#ODOPfor99days #day98

Gambar dari sini

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s