Mantu vs Kanjeng Ratu – Ep.30

image

Udah lama gue nggak ketemu Mamah. Walaupun hanya dalam khayal, bagian dalam lamunan, sebuah bab mimpi kala tertidur.

Kali ini Mamah hadir dengan senyumannya yang sehangat mentari. Matanya yang teduh, menghilangkan semua beban yang membuat penat.

Ia tidak berkata apa-apa. Hanya sepasang tangan yang ia hantarkan, mengelus lembut rambut gue dan mendekap gue erat. Sepintas aroma shampo apel favoritnya tercium, membuai angan.

Gue merasa sangat familiar dengan pengalaman ini. Di alam bawah sadar, terbersit sebuah kenangan. Ini memang nyata gue alami sewaktu kecil dulu. Sebuah memori yang terkunci rapat di peti ingatan.

Pelukan Mamah adalah hal yang paling gue inginkan saat ini. Kepada siapa gue mengungkapkan kegalauan seorang wanita, kalau bukan kepada wanita nomor satu dalam hidup gue?

Karakter gue dan Mamah boleh saja 180 derajat berbeda, bak langit dan bumi. Tapi, darahnya yang mengaliri nadi gue. Berkat pertaruhan nyawanya, gue bisa hidup.

Aroma shampo apel itu datang lagi. Gue berteriak seiring tangannya yang menggandeng tangan gue.

MAMAH!

Gue berpindah kembali ke alam nyata. Kelopak mata gue terbelalak. Kumpulan wajah yang tak asing terlihat mengelilingi gue, yang terbaring di ranjang, dalam ruangan bercat putih dan bau khas disinfektan.

Seseorang menggenggam erat tangan gue. Dengan aroma shampo apel yang menyergap di mimpi tadi.

“Dani, alhamdulillah kamu sadar, Nak!” ia mengucapkan syukur sembari menggulirkan beberapa tetes air mata di pipinya.

Ya, dia. Calon ibu mertua yang selama ini gue anggap titisan diktator kelas dunia. Yang gue buntuti dan curi dengar sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

“Ini…di rumah sakit?” suara serak keluar dari mulut gue.

Papah yang berdiri di dekat meja, segera mengambil segelas air dan membantu gue bangkit untuk meminumnya.

Percikan air benar-benar menyegarkan, menendang dahaga, dan turut mengembalikan gue sempurna ke dunia sebenarnya.

“Ada-ada aja kamu, Dani. Jalan di rumah sakit sampai pingsan begitu. Pasti kamu terlalu capek. Urus kawinan, nemenin Tante, masih kerja juga,” ujar Tante Tiya. “Sudahlah, kamu perlu istirahat total. Makan enak, tidur enak. Biar seger jadi manten,” lanjutnya dengan nada penuh kecemasan.

“Ya sudah, Bu Tiya juga istirahat di kamar lagi. Aria, Nanda, antar ibumu. Biar saya yang jaga Dani,” pinta Papah.

Tante Tiya kembali ke kamarnya yang hanya berselang tiga pintu dari kamar gue, bersama Aria dan Nanda.

Begitu pintu tertutup, Papah memandang gue. Seolah tahu apa yang sesungguhnya terjadi.

“Berapa banyak yang kamu dengar, Dani?” dengan santai Papah langsung menembak.

“Maksud Papah?” tanya gue, gugup maksimal.

“Papah kenal kamu seumur hidup, Ni. Bukan kebetulan kamu ada di balik semak-semak taman. Sejak kapan kamu mendengarkan Papah dan Bu Tiya ngobrol?” naluri wartawan Papah belum menumpul rupanya.

Gue hanya tertunduk. Lesu. Kelu. Bisu.

Papah duduk di sisi tempat tidur. Dengan suara bijaknya, ia berkata, “Terkadang, ada rahasia yang lebih baik tetap tersimpan. Demi hati yang terus utuh. Tidak terpatahkan oleh dendam atau kenangan pahit.”

Pertahanan gue runtuh. Hingga setengah jam berikutnya, gue hanya menangis dan menangis. Penyesalan. Ketakutan. Rasa iba. Berganti-ganti mengisi ruang rasa.

Papah menunggu dengan sabar. Ketika gue udah mulai tenang, Papah kembali berujar.

“Bukalah pintu maafmu, Dani. Supaya berkah langkahmu nanti. Percayalah, hanya gelombang doa yang mampu melunakkan hati sekeras karang.”

“Yang Aria butuhkan saat ini adalah kedua wanita yang paling dicintainya, untuk bisa akur dan selaras membalas cintanya,” ucapan Papah benar-benar menghentak akal sehat gue.

Di luar, gue lihat titik-titik air hujan mulai berjatuhan. Seiring dengan luruhnya kekesalan dan rasa benci yang sebelumnya asyik bergantung di dalam hati.

-sambunglagiesokhari-

#ODOPfor99days #day97

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s